Selasa, 16 Maret 2010

BAB I-III HASIL PENGKAJIAN RSOP SURAKARTA ‘2010.STASE MANAJEMEN



PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BAB I
Rumah Sakit pada masa global saat ini dituntut dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu yang sesuai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi ( IPTEK ) dan itu merupakan harapan masyarakat, oleh karena itu Rumah Sakit dituntut untuk dapat mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan mutu yang telah dicapai. Untuk pelayanan Rumah Sakit yang telah diberikan salah satunya adalah pelayanan keperawatan yang harus dipantau keberadaannya karena pelayanan keperawatan tersebut diberikan selama satu hari penuh. Pantauan ini adalah untuk mendapatkan pelayanan keperawatan yang bermutu sehingga memerlukan pelayanan penglolaan manajemen keperawatan secara baik.
Manajemen merupakan proses pelaksanaan kegiatan organisasi melalui upaya orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen adalah memperkenalkan, merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasikan, dan mengendalikan (Swanburg, 2003). Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana didalam manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Nursalam, 2002). Menurut Siagian (2005) usaha yang sesuai dan sistematis untuk mencapai tujuan bersama disebut manajemen.
Manajemen keperawatan juga dapat diartikan sebagai pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat. Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen kedua yang penting dilaksanakan oleh setiap unit kerja sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan berdayaguna dan juga dapat berhasilguna. Pengorganisasian merupakan pengelompokan yang terdiri dari beberapa aktifitas dengan sasaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan masing-masing kelompoknya untuk melakukan koordinasi yang tepat dengan unit lain secara horisontal dan vertikal untuk mencapai tujuan organisasi, dan sebagai organisasi yang komplek, maka pelayanan keperawatan harus mengorganisasikan aktifitasnya melalui kelompok-kelompok sehingga tujuan pelayanan keperawatan akan tercapai. Selain itu Manajemen keperawatan juga mempunyai ruang lingkup manajemen operasional yang meliputi kegiatan merencanakan, mengatur dan mengarahkan para perawat pelaksana untuk memberikan pelayanan keperawatan yang terbaik kepada pasien khususnya dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu inovasi dalam pendidikan keperawatan dan pengembangan praktik keperawatan merupakan fokus utama. Keperawatan di indonesia saat ini masih berada dalam proses mewujudkan keperawatan sebagai profesi, yaitu suatu proses jangka panjang yang ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai suatu metode perlakuan asuhan keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan keduanya dapat saling menopang. Sebagaimana proses keperawatan, dalam manajemen keperawatan terdiri dari pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Karena manajemen keperawatan mempunyai kekhususan terhadap mayoritas tenaga pada seorang pegawai, maka setiap tahapan di dalam proses manajemen lebih rumit dibandingkan proses keperawatan.
Peran dan fungsi manajemen keperawatan dimasa sekarang masih berorientasi pada senteralisasi, kewenangan dan tanggung jawab yang menjadi desentralisasi dengan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang berfokus pada kegiatan koordinasi yang memungkinkan manajemen keperawatan dapat diaplikasikan dalam tatanan pelayanan secara nyata, salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah kemampuan untuk mengelola (manajemen), baik dalam bidang keperawatan maupun dalam bekerja sama dalam melaksanakan fungsi koordinasi dengan bidang yang lain sebagai bagian dari pelayanan yang teritegrasi. Semua bentuk organisasi keperawatan kesehataan termasuk Rumah Sakit, Rawat Jalan dan Rumah Sakit Pendidikan memerlukan manajemen keperawatan. Oleh karena itu semakin berkembangnya profesi keperawaatan maka perawat harus mengetahui tentang tehnik manajemen serta meningkatkan pengetahuan dan menerapkan teori berbagai penelitian yang dilakukan dalam bidang manajemen kedalam praktik pemberian pelayanan keperawatan yang bermutu dan menyeluruh.
Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus berkembang sebagai suatu tuntutan bagi organisasi pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan keperawatan pada saat ini melibatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku dari para praktisi, klien, keluarga dan dokter. Saat mendefinisikan kualitas keperawatan, perlu diperhitungkan nilai-nilai dasar keyakinan para perawat serta cara mengorganisasikan asuhan keperawatan tersebut. Latar belakang dalam pemberian tugas dalam mutu asuhan yang berorientasi teknik, mungkin akan didefinisikan cukup berbeda dengan keperawatan yang lebih holistik dan ada kemungkinan bahwa metode keperawatan hanya merupakan prosedur dan teknik bukannya interpersonal dan kontekstual yang berkaitan dengan mutu asuhan keperawatan.
Rumah Sakit Ortopedi Surakarta merupakan rumah sakit khusus tipe B yang merupakan rumah sakit rujukan Nasional berdasarkan SK Menkes Nomor 511/Menkes/SK/VI/1994 dan sebagai rumah sakit pendidikan berdasarkan SK Menkes No 1464/Menkes Kesos/SK/IX/2000. Rumah sakit memberikan pelayanan perawatan secara rawat jalan dan rawat inap. Dengan berbagai pelayanan perawatan yang diberikan kepada masyarakat, hal ini menuntut peran optimal perawat.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, juga dituntut untuk memiliki kemampuan manajerial yang tangguh sehingga pelayanan yang diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien.
Salah satu cara untuk dapat meningkatkan ketrampilan manajerial yang handal selain didapatkan di bangku kuliah juga harus melalui pembelajaran di lahan praktek. Mahasiswa PSIK FIK UMS dituntut untuk dapat mengaplikasikan langsung pengetahuan manajerialnya di Ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta dengan arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing pendidikan yang intensif. Dengan adanya praktek tersebut diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses manajemen.

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pelaksanaan praktek manajemen keperawatan ini dilaksanakan di Ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta berlangsung dari tanggal 30 November 2009 sampai dengan 26 November 2009.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan selama 4 minggu di Ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta mahasiswa mampu memahami manajemen keperawatan baik pengelolaan sarana maupun kegiatan keperawatan dalam tatanan klinik meliputi :
a. Menunjukkan ketrampilan mengorganisasi dan koordinasi kegiatan-kegiatan keperawatan secara efektif.
b. Menerapkan gaya, pendekatan dan strategi untuk mempengaruhi individu dan kelompok terhadap penentuan dan pencapaian tujuan dalam situasi khusus.
c. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dalam merencanakan kegiatan-kegiatan keperawatan.
d. Menerapkan rencana kegiatan keperawatan dalam menyelesaikan masalah di ruangan.


2. Tujuan khusus
Secara kelompok dan individu mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan dalam hal:
a. Menganalisa data dan memahami masalah dalam pengorganisasian asuhan keperawatan.
b. Merencanakan kegiatan perawatan sehari-hari.
c. Mengorganisasikan pelaksanaan kegiaan keperawatan.
d. Melakukan usaha-usaha koordinasi kegiatan keperawatan.
e. Memilih dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai di ruangan.
f. Memperkenalkan perubahan kecil yang bermanfaat untuk ruangan.
g. Mengidentifikasi masalah yang terjadi.
h. Merencanakan beberapa alernatif pemecahan masalah.
i. Mengusulkan alternatif tersebut kepada manajer keperawatan.
j. Menerapkan alternatif tersebut.
k. Mengevaluasi hasil penerapan alternatif pemecahan masalah.

D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dan bisa menerapkan teori manajemen keperawatan secara langsung.
2. Bagi rumah sakit
a. Untuk pelayanan kesehatan, sebagai bahan masukan untuk perencanaan manajemen keperawatan.
b. Untuk pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan di masa yang akan datang mengacu pada perkembangan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP)
3. Bagi perawat sebagai pelaksana
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Ruang Cempaka RSO Surakarta.

E. Cara Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian di Ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta diperoleh dengan cara:
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kondisi fisik ruangan, inventaris ruangan, proses pelayanan dan asuhan keperawatan yang langsung dilakukan ke pasien.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada kepala ruang, perawat primer, perawat pelaksana, dan pasien untuk mengumpulkan data tentang proses pelayanan pasien dan proses yang dilakukan oleh perawat.
3. Studi dokumentasi
Kegiatan dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai pasien, ketenagaan, dokumentasi proses keperawatan, manajemen ruangan, prosedur tetap tindakan dan inventaris ruangan.

F. Peserta Praktek
Praktek Manajemen Keperawatan dilaksanakan oleh mahasiswa Program Profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan FIK UMS tahun 2009 angkatan II kelompok II, terdiri dari:
1) Agung Haryanto, S.Kep
2) Fina Mahardini, S.Kep
3) Meyza Riftikasari, S.Kep
4) Rizal El Fata, S.Kep
5) Sukini , S.Kep


BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Manajemen Keperawatan
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan pro aktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi yang mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant & Massey, 1999). Sedangkan manajemen menurut Fayol adalah memperkenalkan dan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasi, dan mengendalikan. Memperkirakan dan merencanakan berarti mempertimbangkan masa depan dan menyusun rencana aktifitas (Fayol dalam bukunya Russel, 2000). Dengan demikian, manajemen Keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan dan asuhan keperawatan melalui staf keperawatan kepada pasien, keluarga dan masyarakat.
Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu pengolahan sumber daya manusia keperawatan dalam menjalankan kegiatan keperawatan menggunakan metode proses keperawatan untuk menyelesaikan masalah pasien. Ada tiga komponen penting dalam manajemen asuhan keperawatan yaitu: 1) Sistem pengorganisasian dalam pemberian asuhan keperawatan 2) Sistem klasifikasi pasien 3) Metode proses asuhan keperawatan
1. Sistem pengorganisasian dalam pemberian asuhan keperawatan terdiri dari:
a) Metode fungsional yaitu suatu metode pemberian asuan keperawatan dengan cara membagi habis tugas pada perawat yang berdinas.
Kelebihan metode fungsional adalah:
• Menekankan efisiensi, pembagian tugas jelas dan pengawasan baik untuk RS yang kekurangan tenaga.
• Perawat senior bertanggung jawab pada tugas manajerial sedangkan perawat junior bertanggung jawab pada perawatan pasien
Kelemahan metode fungsional:
• Pasien merasa tidak puas karena pelayanan keperawatan yang terpisah-pisah atau tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
• Perawat hanya melakukan tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
b). Metode tim yaitu pemberian asuhan keperawatan secara total kepada sekelompok pasien yang telah ditentukan. Perawat terdiri dari tenaga profesional, teknikal dan pembantu.
Konsep metode tim yaitu:
• Ketua TIM harus mampu menerapkan berbagai teknik kepemimpinan.
• Komunikasi yang efektif agar rencana keperawatan tercapai.
• Anggota TIM harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
Kelebihan metode tim:
• Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
• Mendukung pelaksanaan proses perawatan
• Komunikasi antara tim berjalan dengan baik sehingga konflik mudah diatasi
• Memberikan kepuasan pada anggota tim
Kelemahan metode tim:
• Komunikasi antar anggota tim dalam bentuk konferensi tim yang sulit terbentuk pada waktu-waktu sibuk.
c). Model keperawatan primer yaitu metode pemberian asuan asuhan kerawatan komprehensif yang merupakan penggabungan model praktik keperawatan profesional. Setiap perawat profesional bertanggunng jawab terhadap asuhan keperwatan pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
Konsep dasar metode primer
• Ada tanggung jawab dan tanggung gugat.
• Ada otonomi
• Ketertiban pasien dan keluarga.
Ketenagaan metode primer :
• Setiap perawat primer adalah perawat “bed side”
• Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat
• Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
• Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lainnya maupun non profesional sebagai perawat asisten
Kelebihan metode keperawatan primer :
• Bersifat kontinuitas dan komprehensif
• Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri
Kelemahan metode keperawatan primer:
• Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dan kriteria assertife, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, accountable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2. Sistem klasifikasi Pasien
Sistem klasifikasi pasien yaitu mengelompokkan pasien sesuai dengan ketergantungannya dengan perawat atau waktu dan kemampuan yang dibutuhkan untuk memberi asuahan keperawatan yang dibutuhkan.klasifikasi tingkat ketergantungan pasien menurut Douglas (1984) adalah:
a) Minimal Care (perawatan sedang)
Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam/24 jam/dengan kriteria:
• Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
• Makan dan minum dilakukan sendiri
• Ambulasi dengan pengawasan.
• Observasi tanda- tanda vital dilakukan tiap shiff
• Pengobatan minimal, sltatus psikologis stabil
• Persiapan pengobatan memerlukan prosedur
b) Intermediet care
Memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam dengan criteria:
• Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
• Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
• Ambulasi dibantu, Pengobatan lebih dan sekali
• Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan memerlukan prosedur.
c) Perawatan intensif
Perawatan total care memerlukan waktu 5-6/24 jam dengan criteria:
• Segalanya diberikan atau dibantu
• Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
• Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intra vena
• Pemakaian suction
• Gelisah atau disorientasi
3. Metode Proses Keperawatan
Metode proses keperawatan mencakup tahap-tahap dalam proses keperawatan yaitu:
a) Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan tahapan proses keperawatan yang meliputi pengumpulan, pengorganisasian dan pencatatan data yang menjelaskan respon manusia yang berpengaruh pada kesehatan klien. Dalam asuhan keperawatan memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus-menerus tentang keadaan pasien untuk menentukan perumusan masalah.
b) Analisa Data
c) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik mengenai seseorang, keluarga dan masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual dan potensial berdasarkan data pengkajian. Kriteria diagnosa keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien, dibuat sesuai dengan wewenang perawat,dengan komponen terdiri dari masalah, penyebab dan gejala.


d) Rencana Tindakan Keperawatan
Perencanaan disusun atas diagnosa keperawatan. Rencana keperawatan merupakan catatan tentang penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Rencana keperawatan memuat tujuan:
Pengorganisasian informasi, pasien sebagai sumber dokumentasi
 Alat komunikasi antara perawat dan klien
 Alat komunikasi antar anggota tim kesehatan
e) Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan rencana keperawatan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan serta pemulihann kesehatan dengan mengikut sertakan pasien dan keluarga.
f) Evaluasi Tindakan Keperawatan
Evaluasi adalah catatan tentang identifikasi kemajuan pasien terhadap tujuan yang dicapai. Evaluasi dilaksanaakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana keperawatan pasien.
g) Dokumentasi Tindakan Keperawatan
Dokumentasi adalah suatu,dokumen yang berisi data lengkap, nyata dan tercatat tidak hanya tentang tingkat kesakitan pasien tetapi juga jenis dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberi, (Fisbach, 1991). Nasrul Effendi (1995), Catatan dan pelaporan keperawatan adalah kurnpulan informasi keperawatan dan kesehatan pasien yang dilakukan oleh perawat sebagai pertanggung jawaban dan pertanggunggugatan asuhan keperawatan yang diberikan.
1. Tujuan
Dokumentasi keperawatan bentujuan untuk:
a. Menghindari tumpang tindih, dan ketidak efisien informasi dan asuhan keperawatan.
b. Terbina koordinasi yang baik dan dinamis antara sesama perawat atau petugas lain melalui komunikasi tulisan.
c. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas tenaga keperawatan
d. Terjaminnya kualitas asuhan keperawatan.
e. Perawat mendapat perlindungan secara hukum.
f. Memberikan data bagi peneliti, penulisan karya ilmiah, dan penyempurnaan standar asuhan keperawatan
2. Sistem Pendokumentasian
Banyak para ahli menyusun sistem dokumentasi keperawatan. Sistem dokumentasi ini masing-masing memiliki keunikan tersendiri, namun pada dasarnya tidak banyak perbedaan. Ada beberapa sistem pendokumentasian yang sering dipakai antara lain: Catatan Berorientasi Pada Sumber (Source Oriented Record ISOR). Sistem ini memberi kemudahan dalam menempatkan catatan mengenai data yang diperoleh karena biasanya masing-masing format telah dibuat secara spesifik. Namun, demikian, sistem ini memiliki kelemahan antara lain informasi menjadi sulit dipelajari secara lengkap karena masing-masing data berada pada format yang berbeda. Komponen SOR meliputi hal berikut mi:
a. Lembar penerimaan
Lembar ini berisi data demografi pasien/klien, seperti, nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, status perkawinan serta,diagnosis pada saat masuk rumah sakit.
b. Lembar instruksi dokter.
Lembar ini digunakan untuk mencatat setiap instruksi dokter yang dilengkapi dengan tanggal dan, tanda tangan dokter yang bersangkutan.
c Lembar riwayat medik.
Lembar ini berisi catatan tentang hasil pemeriksaan fisik, kondisi kesehatan klien, perkembangan, dan tindak lanjut.
d. Catatan perawat.
Catatan ini mencakup catatan, pengkajian, diagnosis, intervensi dan evaluasi.



e. Catatan dan ]aporan khusus.
Catatan ini berisi tentang hasil konsultasi, pemeriksaan laboratorium, laporan operasi, berbagai terapi fisik, tanda-tanda vital, masukan dan haluaran cairan serta pengobatan.
3. Model Dokumentasi Keperawatan
Terdapat 3 model dokumentasi yang saling berhubungan, saling ketergantungan dan dinamis, yaitu komunikasi, proses keperawatan dan standar dokumentasi.
a. Ketrampilan komunikasi secara tertulis adalah ketrampilan perawat dalam mencatat dengan jelas, mudah dimengerti. Dalam kenyataannya dengan kompleknya pelayanan keperawatan dan peningkatan kualitas, keperawatan, perawat dituntut untuk dapat mendokumentasikan secara benar. Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lain.
b. Dokumentasi Proses Keperawatan.
Perawat memerlukan ketrampilan dalam mencatat proses keperawatan. Pencatatan proses keperawatan merupakan, metode yang tepat untuk pengambilan, keputusan yang sistematis, problem solving, dan riset lebih lanjut. Format proses keperawatan merupakan kerangka atau dasar keputusan dan tindakan termasuk juga pencatatan hasil berfikir dan tindakan keperawatan. Dokumentasi adalah bagian integral proses, bukan sesuatu yang berbeda dan metode problem solving.
c. Standar Dokumentasi
Perawat memerlukan suatu, ketrampilan untuk dapat memenuhi standar yang sesuai. Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan kuantitas dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuaat dalam suatu situasi tertentu. Dengan adanya standar dokamentasi memberikan informasi bahwa adanya suatu ukuaran terhadap kualitas dokumentasi keperawatan.

d. Keterampilan Dalam Dokumentasi
Ketrampilan dalam dokumentasi sangat bergantung pada 5 komponen yaitu:
1. Novice (orang baru)
Dengan keberadaan orang baru akan diharapkan membawa perubahan dan pembaharuan.
2. Advanced Beginer (pemula lanjut)
Pola pikir yang maju. ilmiah dan dilandasi motivasi yang tinggi terhadap keprofesian mudah untuk menunjang ketrampilan dan kemampuan pendokumentasian.
3. Competent (mampu)
Merupakan ciri yang harus dimiliki oleh perawat yang bertugas memberikan arahan keperawatan.
4. Proficient (dakap)
Kemampuan tanpa diikuti kecakapan akan menjadikan diri terbelakang dan kemajuan.
5. Expert (ahli)
Keahlian dalam melakukan dokumentasi proses keperawatan sangat diperluakan oleh seorang perawat.
e. Tahapan Dokumentasi Dalam Proses Keperawatan
1. Dokumentasi Pengkajian
Tujuan dan Pengkajian adalah, untuk mengumpulkan, mengorganisir dan mencatat data yang menjelaskan respon manusia yang mempengaruhi pola-pola kesehatan klien. Pengkajian, adalah langkah awal dan tahapan dari proses keperawatan. Dalam mengkaji, harus memperhatikan data dasar pasien. Informasi yang dibuat dari, klien (sumber data primer), data yang didapat dari orang lain (data sekunder), catatan kesehatan klien, informasi atau laporan
Jenis dokumentasi pengkajian
- Pengkajian awal (initial assesment)
Pengkajian dilakukan ketika pasien masuk rumah sakit. Bentuk dokumentasi, biasanya merujuk pada data dasar keperawatan.
- Pengkajian Kontinu (On Going Assessment) Merupakan pengembangan data dasar.
- Pengkajian ulang
Pengkajian yang didapat dan informasi selama evaluasi.
2. Dokumentasi Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan diagnosis keperawatan adalah untuk menginterprestasikan dan memberikan nama pola-pola respon manusia terhadap masalah-masalah kesehatan. Diagnosa keperawatan juga merupakan keputusan klinis mengenai seseorang keluarga atau masyarakat sebagai akibat dan masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial (NANDA, 1990).
Diagnosa keperawatan memberikan dasar, pemilihan intervensi yang menjadi tanggung gugat perawat. Perumusan diagnosa keperawatan adalah bagaimana diagnosa keperawatan digunakan dalam proses pemecahan masalah.
3. Dokumentasi Rencana Keperawatan
Dokumentasi rencana keperawatan merupakan catatan tentang penyusunan rencana tindakan keperawatan, yang akan dilakukan. Perencanaan adalah bagian, dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapan permecahan masalah, menentukan tujuan keperawatan untuk mengatasi masalah klien. Rencana keperawatan memuat tujuan:
- Pengorganisasian informasi, pasien sebagai sumber dokumentasi
- Alat komunikasi antara perawat dan klien
- Alat komunikasi antar anggota tim kesehatan.
4. Dokumentasi intervensi keperawatan
Dokumentasi intervensi merupakan catatan tentang tindakan yang diberikan oleh perawat, berisi tentang. catatan pelaksanaan rencana keperawatan, pemenuhan kriteria hasil dan tindakan keperawatan mandiri maupun kolaboratif. Tindakan keperawatan mandiri merupakan tindakan yang dilakukan perawat tanpa pesanan dokter. Tindakan kolaboratif merupakan tindakan yang dilaksakan perawat yang bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah klien. Intervensi keperawatan merupakan bagian dari proses keperawatan.
- Intervensi perawatan terapeutik
Intervensi ini memberikan.pengobatan secara langsung pada masalah yang dialami pasien, mencegah komplikasi dari mempertahankan status kesehatan.
- Intervensi Surveilans
Menyatakan tentang survei data dengan melihat kembali data umum dan membuktikan kebenaran data.
5. Dokumentasi Evaluasi
Dokumentasi evaluasi merupakan catatan tentang implikasi kemajuan pasien tethadap tujuan yang dicapai. Evaluasi bertujuan untuk menilai keefektifan perawatan dan untuk mengkomunikasikan status pasien dan hasil tindakan keperawatan. Pernyataan evaluasi terdiri dari 2 komponen yaitu data yang tercatat yang menyatakan status kesehatan sekarang dan peryataan kondisi yang menyatakan efek dari tindakan yang diberikan pada pasien. Tipe dokumentasi evaluasi yaitu evaluasi formatif yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera dan evaluasi sumatif yang merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisa status pasien pada waktu tertentu.



B. Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai satu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara profesional. Manajemen keperawatan terdiri dari pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. Karena manajemen keperawatan mempunyai kekhususan terhadap mayoritas tenaga daripada seorang pegawai, maka setiap tahapan didalam proses manajemen lebih rumit jika dibandingkan dengan proses keperawatan.
Proses dan manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem yaitu terbuka dimana masing-masing komponen yang merupakan subsistem akan saling berinteraksi, bertukar informasi yang dipengaruhi lingkungan secara singkat komponen akan saling memberi dan menerima dari lingkungan sekitar.
Sistem terdiri dari beberapa elemen yaitu input, proses, output kontrol dan umpan balik, input adalah penerimaan berbagai masukan yang dibutuhkan dalam suatu proses. Proses adalah mentransformasikan masukan dengan berbagai cara yang sudah ditentukan. Out Put adalah hasil dan proses yang berupa luaran. Selain itu seiring dengan berkembangnya bidang keperawatan maka setiap individu perawat harus mengembangkan dirinya untuk mencapai eksistensi dengan pengetahuan tentang manajemen keperawatan, perawat akan mampu menerapkan ilmu pengetahuan baik sebagai pengelola ditingkat atas maupun sebagai staf pelaksana. Bagan dibawah ini menggambarkan proses dari manajemen keperawatan.


Bagan 1. Proses Manajemen Keperawatan
(Sumber: Gillies, 1996 dengan modifikasi penulis)

Keterangan Proses:
P : Planing (Perencanaan) diantaranya tujuan system, kebijakan, budged
O : Organizing (Pengorganisasian) diantaranya uraian jabatan atau job disciption, system penugasan (MPKP, Tim)
A : Actuating (Pelaksanaan pengelolaan) diantaranya kepemimpinan atau leadership, staffing, pengaruh dan sebagainya.
C : Controling pengawasan diantaranya kendali mutu, kinerja, disiplin. Kontrol merupakan pengawasan dalam pelaksanaan proses manajemen dan umpan balik dalah hasil dan penilaian out put yang berupa umpan balik atau negatif.

C. Fungsi Manajemen dalam Keperawatan
Teori manajemen keperawatan berkembang dari teori manajemen umum yang memerintahkan penggunaan sumber daya manusia dan materi secara efektif. Empat elemen besar dari teori manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, mengarahkan atau memimpin, dan mengendalikan atau mengevaluasi. Seluruh aktifitas manajemen, kognitif, dan psikomotor, berada dalam satu atau lebih dari fungsi- fungsi utama yang bergerak secara simultan.
Perawat sebagai manager (kepala bidang, kepala seksi, kepala ruang) melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap awal dalam fungsi manajemen menurut Fayol dan Swanburg dalam Russel (2000) perencanaan berarti mempertimbangkan masa depan dan menyusun rencana aktifitas. Perencanaan di keperaawatan merupakan tugas dari kepala bidang atau kepala devisi keperawatan dan kepala ruang untuk membuat perancanaan di tingkat manajerialnya kemudian diusulkan ke pimpinan diatasnya.
Fase perencanaan:
Fase 1 Develop Plan = Fase membangun
Fase 2 Present Plan Rencana saat ini
Fase 3 Implementasi dan monitor plan
Jenis Perencanaan:
a) Perencanaan Strategis
b) Perencanaan Operasional
c) Perencanaan Devisi
d) Perencanaan Unit
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah mengembangkan struktur ganda, yaitu materi dan manusia, dari suatu usaha. Pengorganisasian keperawatan di sebuah rumah sakit ada berbagai hirarki masalnya di tingkat kepala bidang maupun di tingkat ruangan yang disebut metode penugasan pemberian asuhan keperawatan kepada pasien diantaranya metode TIM dan metode MPKP.
Menurut Huber (2000) tujuan adanya sebuah organisasi adalah 1) Untuk mengontrol berbagai macam perilaku individu dalam institusi 2) Menghindari kekacauan 30 Sebagai alur informasi langsung 4) Menentukan posisi seseorang 5) Memberi pekerjaan atau perintah (order) sesuai tugasnya dalam organisasi.
a) Prinsip-prinsip Pengorganisasian
1) Prinsip rantai komando
2) Prinsip Kesatuan Komando
3) Prinsip rantai Kendali
4) Prinsip spesialisasi
b) Bentuk Struktur Organisasi
Menurut Huber (2000) yang mempengaruhi struktur organisasi adalah linngkungan dari luar organisasi, tekhnologi, luas organisasi dan perubahan. Swanburg (2000) Menjelaskan bahwa secara umum ada dua bentuk struktur yaitu bentuk hirarkhi dan bentuk bebas.
Huber (2000) menjelaskan menurut jenisnya organisasi dibagi dua yaitu organisasi formal dan non formal. Organisasi formal mempunyai ciri ada diagram (struktur), perencanaan bentuk struktur dan alur pembuat keputusan secara tegas. Sedangkan organisasi informal merupakan sekelompok gagasan sosial tidak mempunyai ciri-ciri yang dimiliki organisasi formal.
1) Bentuk Birokrasi
Yang termasuk bentuk birokrasi adalah struktur organisasi lini (garis) yang disebut bentuk hirarkhis. Arah organisasi lini adalah top down (kebawah). Ciri-ciri dan bentuk lini adalah bentuk piramidal hierarchical, sentralized dan delegation oriented.
2) Matrik
Dan bentuk birokrasi yang bertujuan untuk mengoptimalkan tim, dalam organisasi matrik arah komunikasi bersebrang, kerja lintas unit, memfungsikan tim untuk bekeijasama.sehingga alur komunikasi menjadi ganda dan pengambilan Menurut Tappen (1995) bentuk organisasi matrik merupakan peralihan keputusan memakai manajemen partisipatif.


c). Pengorganisasian Dalam Keperawatan
Sistem pengorganisasian dalam institusi keperawatan paling banyak adalah bentuk lini yang merupakan bentuk sederhana terlama.
Keuntungan:
1) Jelas tanggung jawab wewenang
2) Mudah diatur
3) Informasi cepat berantai sesuai tingkatnya
4) Untuk pegawai baru mudah untuk berorientasi
5) Spesialisasi berkembang
Kekurangan:
1) Spesialisasi : - Pemisahan tugas
- Pekerjaan, menonton
- Komunikasi sulit
2) Struktur kaku
3) Birokrasi --------> pasif dan tergantung


Pemimpin --------> autokrasi------> lebih banyak instruksi dan pada laporan ke atas


Motivasi karena ancaman
Punishmen sering digunakan
4) Kurang koordinasi dan integrasi antara devisi
Komunikasi lateral kurang bahkan tidak ada, komunikasi hanya di Iingkungannya
5) Tendensi menurun menggunakan pengetahuan yang ada
6) Tendensi berkembangnya birokrasi tanpa kendali
3. Pelaksanaan kegiatan/actuating
Yang termasuk dalam actuating diantaranya pengarahan, kepemimpinan, motivasi dan lainnya. Salah satu contoh kegiatan ini adalah fungsi pengarahan yang bertujuan untuk mengukur kualitas penempatan, menemukan dan memperbaiki masalah serta mencegah penyimpangan dan modifikasi kegiatan yang sudah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
4. Pengawasan Controling
Fungsi pengawasan sangat terkait erat dengan komponen lain terutama fungsi actuting, kedua fungsi manajemen ini sangat tergantung misalnya seorang kepala ruang melaksanakan peran kepemimpinannya (fungsi actuating) dengan cara super visi (controling). Fungsi pengawasan dilakukan dengan membandingkan antara stndar atau perencanaan dangan pelaksanaan.

D. Manajemen Dalam Paradigma Keperawatan
Filosofi manajemen keperawatan adalah keyakinan yang dimiliki oleh tim keperawatan yang bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan berkualitas melalui pembagian kerja, koordinasi dan evaluasi. Kerangka konsep manajemen keperawatan adalah manejemen partisipatif yang berdasarkan kepada paradigma keperawatan yaitu manusia, perawat/keperawatan, kesehatan dan lingkungan.
Manusia dalam manajemen partisipatif adalah individu keluarga dan masyarakat yang diberikan pelayanan keperawatan melalui proses keperawatan yang terorganisir dan terintegrai dalam rentang kendali yang memadai.
Perawat/ keperawatan yaitu semua tenaga keperawatan di tiap hirarkhi mulai dari tingkat manajerial puncak sampai bawah yang berada dalam rentang komunikasi dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan sesuai dengan standar praktik keperawatan dengan bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Kesehatan merupakan kisaran hasil pelayanan keperawatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat melalui upaya yang komprehensif. Lingkungan yaitu area kewenangan dan tanggung jawab keperawatan meliputi fungsi kolaborasi antara tim keperawatan dan kesehatan yang lain

E. Manajemen Dalam Proses Keperawatan
Perawat pelaksana adalah manajer bagi pasien dan keluarga, pendekatan yang dilakukan perawat dalam mengelola pasien adalah melalui proses keperawatan yang meliputi mulai dan tahap pengkajian, diagnosa, perencanaan, tindakan dan evaluasi yang semuannya merupakan penerapan dan fungsi manajemen.

F. Dasar Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan inti dan manajemen, karena seorang pemimpin adalah pembuat keputusan Idencision maker dalam suatu organisasi. Demikian juga dalam lingkup keperawatan khususnya peran pemimpin sebagai pembuat keputusan sangat mempunyai arti dalam kualitas upaya pelayanan keperawatan.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan organisasi (kartono,1998).
Gaya Kepemimpinan
Ada beberapa macam gaya kepemimpinan menurut Gillis (1996) yaitu:
1) Gaya Kepemimpinan Otoriter
Yaitu seorang pemimpin yang menggunakan otoritasnya dalam pengambilan keputusan, keputusan diambil oleh dirinya sendiri
Ciri-ciri dan kepemimpinan autokratis:
Berorientasi pada tujuan, menganggap orang lain sebagai milik pribadi, menyamakan tujuan organisasi dengan tujuan pribadi, tergantung pada kekuasaan formal, menganggap staf sebagai alat semata, tidak mau menerima kritik dan dalam penggerakkan staf sifatnya memaksa.
2) Gaya Kepemimpinan Demokrasi
Yaitu gaya kepemimp[inan dimana seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan melibatkan stafnya sesuai demgan masukan dan bawahanya. Keputusan diputuskan oleh pemimpin
Ciri-ciri dan kepemimpinan demokrasi
Dalam proses penggerakkanya selalu memperhatikan kemampuan dan pentingnya staf, menggali ide dan staf untuk tujuan orgaisasi, kepentingan organisasi dan staf seimbang, senang menerima kritik dan saran memberi kesempatan staf untuk mengembangkan diri.
3) Gaya Kepemimpinan Laissez Faire
Gaya kepemimpinan ini menganggap kepemimpinan hanya sebagai formalitas, banyak ahli mendefinisikan gaya kepemimpian ini adalah gaya kepemimpinan santai, terserah dan semaunya.
Ciri-ciri lain dan gaya kepemimpinan ini adalah membiarkan staf melaksanakan tugas sesuaia kehendaknya tanpa arahan dan supervisi, menilai hasil kerja staf menurut caranya sendiri yang dianggap tepat.
4) Gaya Kepemimpinan Partisipasif
Yaitu gaya kepemimpinan gabungan antara autokratik dan demokrasi. Ciri-ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah dalam pengambilan keputusan dimulai dari analisa masalah, kemudian mengajukan alternatif memecahan dan pemintaan tanggapan dan bawahan baru kemudian pemimpin mengambil keputusan. Dampak dari tipe kepemimpin ini adalah kemandirian staf dan kewenangan mengontrol bawahan yang tinggi.

Motivasi
Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberikan konstribusi pada tingkat komitmen seseorang dalam. Dalam organisasi motivasi mempunyai peranan penting, karena menyangkut langsung pada unsur manusia. Masalah motivasi dalam organisasi menjadi tanggung jawab manajer untuk mencipta, mengatur dan melaksanakanya. Oleh kanena itu sesuai dengan sifat motivasi maka manajer harus dapat menciptakan motivasi yang mampu menumbuhkan motif orang-orang sehingga mau berbuat sesuai dengan kehendak organisasi, motifasi dalam

G. Pengaturan Staf Dalam Manajemen Keperawatan
Ada beberapa fungsi manajer dalam hal pengaturan staf diantaranya penyusunan pegawai. Menurut Gilles (1996) diantara menyusunan kepegawaian adalah : 1) mengidentifikasi jumlah dan jenis tenaga keperawatan ; 2) merekrut tenaga keperawatan dan 3) menyusun tenaga keperawatan yang ada kedalam konfigurasi yang diinginkan dengan unit dan pergantian (penjualan)
1. Sistem Recruitment (REKRUT) / Seleksi
Menerimaan tenaga keperawatan adalah tanggung jawab pengelola (manajer) keperawatan,salah satu dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) keperawatan bergantung pada seleksi. Jumlah tenaga dan kualifikasi yang diterima dalam sebuah seleksi di institusi rumah sakit agar efektif dan efisien harus sesuai kebutuhan.
2. Menghitung Jumlah Tenaga
Penetapan jumlah tenaga keperawatan merupakan perencanaan dalam hal menentukan berapa banyak tenaga yang dibutuhkan dalam suatu ruangan dan kritenia tenaga yang dipakai untuk suatu ruangan tiap shiftnya. Di bawah ini beberapa formula yang dikeluarkan oleh para ahli dalam hal penentuan apakah tenaga yang ada kurang, cukup, atau berlebih. Selain untuk memenuhi kebutuhan tenaga, rumus tersebut dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga keperawatan yang terdapat di suatu ruangan sudah sesuai dengan standard yang ada.
(GiIles,1996)

Contoh : Ruangan penyakit dalam
Rata-rata jam perawatan pasien 6 jam perhari, Rata-rata jumlah pasien 15 perhari Jam kerja = 40 jam, 5 hari per minggu 20 hari cuti pertahun 110 jml tenaga yang dibutuhkan:

jadi ruangan tersebut membutuhkan 18 orang perawat


Douglas (1984)
Menghitung jumlah tenaga berdasarkan klasifikasi pasien. Hasil penelitian dan klasifikasi pasien menurut Douglas adalah:



Contoh : Disebuah ruangan penyakit bedah tendapat 20 pasien yang terdiri dari 4 pasien minimal care, 10 pasien partial care, dan 6 pasien total care, maka jumlah perawat yang dibutuhkan yaitu;
4 x 0,17 = 0,68
10 x 0,27 = 2,7
6 x 0,36 = 2,16
jumlah = 5,54 = 6 orang perawat jaga pagi

H. Sarana dan Prasarana
Peralatan kesehatan untuk pelayanan keperawatan merupakan semua bentuk alat kesehatan atau peralatan lain yang dipergunakan untuk melaksanakan asuhan keperawatan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan sehingga diperoleh tujuan pelayanan keperawatan efisien dan efektif.
Badan Layanan Umum (BLU), manajemen rumah sakit harus terus menerus melakukan usaha untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang diharapkan akan terwujudnya tempat pelayanan kesehatan yang representatif.
Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oleh masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan/warna, ukuran, jenis kegiatan, jumlah yang dibutuhkan. Juga didasarkan atas per grup bahan-bahan yang dipakai, disimpan maupun dicuci.

BAB III HASIL PENGKAJIAN

A. Profil dan Gambaran Umum Ruang Cempaka
1. Profil Ruang Cempaka
Ruang Cempaka merupakan salah satu ruang rawat inap di IRNA RSO Surakarta yang memberikan pelayanan perawatan pasien dengan kasus ortopedi dengan infeksi. Ruangan ini memiliki klasifikasi kelas II dan kelas III dimana total tempat tidur sebanyak 24 yang terbagi atas 4 untuk kelas II, 10 tempat tidur untuk kelas III putri, dan 10 tempat tidur untuk kelas III putra. Untuk kelas III terdapat 1 ruang isolasi yang memiliki 2 tempat tidur. Adanya proses renovasi gedung menyebabkan ruangan ini sekarang menyatu dengan ruang Anggrek. Batas wilayah Ruang Cempaka sebelah utara adalah ruang Radiologi dan IPSRS, sebelah timur ruang Dahlia dan Bougenvil, dan batas sebelah selatan adalah tempat parkir sepeda motor.
2. Denah Ruang
Ruang Cempaka terdiri dari 24 tempat tidur untuk pasien, satu ruang administrasi, ruang ganti perawat, nurse station, gudang, kamar mandi perawat, dapur, kamar pasien, kamar mandi pasien, ruang medikasi dan ruang persiapan medikasi serta ruangan serbaguna. Ruang tersebut dapat terlihat dalam denah dibawah ini

3. Visi, Misi dan Falsafah Ruangan Keperawatan
a. Visi
Terwujudnya rumah sakit sebagai pusat rujukan pelayanan keperawatan di bidang ortopedi dan traumatologi
b. Misi
1) Sebagai pusat pelayanan asuhan keperawatan dibidang ortopedi dan traumatologi secara profesional dan prima untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.
2) Memberikan pelayanan keperawatan ortopedi dan traumatologi dengan pendekatan proses manajemen keperawatan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.
3) Memfasilitasi terselenggaranya pendidikan keperawatan berkelanjutan secara formal dan informal untuk meningkatkan mutu pelayanan perawatan dengan mengutamakan peningkatan kualitas perawat dalam bidang asuhan keperawatan khususnya dibidang ortopedi dan traumatologi.
4) Melaksanakan dan memfasilitasi audit pelaksanaan keperawatan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
c. Falsafah
1) Keperawatan adalah bantuan bagi umat manusia yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal kepada semua yang membutuhkan dengan tidak membedakan suku, agama, dan status disetiap pelayanan kesehatan.
2) Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang unik, serta memiliki kebutuhan dasar hidup.
3) Tujuan pelayanan keperawatan dapat dicapai melalui usaha bersama.
4) Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat, memiliki wewenang melakukan asuhan keperawatan secara utuh berdasarkan standar asuhan keperawatan.
5) Pendidikan keperawatan harus dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan perkembangan sumber daya manusia dalam perkembangan staf dalam pelayanan kesehatan
B. Unsur Input
1. Man
a. Pasien
Ruang Cempaka merupakan salah satu ruang rawat inap di IRNA RS Ortopedi Surakarta. Ruangan ini melayani perawatan pasien dengan kasus ortopedi yang mengalami infeksi. Jumlah Pasien yang dirawat diruang Cempaka selama Periode bulan Oktober - Novermber 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1
Jumlah pasien di Ruang Cempaka
RS Ortopedi Surakarta bulan Oktober–November 2009

No Bulan/ Tahun Pasien Jumlah
L P
1.
2. Oktober 2009
November 2009 42
19 8
6 59
58
Jumlah 192
Sumber : Data Sekunder 2009

Selama Bulan Oktober 2009 sampai November 2009 pasien yang menjalani perawatan di ruang Cempaka, sebagian besar berasal dari Wonogiri 23, Boyolali 21, Sukoharjo 20, Jogjakarta 13 dan Semarang 12 . Data mengenai asal pasien dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 2
Rekapitulasi Asal Daerah Pasien Ruang Cempaka
RS Ortopedi Surakarta selama bulan Oktober–November 2009

No Asal daerah pasien Jumlah Prosentasi (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11. Wonogiri
Boyolali
Sukoharjo
Jogjakarta
Semarang
Karanganyar
Grobogan
Surakarta
Rembang
Jawa timur
Lain-lain 23
21
20
13
12
12
12
11
9
9
50 12 %
10,8 %
10,4 %
6,8 %
6,3 %
6,3 %
6,3 %
5,7 %
4,7 %
4,7 %
26,0 %
Jumlah 192 100 %
Sumber : Data Sekunder 2009
Dari jumlah tersebut diatas, terdapat sepuluh kasus terbesar yang terdapat di Ruang Cempaka selama tahun 2009, seperti dalam tabel berikut:
Tabel 3
Sepuluh Penyakit Terbanyak di ruang Cempaka
RS Ortopedi Surakarta Oktober-November tahun 2009

No Penyakit Prosentase
1 Fraktur cruris 23,4 %
2 Fraktur Femur 14,1 %
3 Fraktur Antebrachii 10,4 %
4 Osteomylitis 8,9 %
5 Fraktur Pedis 7,8 %
6 Union of fraktur 6,8 %
7 Fraktur Humeri 3,1 %
8 Fraktur Clavikula 3,1 %
9 Non union of fraktur 3,1 %
10 Lain-lain 19,3 %
Jumlah 100,00 %
Sumber: data sekunder 2009
b. Peserta didik
Jumlah mahasiswa yang pernah praktek di Ruang Cempaka selama bulan Januari sampai Oktober 2009 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4
Daftar Mahasiswa Praktek
Ruang Cempaka RSO Surakarta Periode 2009

No. INSTITUSI JUMLAH
1 DIII Fisioterapi Poltekkes Surakarta 33
2 DIV Fisioterapi Poltekkes Surakarta 25
3 DIII Fisioterapi UMS Surakarta 40
4 DIV Fisioterapi UMS Surakarta 35
5 DIII Fisioterapi YAB Yogyakarta 20
6 DIII Fisioterapi Stikes Widya Husada Semarang 24
7 DIII Fisioterapi IIK Kediri 60
8 Akfis UKI Jakarta 25
9 Akfis UPN Veteran Jakarta 29
10 Akfis Siti Hajar Medan 66
11 Akfis Dustira Cimahi 18
12 DIII Fisioterapi Poltekkes Makassar 50
13 Akfis Harapan Bangsa Banda Aceh 34
14 Akfis Muhammadiyah Banda Aceh 29
15 Akfis Abdurrab Medan 52
16 Akfis STIKES Muhammadiyah Palembang 29
No. INSTITUSI JUMLAH
17 DIII Fisioterapi UNAIR Surabaya 15
18 S1 Keperawatan UMS semester 4 23
19 Akper Mambaul Ulum 34
20 Program Profesi Ners UMS 20
21 AKPER Muhammadiyah Surakarta 19
22 Akademi Okupasi Terapi Poltekkes Surakarta 40
JUMLAH 720
Sumber: data Bidang Diklit RSO SUrakarta
Bardasarkan data diatas Ruang Cempaka digunakan untuk mahasiswa praktek dari berbagai profesi kesehatan. Hal ini bisa menimbulkan kejenuhan dari pasien dan keluarganya akibat adanya mahasiswa yang melakukan pengkajian atau anamnesa secara berulang dan terpisah dan tentunya jika terlalu banyak mahasiswa yang praktek juga akan mengakibatkan kemungkinan terjadinya praktek klinik yang kurang efektif, selain itu juga bila jumlah ratio mahasiswa yang praktek dibandingkan jumlah pasien yang dirawat tidak seimbang maka akan berdampak negative bagi rumah sakit, pasien dan praktikan.
Kapasitas mahasiswa praktek di Ruang Cempaka di setiap shift adalah 8 Mahasiswa maksimal. Pelaksanaan bimbingan sudah dilakukan dengan metode atau teknik bimbingan ruang Cempaka memaksimalkan tenaga CI yang ada dengan merata kepada semua Mahasiswa. Bimbingan dilakukan secara administrasi dengan kedisiplinan (absensi), tugas tetulis dan bimbingan klinik Mahasiswa dilakukan langsung kepada pasien dengan pengawasan dan bimbingan semua perawat atau CI yang telah ditunjuk.
Bimbingan Mahasiswa dilakukan berdasarkan kompetensi yang ada dari universitas. Bimbingan sudah dapat dilaksanakan dan untuk kegatan shift sore dan malam belum maksimal karena CI tugas di shift pagi. Setiap stase terutama diakhir stase dilaksanakan ujian praktek Mahasiswa yang diuji oleh Pembimbing Klinis dan Pembimbing Akademis.
Semua kegiatan yang dilakukan di Ruang Cempaka mengacu dan berpedoman pada Visi Misi Rumah Sakit yaitu sebagai Rumah Sakit Pendidikan.
c. Ketenagaan
1) Kuantitas ketenagaan
Penetapan jumlah tenaga keperawatan adalah suatu proses membuat perencanaan untuk menentukan berapa banyak dan dengan kriteria tenaga yang seperti apa pada suatu ruangan setiap siftnya. Beberapa ahli telah menggabungkan beberapa formula untuk menetapkan jumlah tenaga tersebut. Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan apakah tenaga ang ada saat ini, kuang atau lebih. Formula tersebut antara lain adalah :
a) Menurut Douglas (1984)
Perhitungan jumlah kepeawatan menurut Douglas dihitung berdasarkan tingkat ketergantungan pasien untuk setiap sifftnya seperti tabel berikut
Tabel 5
Jumlah Tenaga Perawat
Berdasarkan Klasifikasi Ketergantungan Pasien Menurut Douglas
Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. R.Soeharso Surakarta
3 Desember 2009

WAKTU KLASIFIKASI KEBUTUHAN PERAWATAN
PAGI SORE MALAM
Minimal 0,17 0,14 0,07
Intermediet 0,27 0,15 0,10
Maksimal 0,36 0,30 0,20
Sumber: Douglas 1984

Untuk menentukan klasifikasi pasien perlu adanyan penskoran dengan format sebagai berikut:

Tabel 6
Format Penetapan Klasifikasi Pasien

Skor Standar Skor Kategori Perawatan Pasien
I. Observasi dan Monitoring
1 Kesadaran komposmentis
2 Kesadaran somnolent/gelisah
3 Kesadaran comateus
4 Observasi terus-menerus
3 Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
2 Observasi tanda-tanda vital tiap 6 jam
1 Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam
3 Observasi infus, kateter, drain luka
2 Pengkajian pasien baru
Skor Standar Skor Kategori Perawatan Pasien
II. Perawatan Diri
1 Dilakukan sendiri
2 Dilakukan dengan bantuan
3 Inkontinensia urin/BAB
4 Bantuan total
III. Diet/Makan dan Minum
1 Mandiri
2 Dilakukan dengan bantuan
3 Bantuan dengan 2 orang
4 Bantuan NGT
IV. Obat-obatan
1 Mandiri 2-3 kali sehari
2 Pengawasan 2-3 kali sehari
2 Suntikan 1-2 kali sehari
3 Oksigenasi dan suction
3 Infus
V. Terapi Somatik
4 EKG
3 Mengganti balutan
VI. Pendidikan Kesehatan
3 Pendidikan kesehatan pasien hubungannya askep
2 Pendidikan kesehatan pada keluarga
2 Latihan mobilisasi

Penilaian Score Klasifikasi Pasien: Total skor 65
Skore: 1-10 Self Care/perawatan mandiri = 2 jam
11-25 Intermediate Care/ perawatan sedang = 3-5 jam
26-65 Perawatan Intensive/perawatan total = 6-8 jam

Tabel 7
Kategori Pasien Berdasarkan Tingkat Ketergantungan
Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. R Soeharso Surakarta

No Pasien SKOR PASIEN
1 21
2 19
3 20
4 17
5 17
6 22
7 21
8 16
9 15
10 23
Rata-rata 19,1

Berdasarkan penskoran diatas tingkat ketergantungan pasien ruang Cempaka masuk dalam kategori intermediate care
Perhitungan jumlah keperawatan di Cempaka menurut Douglas (1984) jumlah tenaga perawat secara keseluruhan di bawah (1/3) sepertiga sehingga jumlah perhitungan adalah seperti terukur pada table 8:

Tabel 8
Jumlah Kebutuhan Perawat Menurut Shift Jaga
Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta
3Desember 2009

Waktu/
Klasifikasi 09 Juli 2009
P S M
Intermediet 20x0,17 20x0,14 20x0,07
Jumlah 5,4 (5) 2,8 (3) 1,4 (2)
Sumber: Douglas, 1984

Menurut hitungan Douglas jumlah perawat yang dibutuhkan selama 1 hari perawatan adalah:
 Perawat jaga pagi : 6
 Perawat jaga siang : 3
 Perawat jaga malam : 2
Menurut perhitungan Douglas karena di ruang Cempaka kriteria pasien dengan klasifikasi intermediate care (memerlukan waktu 3-5 jam/24 jam) dengan pasien rata-rata per hari 20 pasien maka dibutuhkan perawat jaga pagi 5,4; jaga sore 2,8; dan jaga malam 1,4. Total keseluruhan perawat jaga 11 perawat. Jumlah perawat 11 + (1/3 x 11) = 14,6 = 15. ditambah Kepala ruang 1 orang. Sehingga jumlah perawat menurut Douglas berdasarkan jumlah pasien yang dirawat adalah 16 orang.

b) Menurut Gillies (1996)
Kebutuhan tenaga perawat secara kuantitatif dapat dirumuskan dengan perhitungan sebagai berikut:
A x B x 365
(365-C) x jam kerja/hari
Keterangan:
A : Jam efektif 24 jam C : Jumlah hari libur/th
B : BOR x Jumlah TT
Kajian data di Ruang Cempaka
Jumlah tenaga kerja Cempaka = 4 x (69,74% x 24) x 365
(365-84) x 7
= 12, 423435
= 13 orang + 1 Kepala Ruang
= 14 orang
Menurut Gillies jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan BOR adalah 13 orang, penanggung jawab ruangan 1 orang. Jumlah total perawat yang dibutuhkan dengan formula Gillies adalah 14 orang
c) Menurut Depkes (2002)
Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan :

Jumlah jam perawatan di ruangan / hari
Jam kerja efektif per shiff

Rata – rata jumlah perawat yang dibutuhkan adalah :
Minimal = 1,96 : 7 = 0,20
Intermediet = 3,5 : 7 = 0,5
Untuk perhitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (faktor koreksi) dengan hari libur / cuti / hari besar (Loss day).
1) Loss Day
Jml Hr Minggu dlm 1 thn + hr besar x jml perawat tersedia
Jumlah hari kerja efektif

Loss day : 84 x 14
281
: 4, 32
2) Faktor Koreksi
Jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas-tugas non keperawatan (non nursing jobs) seperti membuat perincian pasien pulang, kebersihan ruangan, kebersihan alat-alat makan dll diperkirakan 25 % dari jumlah tenaga keperawatan
Jumlah tenaga keperawatan + Loss day x 25
100

= 14 + 4,18 x 25 = 4,54
100
Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan baik perawat maupun non keperawatan (non nursing jobs) menurut Depkes adalah:
Tenaga yang tersedia + faktor koreksi
= 14 + 4,54
= 18,54
= 19 + 1 kepala ruang
= 20 orang

Analisa Data :
Tabel 9
Hasil Penghitungan Jumlah Tenaga Perawat
Ruang Cempaka RSO Surakarta
3 Desember 2009

Teori Jumlah tenaga perawat Jumlah yang tersedia Keterangan
Douglas 16 14 <2 b="6" k="4" b="1/" k="1" b="4/k=" style="font-weight: bold;">No Nama Alat Standar Standar Kebutuhan Tersedia Ket
1 Syringe Pump 1 1 1 Baik
2 Komputer 2 1 1 Baik
3 Viewer Rontgent 1 1 1 Baik
4 Lampu emergency 2 1 1 Rusak
5 Kipas Angin Kantor 1 1 1 Baik
6 Kipas Angin Pasien 1 1 1 Baik
8 Pesawat TV 1 1 1 Baik
9 Kulkas 1 1 1 Baik
Sumber : Standar fasilitas alat keperawatan
Analisa
Berdasarkan tabel 10 tentang fasilitas peralatan/mesin, kebutuhan alat di ruang Cempaka RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarata sesuai dengan kebutuhan namun ada beberapa alat yang belum terpenuhi seperti EKG dan suction pump.
3. Money/sumber pendanaan
Tarif yang berlaku di ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta
Tabel 17
Tarif Pelayanan di Ruang Cempaka RS Ortopedi Surakarta 2009
No Pelayanan Tarif
1. Akomodasi
- kelas II
- kelas III
75.000
40.000
2.
Visite dokter
a. Visite utama
- kelas II
- kelas III
b. Visite bersama
- kelas II
- kelas III

90.000
60.000

55.000
35.000
3. Asuhan keperawatan
- kelas II
- kelas III
25.000
20.000
4. Konsultasi spesialis
- kelas II
- kelas III
75.000
60.000

Berdasarkan tabel 1 tarif yang berlaku diruang cempaka tahun 2009 adalah tarif yang sudah disetujui oleh:
a. Untuk pelayanan kelas III berdasarkan Mentri Kesehatan RI Nomor HK.03.05./I/4690/2008 tanggal 31 Desember 2008 tentang : Tarif Pelayanan Kelas III Rumah Sakit Ortopedi Prof.DR.R.Soeharso Surakarta.
b. Surat keputusan direktur utama RSO Prof.DR.R.Soeharso Surakarta Nomor: KU.06.02.6687 tanggal 29 September 2008 tentang: Tarif Pelayanan reguler (II,I,Utama,VIP), dan Eksekutif di RSO Prof. DR.R.Soeharso Surakarta tahun 2009.
Untuk pelayanan kelas III menggunakan SK Mentri kesehatan karena untuk pembiayaan ada pasien yang menggunakan jaminan kesehatan berupa askeskin yang pembiayaannya diberikan oleh negara.
4. Metode
Jenis metode standar/ pedoman/ prosedur tetap menurut hasil pelatihan keperawatan di RSO Prof. Dr. Soeharso tahun 2009 jenis standar adalah sebagai berikut:
a. Standar prosedur tetap pelayanan
b. Standar prosedur tetap administrasi

Tabel 18
Standar Asuhan Keperawatan Ruang Cempaka RSO Surakarta

No. Nama Dokumen
1. SAK klien dengan fraktur cruris
Sumber : Dokumen ruang C RSOP Prof.Dr.R.Soeharso, 2009

Tabel 19
Di Bangsal C RSOP Prof. Dr. Soeharso Surakarta
No. Nama Dokumen
1. SOP Syok Anafilaksis
2. SOP Mengangkat/melepas jahitan
3. SOP Transfusi darah
4. SOP Mengitung tekanan darah
5. SOP Menghitung pernapasan
6. SOP Terapi O2 dengan masker
7. SOP Pemberian obat SC dan IM
8 SOP Memasang kateter pria
No. Nama Dokumen
9 SOP Memasang kateter wanita
10 SOP Pemberian O2 dengan dengan kanul nasal
11 SOP Mengukur suhu badan
12 SOP Menghitung denyut nadi
13 SOP Memindahkan pasien dari tempat tidur ke brankar
14 SOP Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda
15 SOP Mengganti alat tenun dengan klien di atas
16 SOP Menyiapkan tempat tidur terbuka (open bed)
17 SOP Menyiapkan tempat tidur tertutup (closed bed)
18 SOP Mengukur intake dan output
19 SOP Menghitung tetesan infuse
20 SOP Perawatan klien isolasi
21 SOP Perawatan dekubitus
22 SOP Irigasi luka
23 SOP Mengganti balutan kering
24 SOP Mengganti balutan basah ke kering
25 SOP Persiapan kulit pembedahan (mencukur)
26 SOP Tehnik relaksasi
27 SOP Tehnik distraksi
28 SOP Memasang NGT
29 SOP Bladder training
30 SOP Melepasa kateter
31 SOP Cuci tangan steril
32 SOP Cuci tangan bersih
33 SOP Membantu pasien istirahat/tidur
34 SOP Pemberian obat melalui mulut
35 SOP Asuhan kepeerawatan
36 SOP Memandikan pasien
37 SOP Menjaga keselamatan pasien di tempat tidur
Sumber: Dokumen ruang CRSOP Prof.Dr.R.Soeharso tahun 2009

Berdasarkan wawancara dengan perawat ruangan, Ruang Cempaka sudah memiliki ruang SOP tetapi belum tersosialisasi secara optimal.
C. UNSUR PROSES
Proses didefinisikan sebagai suatu rangkaian tindakan yang mengarah pada suatu tujuan. Proses pelayanan kesehatan menurut Donabedian adalah “A set of activity that go on within and between practitioners and patients”. Keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Perawat memegang peran sentral dalam menentukan baik dan buruknya mutu dan citra rumah sakit. Proses Menejemen pelayanan Keperawatan terdiri atas:

1. Plaining atau perencanaan
Kajian Data
Observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 3 Desember 2009 menunjukkan bahwa Ruang Cempaka sudah memiliki perencanaan tahunan mengenai kebutuhan tenaga, pengembangan SDM dan alat/bahan perawatan secara tertulis.
Analisa
Sebagian perencanaan belum dilaksanakan oleh kepala ruang, sehubungan dengan beban kerja yang cukup berat serta fungsi rangkap sebagai perawat pelaksana karena keterbatasan tenaga.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Kajian Data
Dalam pengorganisasian Ruang Cempaka, pembagian kinerja dan pemberian asuhan keperawatan pada pasien menggunakan metode penugasan tim yang dimodifikasi karena adanya keterbatasan tenaga. Metode tim di Ruang Cempaka terdiri dari 2 tim. Setiap tim mempunyai anggota 5 orang yang bertanggung jawab terhadap 12 pasien untuk setiap tim. Untuk pelaksanaan asuhan keperawatan shif sore dan shif malam sepenuhnya menjadi tanggung jawab anggota yang bertugas yaitu 2 orang perawat dan bertangung jawab terhadap 24 pasien.
Hasil observasi dan wawancara dengan Karu maupun Katim menunjukkan bahwa pelaksanaan metode tim belum berjalan secara optimal karena adanya keterbatasan tenaga. Jumlah perawat jaga pada shif pagi 6-7 orang, sedangkan pada shif siang dan malam hanya ada 2 orang perawat jaga. Selain itu, pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum berjalan di Ruang Cempaka karena beban kerja yang tinggi.
Analisa
Ruang Cempaka sudah memiliki struktur organisasi yang tetap. Namun, pada pelaksanaannya, setiap perawat bertanggungjawab terhadap semua pasien. sehingga beban kerja di ruangan ini menjadi tinggi. Akibatnya, pelaksanaan pre dan post conference serta ronde keperawatan menjadi tidak optimal.
3. Staffing
Kajian Data
Di Ruang Cempaka setiap ada tenaga perawat baru selalu diorientasikan baik lingkungan maupun tugas-tugasnya. Pembuatan jadwal dinas sudah dilaksanakan kepala ruangan dengan melibatkan perawat ruangan. Penilaian kinerja dilakukan oleh Kepala Ruang dengan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Analisa
Hampir semua fungsi Kepala Ruangan sebagai penggerak sudah berjalan baik. Di Ruang Cempaka, Kemampuan SDM dengan latar belakang pendidikan DIII Keperawatan sangat penting untuk meningkatkan asuhan keperawatan yang komprehensif dengan Modifikasi Tim-Primer.
4. Controling (pengawasan)
Kajian Data
Pengontrolan yang bersifat umum telah dilaksanakan oleh kepala ruang, melalui inspeksi langsung maupun laporan secara lisan. Apabila staf melakukan kesalahan dalam melakukan tugas dan kewajibannya, maka kepala ruang akan menegur secara lisan dan memberikan pembinaan. Bila staf bersangkutan berulang kali melakukan kesalahan, maka Kepala Ruang berkoordinasi dengan koordinator dan Kasi Keperawatan.
Analisa
Secara umum pelaksanaan pengawasan oleh Kepala Ruang telah berjalan sesuai dengan standar yang ada. Baik pengontrolan yang bersifat pengendalian pendahuluan. Concurent control dan feedback control dengan melibatkan Katim atau Staf yang telah ditunjuk bila kepala ruang tidak berada ditempat.
D. UNSUR OUTPUT
1. Efisiensi ruang Rawat
Efisiensi pelayanan meliputi 3 indikator mutu pelayanan kesehatan yaitu BOR, LOS, TOI
a. BOR (Bed Occupency Rate) menunjukan sampai seberapa jauh pemakaian tempat tidur yang tersedia di rumah sakit dalam jangka waktu tertentu, bila nilai ini mendekati 100% berarti ideal. Standar nasional untuk RSO dalam satu tahun adalah 60-85%, (Sitrus)
Rumus untuk menghitung BOR adalah sebagai berikut:
Jumlah hari perawatan rumah sakit
Jumlah tempat tidur x jumlah hari dalam satu satuan waktu

Dibawah ini adalah angka penghitungan BOR untuk Ruang Cempaka periode Januari – Oktober 2009:
Tabel 20
BOR Ruang Cempaka Bulan Januari-Oktober 2009

No Bulan BOR Jmlh rata-rata BOR
1 Januari 62.69



697.41 = 69.74
10
2 Februari 66.21
3 Maret 63.81
4 April 62.80
5 Mei 65.10
6 Juni 60.50
7 Juli 87.00
8 Agustus 71.00
9 September 62.50
10 Oktober 95.80
jumlah 697.41
Jadi BOR Ruang Cempaka periode Januari–Oktober 2009 adalah 69,74%
b. LOS (Length Of Stay) menunjukan lama waktu perawatan tiap pasien. Lama waktu rawat yang baik maksimal 12 hari, standar nasional RSO dalam satu tahun adalah 6-9 hari.
Rumus untuk menghitung LOS adalah sebagai berikut:
Jumlah Hari Perawatan Pasien Keluar
Jumlah Pasien Keluar (Hidup+Mati)
Dibawah ini adalah angka penghitungan LOS untuk Ruang Cempaka, periode Januari-Oktober 2009

Tabel 21
LOS Ruang Cempaka Bulan Januari-Oktober 2009
No. Bulan LOS Jumlah Rata-rata LOS
1 Januari 6.84



61.11 = 6.1
10
2 Februari 4.17
3 Maret 7.58
4 April 5.80
5 Mei 5.47
6 Juni 5.79
7 Juli 8.61
8 Agustus 6.28
9 September 5.56
10 Oktober 5.01
Jumlah 61.11
Sumber : Bagian Perencanaan dan Rekam Medis Tahun 2009

Jadi LOS Ruang Cempaka periode Januari-Oktober 2009 adalah 6 hari.
c. TOI (Turn Over Interval) menunjukan waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong atau waktu antara satu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai dengan diisi lagi. Standar 1-3 hari untuk RSO dalam satu tahun (Sitrus).

(Jumlah TT X Hari) – Hari Perawatan Rumah Sakit
Jumlah Pasien Keluar (Hidup+Mati)

Angka perhitungan TOI untuk ruang cempaka periode Januari-Oktober 2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 22
TOI Ruang Cempaka Bulan Januari-Oktober 2009
No. Bulan TOI Jmlh rata-rata TOI
1 Januari 9.55




76.1 = 7.61
10

2 Februari 14.77
3 Maret 10.12
4 April 8.29
5 Mei 7.03
6 Juni 8.09
7 Juli 4.04
8 Agustus 5.02
9 September 6.74
10 Oktober 2.45
Jumlah 76.10
Sumber : Bagian Perencanaan dan Rekam Medis Tahun 2009

d. BTO (Bed Turn Over) menunjukkan frekwensi pemakaian tempat tidur rumah sakit satu satuan waktu tertentu. BTO menggambarkan tentang tingkat pemakaian tempat tidur. Standarnya adalah 5-45 hari, sedangkan yang baik lebih dari 40 hari (Djojodibroto, 1997).


Angka perhitungan BTO untuk ruang Cempaka periode Januari-Oktober 2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 23
BTO Ruang Cempaka
Bulan Januari-Oktober 2009
No. Bulan BTO Jmlh rata-rata BTO
1 Januari 50.86



455.42 = 45.5
10
2 Februari 47.21
3 Maret 40.00
4 April 49.98
5 Mei 42.28
6 Juni 42.07
7 Juli 45.72
8 Agustus 42.71
9 September 50.38
10 Oktober 44.21
jumlah 455.42
Sumber : Bagian Perencanaan dan Rekam Medis Tahun 2009

Tabel 24
Indikator Efisiensi Ruangan menurut Depkes
No Indikator Standar RSO
1 BOR 60-85%
2 LOS 6-9 Hari
3 TOI 1-3 Hari
4 BTO 40-50


Kajian Data
Tabel 25
Efisiensi Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta
Bulan Januari–Oktober 2009
No Indikator Jumlah Standar RSO Keterangan
1 BOR 69,74% 60-85% Standar Depkes
2 LOS 6 hari 6-9 Hari Standar Depkes
3 TOI 8 hari 1-3 Hari Di atas Standar Depkes
4 BTO 45,5 pasien 40-50 pasien Standar Depkes
Sumber : Bagian Perencanaan & Rekam Medis Tahun 2009.
Analisa Data
Berdasarkan kajian data di atas didapatkan hasil bahwa BOR, LOS, dan BTO Ruang Cempaka pada Bulan Januari-Oktober 2009 sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Depkes. Sedangkan TOI Ruang Cempaka pada periode yang sama lebih besar daripada standar yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit.
2. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
Proses asuhan keperawatan merupakan suatu proses yang meliputi pengkajian, diagnosa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang bertujuan untuk pembebasan dari gejala, eliminasi risiko, pencegahan, pengetahuan atau ketrampilan kesehatan bagi pasien (Nursalam, 2000).
Menurut Swansburg (1996), elemen primer manajemen pelayanan keperawatan adalah adanya sistem untuk mengevaluasi seluruh upaya, termasuk evaluasi proses manajemen, praktek keperawatan, dan seluruh pelayanan keperawatan. Evaluasi memerlukan standar yang dapat digunakan sebagai tolok ukur kualitas dan kuantitas pelayanan disamping sebagai alat bantu menentukan sasaran tiap divisi dalam keperawatan.
Kualitas proses asuhan keperawatan diantaranya ditentukan oleh penerapan standar asuhan keperawatan (SAK) yang merupakan pedoman praktik keperawatan, kepuasan pasien terhadap mutu asuhan keperawatan, dan kepatuhan perawat terhadap prosedur tetap atau standar tindakan keperawatan.

a. Instrumen A (Penerapan SAK)
1) Kajian Teori
Standar praktik keperawatan atau standar asuhan keperawatan (SAK) di Indonesia disusun oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) yang terdiri dari beberapa standar, yaitu:
a) Standar Pengkajian Keperawatan
b) Standar Diagnosis Keperawatan
c) Standar Perencanaan Keperawatan
d) Standar Pelaksanaan / Intervensi
e) Standar Evaluasi
f) Standar Pencatatan Keperawatan (Depkes, 1998)
Instrumen untuk menilai penerapan SAK dikeluarkan oleh Depkes dan disebut instrumen A. Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah baku. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari.
Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan sehingga terwujud data yang lengkap, nyata dan tercatat bukan hanya tingkat kesakitan dari pasien tetapi juga jenis, kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk perkembangan keperawatan, khususnya proses profesionalisasi keperawatan serta upaya untuk membina dan mempertahankan akuntabilitas perawat dan keperawatan. Dalam membuat dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek:
a) Keakuratan data
b) Breavity (ringkas)
c) Legibility (mudah dibaca)

Komponen dokumentasi keperawatan meliputi:
a) Pengkajian
Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus tentang keadaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen pengkajian meliputi pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan masalah.
b) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien, dibuat sesuai dengan wewenang perawat, dengan komponen terdiri atas masalah, penyebab dan gejala atau problem, etiology, and symptom (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi, dapat ditanggulangi oleh perawat.
c) Intervensi
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan. Komponen rencana perawatan meliputi prioritas masalah, tujuan implementasi dan rencana tindakan. Prioritas masalah ditentukan dengan memberi prioritas utama masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah yang mengancam masalah kesehatan pasien. Prioritas ketiga adalah masalah yang mempengaruhi perilaku.
d) Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikut sertakan pasien dan keluarga. tindakan keperawatan, aktivitas keperawatan.
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana yang ada, menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien, menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan kepada klien, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada, menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik, menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis, menjaga privasi, dan mengutamakan keselamatan pasien, melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respon pasien, merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien, mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan, merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan, melaksanakan tindakan perawatan pada posedur teknik yang telah ditentukan
e) Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan secara periodik sistematis, dan beencana untuk menilai pekembangan pasien. Evaluasi dilaksanakan dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk mengidentifikasi masalah dan rencana keperawatan pasien termasuk strategi keperawatan yang telah diberikan untuk memecahkan masalah pasien. Evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim kesehatan lain dan dilakukan sesuai dengan standar
f) Catatan Asuhan Keperawatan
Pencatatan merupakan data tertulis tentang kesehatan pasien dan perkembangan pasien selama dalam pemberian asuhan keperawatan. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi, dan laporan, dilakukan setelah tindakan dilaksanakan. Penulisan harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan. Setiap pencatatan harus mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan dan waktu pelaksanaan dan menggunakan formulir yang telah ada dan disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2) Kajian Data
Menurut data yang didapatkan dari observasi 10 rekam medis pasien pada tanggal 1-2 Desember 2009, didapatkan data bahwa:

Tabel 26
Hasil Evaluasi Standar Asuhan Keperawatan dengan Instrumen A
Di Ruang C RSOP Prof.Dr.R. Soeharso Surakarta

No Aspek Yang Dinilai Persentase Berdasar Standar DEPKES
1 Pengkajian keperawatan 49,16%
2 Diagnosa 68,3%
3 Perencanaan 62%
4 Implementasi 63%
5 Evaluasi 44,1%
6 Catatan askep 66,1%
Rata-rata 58,78 %
Sumber : Hasil observasi langsung 10 status pasien di Ruang C RSOP Surakarta 2009
Analisa
Berdasarkan Tabel 15 tentang hasil evaluasi standar asuhan Keperawatan dengan instrumen A bahwa prosentase rata-rata pelaksanaan asuhan keperawatan 58,78% yang berarti masuk dalam kategori sedang. Catatan asuhan keperawatan di Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta ditulis dengan format yang baku (pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi). Secara umum pendokumentasian proses asuhan keperawatan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan, akan tetapi masih banyak hal-hal yang belum sesuai seperti penulisan implementasi bersifat rutinitas, belum berfokus pada pasien.

b. Instrument B (Kepuasan Pasien)
Tabel 27
Evaluasi Mutu Pelayanan Keperawatan di Ruang C
RSOP Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta
N: 15

No Kriteria Ya % Tidak %
1 Apakah perawat selalu memperkenalkan diri? 7 46,66 8 53,33
2 Apakah perawat melarang pengunjung merokok di ruangan? 14 93,33 1 6,66
3 Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu makan pasien? 10 66,66 5 33,33
4 Apakah perawat pernah menanyakan adanya makanan pantangan dalam keluarga? 7 46,66 8 53,33
5 Apakah perawat memperhatikan jumlah diet yang dimakan oleh pasien? 5 33,33 10 66,66
6 Bila pasien tidak mampu makan sendiri, apakah perawat membantu menyuapi? 9 60 6 40
7 Pada saat pasien dipasang infus, apakah perawat selalu memeriksa cairan/tetesannya dan area sekitar pemasangan infus? 15 100 - 0
8 Bila pasien mengalami kesulitan buang air besar, apakah perawat menganjurkan makan buah, sayur, minum yang cukup dan banyak bergerak? 9 66.66 6 33.33
9 Pada saat perawat membantu pasien BAB/BAK, apakah perawat memasang sampiran/selimut, menutup pintu/jendela, mempersilakan pengunjung keluar ruangan? 12 88.88 3 11.11
10 Apakah ruangan tidur pasien selalu dijaga kebersihannya? 15 100 - 0
11 Apakah lantai kamar mandi/WC selalu: bersih, tidak licin, tidak berbau, cukup terang? 11
73,33 4 26,66
12 Selama pasien belum mampu mandi, apakah dimandikan oleh perawat? 5 33,33 10 66,66
13 Apakah pasien dibantu oleh perawat, bila tidak mampu: menggosok gigi, membersihkan mulut atau mengganti pakaian atau menyisir rambut 6 40 9 60
14 Apakah alat-alat tenun seperti seprei, selimut,dll diganti setiap kotor?
14
93,33
1
6,66
15 Apakah perawat pernah memberikan penjelasan akibat dari: kurang bergerak, berbaring terlalu lama?
14
93,33
1
6,66
16 Pada saat pasien masuk ruangan, apakah perawat memberikan penjelasan tentang fasilitas yang tersedia dan cara penggunaannya, peraturan/tata tertib yang berlaku di RS?
11
73,33
4
26,66
17 Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat memanggil nama pasien dengan benar? 15 100 - -

No Kriteria Ya % Tidak %
18 Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat mengawasi keadaan pasien secara teratur pada pagi, sore maupun malam hari?
15 100 - -
19 Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat segera memberi bantuan bila diperlukan?
15 100 - -
20 Apakah perawat bersikap sopan dan ramah? 15 100 - -
21 Apakah pasien/keluarga mengetahui perawat yang bertanggungjawab setiap kali pergantian dinas?
12
80
3
20
22 Apakah perawat selalu memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan perawatan/pengobatan?
13
86,66
2
13,33
23 Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan memperhatikan setiap keluhan pasien?
15
100
-
-
24 Dalam hal memberikan obat, apakah perawat membantu menyiapkan/meminumkan obat?
9
60
6
40
25 Selama pasien dirawat, apakah diberikan penjelasan tentang perawatan/pengobatan/pemeriksaan lanjutan setelah pasien diperbolehkan pulang?
13

86,66
2
13,33
JUMLAH 88 83.55 38 16.44
Sumber: Hasil wawancara dengan pasien tanggal 3 Desember 2009

Analisa
Hasil evaluasi yang tersaji pada tabel di atas menunjukkan bahwa menurut pasien, perawat telah menanyakan nafsu makan, memeriksa infus, memberikan bantuan bila diperlukan, memperhatikan keluhan pasien, dan memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan serta tentang perawatan lanjutan ketika pasien pulang. Namun, pasien mengatakan penjelasan yang diberikan, khususnya mengenai perawatan lanjutan setelah pasien pulang, belum terlalu jelas. Perawat belum menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh pasien untuk mendukung kesembuhannya atau mencegah infeksi seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, makan makanan tinggi protein, atau menghindari manipulasi terhadap luka.
Hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 3 sampai 5 Desember 2009 juga menunjukkan bahwa ketika pasien akan pulang, perawat hanya menyampaikan kapan perawatan luka harus dilakukan dan menganjurkan kepada pasien untuk memanggil petugas kesehatan ke rumah atau mendatangi tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas.

c. Instrumen C (Observasi)
Yaitu evaluasi tentang pedoman observasi tindakan keperawatan. Observasi yang dilakukan adalah tindakan perawatan yang dilakukan selama 3 hari pada tanggal 1-3 November 2009
Kajian Data
Dari observasi beberapa tindakan perawatan yang dilakukan oleh perawat selama tiga hari di dapatkan hasil sebagai berikut
Tabel 28
Hasil Observasi Tindakan Perawatan 2-3 Desember 2009
Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. R Soeharso Surakarta

No Prasat Frekuensi Nilai Keterangan
1 Memasang infuse 5 80,30 % Belum memakai perlak untuk memasang infuse
2 Mengganti Balutan 5 93,30 %  Tidak selalu mencatat observasi dan respon pasien
 Tidak menjelaskan kepada pasien tetang posedur tindakan
3 Memberikan obat oral 5 74%  Tidak menunggui saat pasien minum obat
 Tidak menulis reaksi pasien
4 Memberikan obat suntikan 5 89,45 %  Tidak dijelaskan pada pasien tindakan yang di lakukan
 Tidak dicatat reaksi pasien
5 Mengukur suhu badan 5 58,75 %  Menggunakan botol yang berisi air disinfektan tanpa air sabun
6 Mengganti alat tenun kotor pada tempat tidur tanpa memindahkan pasien 5 72 %  Ember bersih
 Larutan tidak ada
 Perlak tidak dibersihkan dengna lautan desinfektan
 Alas tempat tidur dan kasur tidak dibersihkan dengan larutan desinfektan
 Tidak ada lap kering dan basah
Rata-rata 79,51 %
Sumber : Hasil observasi tindakan perawatan 1-3 Desember 2009
Analisa
Dari enam tindakan yang diobservasi, menunjukkan bahwa tindakan keperawatan yang dilakukan di ruang Cempaka di RSO Prof.Dr. R. Soeharso Surakarta tergolong baik (79,51 %)

Tabel 29
Hasil Evaluasi Total Instrmen A, B, dan C
Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta
Ruang Instrumen Rata-rata
A B C
Cempaka 58,78% 83,55% 79,51% 73,95%

Berdasarkan tabel 18 dapat di ketahui bahwa secara umum penampilan pelayanana keperawatan di nilai dari hasil penilaian dengan instrument ABC Dikategorikan cukup (73,95%).
3. Pelaksanaan Universal Precaution
Kajian Teori
Salah satu hasil akhir yang diharapkan dari proses asuhan keperawatan adalah risiko minimal dan tidak terjadinya komplikasi. Tindakan UP merupakan tindakan untuk menurunkan risiko serta mencegah timbulnya komplikasi pada pasien oleh karenanya menjadi salah satu indikator yang menentukan mutu asuhan keperawatan yang baik.
Kajian Data
Observasi terhadap pelaksanaan universal precaution di ruang Cempaka menunjukkan data sebagai berikut:
Tabel 30
Evaluasi Pelaksanaan Universal Precaution
Ruang Cempaka RSO Prof. Soeharso Surakarta

No Aspek yang dinilai Pelaksanaan
Ya % Tidak %
1 Perawat cuci tangan ketika akan kontak dengan pasien atau melakukan tindakan pada pasien 5 35,7 % 9 64,3 %
2 Perawat cuci tangan ketika selesai kontak dengan pasien atau telah selesai melakukan tindakan terhadap pasien. 14 100 % 0 0 %
3 Perawat mencuci tangan dengan sabun/deterjen/desinfektan 14 100 % 0 0 %
4 Perawat mencuci tangan di tempat air mengalir (wastafel) 14 100 % 0 0 %
5 Perawat menggunakan sarung tangan ketika kontak/melakukan tindakan dengan pasien. 12 85,7 % 2 14,3 %
6 Perawat menggunakan masker ketika melakukan tindakan terhadap pasien. 14 100 % 0 0 %

No Aspek yang dinilai Pelaksanaan
Ya % Tidak %
7 Perawat menggunakan baju pelindung ketika melakukan tindakan terhadap pasien 14 100 % 0 0 %
8 Perawat menggunakan alat steril hanya untuk satu pasien 8 57,1 % 6 42,9 %
9 Perawat menggunakan alat-alat disposibel hanya untuk sekali pakai. 14 100 % 0 0 %
10 Setelah menggunakan alat-alat non disposibel, perawat mencucinya dengan cairan desinfektan. 14 100 % 0 0 %
11 Perawat mensterilkan alat-alat steril di instalasi sterilisasi alat. 14 100 % 0 0 %
12 Perawat menyimpan alat-alat kesehatan di tempat khusus. 14 100 % 0 0 %
13 Perawat membuang benda-benda tajam di tempat khusus benda-benda tajam 0 0 % 14 100 %
14 Perawat membuang sampah medis di tempat sampah medis. 9 64,3 % 5 35,7 %
15 Perawat membuang sampah nonmedis di tempat sampah nonmedis. 8 57,1 %
6 42,9 %


Analisa
Pada tabel di atas nampak bahwa perawat di ruang Cempaka telah melaksanakan universal precaution seperti mencuci tangan setelah melakukan tindakan pada pasien, menggunakan alat pelindung diri (seperti sarung tangan, masker, baju pelindung), menggunakan alat disposibel untuk sekali pakai, dan menyeterilkan alat-alat non disposibel. Namun sebagian besar perawat tidak melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan pada pasien, menggunakan alat steril untuk lebih dari satu pasien, membuang benda-benda tajam di tempat khusus, dan kesadaran dalam hal pemisahan sampah medis dan non medis masih belum optimal. Hasil observasi juga mendapatkan fakta bahwa pengisian lembar INOS belum optimal. Wawancara dengan petugas IPI memberikan informasi bahwa perawat juga belum melapor jika terjadi needle stick injury.


4. Kepuasan Kerja Karyawan
Kajian Teori
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya (Sutono, 2001). Kepuasan dipengaruhi oleh sumber daya pendidikan, pengetahuan, sikap, gaya hidup, demografi, budaya, sosial ekonomi, keluarga dan situasi yang dihadapi. Pada survey di Texas (Wandel et al, 1981), bahwa sebab utama ketidakpuasan adalah gaji yang tidak setimpal, pekerjaan menulis yang terlalu banyak, penunjang administrasi yang kurang dan kurangnya pendidikan yang menunjang karir, hubungan yang buruk dengan profesi lain, sulitnya mendapat jam dinas yang teratur, akhirnya beberapa perawat meninggalkan rumah sakit dan berhenti bekerja.
Wesley dan Yukl (1977) juga mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah :
a. Kompensasi ; sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah ia membandingkannya dengan rekan lain baik di dalam maupun di luar organisasi tempat ia bekerja
b. Supervise; tanggapan bawahan terhadap perilaku atasan di waktu memberikan bimbingan
c. Pekerjaan itu sendiri; signifikansi pekerjaan, umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektifitas dan hasil kerjanya)
d. Rekan sekerja; perilaku rekan sekerja terhadap individu pekerja yang lain.
e. Keamanan kerja; kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaannya selama ia mau, termasuk imbalan gaji, pinjaman, hari libur, fasilitas kesehatan, pensiunan di hari depannya
f. Kesempatan pengembangan diri; kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir
Menurut Djojodibroto (1997), untuk memperoleh pelayanan asuhan keperawatan yang baik diperlukan staf yang mempunyai dedikasi tinggi dan komitmen terhadap tugas-tugas yang diberikan. Disamping komitmen yang ada pada staf, diperlukan juga kepuasan kerja yang akan mendorong staf melaksanakan komitmennya itu secara baik. Karena kepuasan kerja karyawan dapat mempengaruhi hasil mutu asuhan keperawatan yang diberikan.
Pekerja yang baik tentu harus mendapat imbalan yang baik pula. Sistem penggajian RS haruslah:
a. Memenuhi ketentuan upah minimum.
b. Sesuai dengan kemampuan anggaran RS.
c. Adil, merupakan pengakuan bahwa ada hubungan antara imbalan jasa dengan pekerjaan yang dilakukan dan juga dengan prestasi kerja untuk itu harus ada gaji dasar.
d. Mampu mempertahankan tenaga yang baik.
e. Mampu menarik tenaga yang baik dari luar
f. Sumber Daya Manusia (SDM)/ tenaga kerja adalah unsur terpenting dalam institusi RS. Mutu pengelolaan dan pelayanan RS dapat dipastikan akan rendah apabila mutu tenaga kerja rendah. Cara untuk meningkatkan mutu tenaga kerja ditempuh dengan:
1) Penempatan tenaga yang sesuai.
2) Pemberian penghargaan yang wajar berdasar prestasi kerja.
3) Hubungan kerja yang manusiawi.
4) Adanya usaha untuk peningkatan mutu SDM
5) Kejelasan siapa atasan fungsional dan siapa atasan struktural

Kajian data
Tabel 31
Hasil Kuesioner Terhadap Tingkat Kepuasan Kerja Perawat
Di Ruang CempakaTanggal 2-3 Desember 2009
N=10
No Pertanyaan Ya (%) Tidak (%)
1 Adakah visi dan misi bidang keperawatan dan rumah sakit. 9 90 1 10
2 Apakah visi dan misi sudah disosialisasikan. 9 90 1 10
3 Apakah perawat ruangan sudah memahami tentang visi dan misi tersebut. 8 80 2 20
4 Apakah dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien sudah sesuai dengan visi dan misi. 9 90 1 10
5 Apakah diruangan terdapat tujuan keperawatan. 10 100 0 0
6 Apakah setiap perawat memahami tujuan keperawatan RS. 5 50 5 50
7 Setiap tujuan keperawatan telah disosialisikan kepada perawat Ruang Cempaka 7 70 3 30
8 Apakah ada standar kebijakan tertentu yang telah ditetapkan. 10 100 0 0
9 Perawat perlu diberi kebijakan dalam melanjutkan pendidikan sesuai dengan fungsinya 10 100 0 0
10 Perawat perlu mendapat kebijakan cuti kerja 10 100 0 0
11 Perawat pulang dan datang sesuai waktu yg ditetapkan 8 80 2 20
12 Perawat melakukkan tugasnya sesuai dengan fungsinya 10 100 0 0
13 Diruangan sudah terdapat SOP dan SAK 10 100 0 0
14 Perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai SOP dan SAK 9 90 1 10
15 Apakah sudah terdapat struktur organisasi di ruangan 10 100 0 0
16 Setiap perawat bekerja sesuai struktur organisasi 10 100 0 0
17 Ada perawat Cempaka yg sudah mampu dalam memberikan askep secara optimal 7 70 3 30
18 Penjadwalan dinas di Cempaka dibuat berdasar persetujuan perawat ruang Cempaka sesuai kebutuhan 10 100 0 0
19 Tenaga baru selalu di orientasi 10 100 0 0
20 Ada pertemuan rutin di ruangan 4 40 6 60
21 Ada pelatihan, seminar staf keperawatan secara periodic 8 80 2 20
22 Ada sosialisasi dari hasil pelatihan kapada perawat lain 0 0 10 100
23 Ada superviser 10 100 0 0
24 Supervisi bermanfaat bagi perawat ruang 8 80 2 20
25 Dalam memberikan askep, perawat menerapkan komunikasi terapiutik kepada pasien 10 100 0 0

No Pertanyaan Ya (%) Tidak (%)
26 Di Cempaka hubungan komunikasi antar staf kondusif 10 100 0 0
27 Perawat pelaksana mendapat pengarahan dari kepala ruang tentang tugas dan program yg telah ditetapkan 10 100 0 0
28 Ada penilaian thdp kinerja perawat secara optimal dalam memberikan askep 2 20 8 80
29 Ada penghargaan bila perawat punya kinerja baik 0 0 10 100
30 Ada sangsi / hukuman bila perawat melanggar peraturan 1 10 9 90
31 Pre dan post conference telah dilakukan 1 10 9 90
32 Setiap pergantian shif dilakukan operan dinas antar perawat jaga 9 90 1 10
33 Ada kompensasi diruangan 9 90 1 10
34 Ada kompenssasi yg sudah disesuaikan dg beban kerja perawat 9 90 1 10
Jumlah 263 26,3% 77 77%
Sumber Data: Kuisioner perawat cempaka (modifikasi SAK Depkes 1997)

Tabel 32
Hasil Kuesioner Terhadap Tingkat Kepuasan Kerja Perawat
Di Ruang CempakaTanggal 2-3 Desember 2009
N=10
No Pernyataan Tidak puas (%) Cukup puas (%) Puas (%) Sgt puas (%)
1 Jumlah gaji yg diterima sesuai dg pekerjaan yang anda lakukan 0 50 50 0
2 Sistem penggajian yg dilakukan institusi tmpat anda bekerja 0 10 80 10
3 Jumlah gaji yang diterima dibandingkan pendidikan anda 0 20 80 0
4 Pemberian insentif tambahan atas suatu prestasi/kerja ekstra 20 70 0 10
5 Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang mendukung pekerjaan 20 80 0 0
6 Tersedianya fasilitas penunjang 30 70 0 0
7 Kondisi ruang kerja terutama berkaitan dg ventilasi ruang, bersih, kebisingan 30 20 50 0
8 Ada jaminan atas kesehatan / keselamatan kerja 0 50 50 0
9 Perhatian institusi Rumah Sakit terhadap anda 70 30 0 0
10 Hubungan antar karyawan dalam kelompok kerja 0 10 80 10
11 Kemampuan dalam bekerjasama antar karyawan 0 10 90 0

No Pernyataan Tidak puas (%) Cukup puas (%) Puas (%) Sgt puas (%)
12 Sikap rekan-rekan kerja terhadap anda 0 50 40 10
13 Kesesuaian antara pekerjaan dengan latar belakang pendidiakan anda 0 30 70 0
14 Kemampuan dlm menggunakan waktu bekerja dengan penugasan yang diberikan 0 50 50 0
15 Kemampuan supervisor dlm membuat keputusan 10 50 40 0
16 Perlakuan atasan selama saya bekerja di Rumah Sakit 0 50 30 20
17 Kebebasan melakukan suatu metode sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan 0 50 40 10
18 Kesempatan meningkatkan kemampuan kerja melalui pelatihan/pendidikan tambahan 10 80 0 10
19 Kesempatan untuk mendapat posisi yg lebih tinggi 50 50 0 0
20 Kesempatan untuk membuat suatu prestasi dan mendapat kenaikan pangkat. 100 0 0 0
Jumlah 34% 82% 75% 8%
Sumber Data: Kuisioner perawat cempaka (modifikasi SAK Depkes 1997)
Analisa data
Perawat, dalam hal pelaksanaan kemandirian tindakan keperawatan terhadap pasien dan ketersediaan fasilitas yang ada tersedia di RSO Prof. Dr Soeharso Surakarta, merasa cukup puas. Kepuasan ini terutama diungkapkan dalam hal kesempatan meningkatkan kemampuan kerja melalui pelatihan pendidikan tambahan. Hal ini sangat mambantu dalam meningkatkan pelayanan di bidang keperawatan. Namun sebagian besar perawat masih merasa tidak puas terhadap perhatian institusi Rumah Sakit terhadap merekadan kurangnya kesempatan untuk membuat suatu prestasi dan mendapat kenaikan pangkat. Ketidakpuasan perawat terhadap fasilitas Rumah Sakit adalah kondisi ruang kerja terutama berkaitan dengan ventilasi ruangan, bersih dan kebisingan karena sedang ada renovasi gedung A dan B

E. IDENTIFIKASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL RUANG CEMPAKA (ANALISIS SWOT)
Analisis SWOT adalah kajian yang dilakukan terhadap suatu organisasi yang sedemikian rupa sehingga diperoleh keterangan akurat tentang berbagai faktor kekuatan, kelemahan, kesempatan atau peluang dan hambatan/ancaman yang dimiliki serta atau dihadapi oleh organisasi.
Dengan analisis ini akan diketahui dengan jelas berbagai persiapan yang perlu dilakukan sehingga perencanaan yang akan dibuat dapat lebih realistis. Pengkajian yang dilakukan di Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. R Soeharso Surakarta dengan sumber data terdiri dari Perawat, Pasien, Mahasiswa Praktek menggunakan teknik pengambilan data dengan kuisioner, observasi, wawancara langsung terhadap sumber data dan melihat langsung buku dokumentasi di Ruang Cempaka.
1. Kekuatan (Strenght)
adalah faktor internal yang bersifat positif yang dapat mempengaruhi organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan penting dalam mencapai tujuan organisasi. Adapun kekuatan Ruangan Cempaka sebagai berikut :
a. Rumah sakit terletak di tepi jalan utama yang dilalui transportasi umum, jalur Surabaya-Jogja, Surabaya-Semarang
b. Rumah sakit memiliki jam kunjung untuk menjaga ketenangan pasien
c. Di ruang Cempaka terdapat srtuktur organisasi yang tetap
d. Staf pelaksana keperawatan di Ruang Cempaka terdiri dari S1 keperawatan (14,28%), DIII keperawatan (70,40%), dan SPK (14,28%)
e. Ruangan bersih, nyaman dengan ventilasi yang cukup
f. Digunakan sebagai lahan praktek, magang mahasiswa
g. Ruang Cempaka telah memiliki struktur organisasi tim, sarana administrasi memadai, BOR pada akhir tahun 2009 mencapai 69.74%, data ini diperoleh dari data BOR ruang Cempaka.
h. Orientasi tenaga sudah dilakukan
i. Kebijakan tentang sistem reward dan punisment sudah ditetapkan.
j. Filosofi Rumah Sakit tidak membedakan latar belakang dan berpusat pada pasien dan karyawan rumah sakit
k. Fasilitas untuk pasien dan perawat cukup lengkap
l. Hak dan kewajiban pasien / penunggu pasien tertulis dengan jelas
m. Struktur organisasi tim sudah ditetapkan dan tertulis jelas di ruangan, sarana administrasi memadai
n. Komputer ruangan menggunakan akses internet
o. Hubungan antar personal harmonis
p. Sarana dan prasarana pelayanan asuhan keperawatan memadai
q. Akses dengan ruangan lain mudah dan cepat
r. Ruangan sudah memiliki daftar program tindakan pasien setiap hari
s. Perawat sudah melaksanakan universal precaution, ditunjukkan dengan penggunaan alat pelindung diri (topi, masker, handscoon, jubah dan sepatu boot) pada saat melakukan perawatan luka.
t. Ruang Cempaka telah memiliki tempat sampah medis dan non medis yang terpisah.
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimilki oleh organisasi. Beberapa kelemahan di Ruang Cempaka adalah :
a. Struktur organisasi sudah tertulis jelas di ruangan, namun belum sesuai dengan struktur terbaru (belum revisi).
b. Metode pelaksanaan TIM belum dilakukan secara optimal.
c. Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan masih bersifat rutinitas, belum mengarah pada pengkajian terhadap pasien secara optimal.
d. Kebijakan sistem reward and punishment masih belum terlaksana secara optimal, dibuktikan dengan perawat belum merasakan pelaksanaan sistem tersebut.
e. Pelaksanaan manajemen risiko di ruang Cempaka belum optimal. Misal, masih kurangnya kesadaran perawat untuk menggunakan handscoen pada saat mengoplos obat (Antibiotik), serta belum adanya tempat khusus untuk sampah benda-benda tajam (sharp container).
f. Jumlah perawat ruangan jika dibandingkan dengan hasil perhitungan menurut rumus Douglas dan Depkes masih kurang.
g. Pre conference, post cenference, dan ronde keperawatan belum terlaksana di ruangan.
h. Perawat hanya melakukan cuci tangan setelah melakukan tindakan terhadap klien.
i. Hasil wawancara dengan bagian PPI; perawat belum melapor kepada petugas PPI ketika terjadi needle stick injury.
j. Kesadaran perawat dalam hal pemisahan sampah medis dan non medis masih belum optimal.
3. Peluang (Opportunity)
adalah faktor eksternal yang bersifat positif yang dapat mempengaruhi organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan penting dalam mencapai tujuan organisasi. Peluang yang ada di Ruang Cempaka adalah:
a. Adanya kerja sama yang baik antara Institusi Pendidikan seluruh Indonesia yang terkait dengan pihak RSO Prof. Dr. R Soeharso.
b. Adanya pelanggan peserta Asuransi Kesehatan dari pemerintah maupun swasta (ASKES, ASTEK).
c. Adanya organisasi PPNI dan Komite Kepeawatan yang menaungi Profesi Keperawatan di Rumah Sakit.
d. Adanya kesempatan perawat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi
e. Adanya pengadaan alat dan pemeliharaannya serta adanya pelatihan staf.
4. Ancaman (Threat)
Adalah faktor eksternal yang dapat bersifat negatif yang apabila tidak di antisipasi akan dapat mempengaruhi dalam mencapai tujuan organisasi. Beberapa hal yang dapat mendapat ancaman adalah:
a. Persaingan dengan beberapa Rumah Sakit Swasta di sekitar RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta
b. Ruang Cempaka merupakan ruang perawatan kelas II & III dengan masyarakat menengah kebawah sehingga tuntutan masyarakat terhadap pelayanan bermutu juga meningkat
c. Adanya Undang-Undang perlindungan konsumen
d. Tuntutan masyarakat terhadap fasilitas dan peralatan yang canggih
e. Kecenderungan tuntutan masyarakat untuk peningkatan mutu pelayanan yang berkualitas

F. PERMASALAHAN / IDENTIFIKASI MASALAH
1. Rumusan Masalah
Dari hasil pengkajian, selanjutnya data-data tentang manajemen keperawatan di Ruang Cempaka diidentifikasi dan analisis untuk merumuskan masalah manajemen. Analisa data hasil pengkajian dapat di lihat pada Tabel 31 berikut.
Tabel 33
Analisa Data Masalah Manajemen Keperawatan
di Ruang Cempaka RSO Prof. Dr. R Soeharso
No Data Fokus Masalah





1 Wawancara:
 Berdasarkan wawancara dengan Karu dan penanggungjawab keperawatan, pelaksanaan pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum optimal.
Observasi:
 Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat bertanggung jawab terhadap seluruh pasien, sehingga perhatian perawat ke pasien kurang fokus.
 Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum dilaksanakan.

Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum dilaksanakan






2.


Observasi
 Pendokumentasian ASKEP masih belum lengkap:
• Skala prioritas masalah belum digunakan.
• SOAP masih kurang lengkap;
 Waktu tindakan belum dicantumkan
 Intervensi masih bersifat umum, belum sesuai dengan diagnosa keperawatan yang dibuat.
 Implementasi belum sesuai dengan intervensi, masih berupa rutinitas.
 Tindakan keperawatan belum mengacu pada spesifikasi kasus yang ada di ruang.

Ketidak lengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan pada pasien diruangan.



3 Pendataan
 Osteomielitis termasuk dalam 10 besar penyakit di ruang Cempaka.
 Pada Buku Register mondok pasien Ruang Cempaka tentang 10 besar penyakit, SAK osteomielitis belum tercantum. Belum terdapat SAK osteomielitis di ruangan.
No Data Fokus Masalah

4 Observasi
 Perawat hanya mencuci tangan ketika selesai kontak dengan pasien.
 Perawat jarang menggunakan sarung tangan ketika melakukan kontak dengan pasien.
 Kesadaran perawat dalam hal pemisahan sampah medis dan non medis masih belum optimal.
 Pengisian lembar INOS belum optimal.
 Ruangan belum memiliki sharp container.
Wawancara
 Petugas belum melapor kepada petugas PPI ketika terjadi needle stick injury.
Kesadaran untuk melaksanakan universal precaution dan manajemen risiko belum optimelial.
5 Pendataan
Perawat jarang memperkenalkan diri saat akan melakukan tindakan keperawatan
Observasi
Perawat belum melakukan komunikasi terapeutik saat melakukan tindakan Pelayan petugas kepada pasien belum optimal sehingga perlu di tingkatkan dengan komunikasi terapeutik
6 Wawancara
Pasien mengatakan perawat belum menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh pasien untuk mendukung kesembuhannya atau mencegah infeksi seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, makan makanan tinggi protein, atau menghindari manipulasi terhadap luka.
Observasi
Ketika pasien akan pulang, perawat hanya menyampaikan kapan perawatan luka harus dilakukan dan menganjurkan kepada pasien untuk memanggil petugas kesehatan ke rumah atau mendatangi tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas.Pasien dan keluarga belum pernah mendapat penyuluhan tentang penyakit dan perawatan luka di rumah Kurangnya informasi pada pasien tentang penyakit dan perawatan luka di rumah


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan, cetakan I edisi III. Bina Aksara
Depkes RI. 2001. Standar Peralatan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan. Catatan I. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Depkes. Jakarta
Douglas, Laura Mae. 1992. The Efective Nurse: Leader and manajer, fourth edition, mosbe year book. USA
Gillies. 1994. Nursing Manajement: A system apporch. Third Edition, WB Sounders. CO Philadelphia
Komite Keperawatan, bidang keperawatan. 2006. Instrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan. RS Ortopedi Prof. Dr.R Soeharso Surakarta
Monica Ellaine, L.La. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. Jakarta: EGC
Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi I. Jakarta: Salemba Medika
PPKC. 1998. Lokakarya Manajemen Kepala Bidang Keperawatan: Metode Asuhan Keperawatan, Pusat Pengembangan Keperawatan. Caroulus: Jakarta
Sabarguno. 2004. Sumber Daya Manusia RS, cetakan II. Konsorsium JVS Islam Jawa Tengah Yogyakarta
Sugiyanto. 1999. Lokakarya Mutu Keperawatan dan Holistik Nursing: Mutu Pelayanan Kesehatan. Surakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar