Selasa, 16 Maret 2010

BAB IV-V RSOP SURAKARTA ‘ 2010


BAB IV

PEMBAHASAN




A. Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan

Preconferens adalah suatu kegiatan di ruangan biasanya di pimpin oleh seorang Karu dilakukan pada pagi hari sebelum memulai kegiatan di ruangan (klasifikasi pasien, pembagian Katim, anggota dan pasien).

Pengkajian yang dilakukan oleh kelompok pada tanggal 30 November 2009 sampai 4 Desember 2009 melalui observasi dan wawancara dengan penanggungjawab ruangan memberikan data bahwa pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum dilaksanakan di ruang Cempaka.

Walaupun plan of action mengenai kegiatan ini tidak mendapatkan persetujuan dari Karu Cempaka, namun kami tetap melakukan preconference dan ronde keperawatan di ruang Cempaka dengan berusaha melibatkan seluruh staf keperawatan dan praktikan ruang Cempaka yang pada saat itu berada di ruangan.

Implementasi dilaksanakan pada tanggal 8 sampai dengan 19 Desember 2009. Pokok kegiatan yang dapat terlaksana sesuai dengan rencana adalah:

a. Mensosialisasikan kegiatan pre conference, post coference, dan ronde keperawatan di ruang Cempaka.

b. Melibatkan seluruh perawat untuk melakukan pre conference, post conference, dan ronde keperawatan.

Pada awal implementasi, tidak ada perawat ruangan yang mengikuti kegiatan pre conference, post conference dan ronde keperawatan. Namun, setelah kelompok melakukan beberapa kali pre conference, post conference dan ronde keperawatan, terdapat perawat ruangan yang mengikuti kegiatan ini walaupun jumlahnya masih minimal.

Ruang Cempaka merupakan ruangan untuk kasus-kasus orthopedi dengan infeksi dimana setiap hari di ruangan ini terdapat rata-rata 10 pasien yang harus menjalani perawatan luka dan hampir setiap hari terdapat pasien dengan program operasi maupun rontgen. Kegiatan pre conference tidak dapat terlaksana di ruangan ini secara optimal karena perawatan luka biasanya dimulai pada pukul 08.00. Disamping itu, jam datang perawat ruangan yang tidak bersamaan, juga menyebabkan sedikitnya jumlah perawat yang dapat dilibatkan dalam kegiatan pre conference yang dilaksanakan oleh kelompok. Hasil wawancara dengan Katim ruangan menunjukkan bahwa sebenarnya Katim ruangan maupun anggota sangat terbuka terhadap hal-hal yang menunjang kemajuan keperawatan, namun karena padatnya kegiatan pada pagi hari, serta belum adanya protap pre conference, Post conference, serta ronde keperawatan dari Bidang Keperawatan maka pre conference maupun ronde keperawatan belum terlaksana di ruangan ini.

B. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat dan setelah memberi asuhan kepada pasien. Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan serta respons pasien terhadap asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasien yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan. Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggungjawabkan (Doenges & Burley, 2005)

Berdasarkan pengkajian yang kami lakukan pada tanggal 30 November 2009 sampai dengan 4 Desember 2009, diperoleh data bahwa pendokumentasian asuhan keperawatan belum dilaksanakan secara optimal, terbukti dengan belum dicantumkannya waktu tindakan, intervensi masih bersifat umum, implementasi belum sesuai dengan intervensi dan hanya berupa kegiatan rutinitas. Sehingga kami menyusun plan of action dengan pokok kegiatan sbb:

1. Melakukan penyegaran tentang aspek legal dokumentasi keperawatan.

2. Mensosialisasikan pendokumentasian asuhhan keperawatan.

3. Mengevaluasi sistem pendokumentasian asuhan keperawatan.

Kegiatan penyegaran mengenai aspek legal pendokumentasian asuhan keperawatan telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Desember 2009 pukul 08.00 sesuai hasil koordinasi dengan kepala ruang Cempaka. Materi dan daftar hadir kegiatan ini terlampir. Selama dua minggu (tanggal 7 sampai 19 Desember 2009), kami melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan bersama dengan perawat ruangan. Kami juga telah melakukan koordinasi dengan Karu mengenai format RM baru yang memungkinkan perawat mendokumentasikan waktu tindakan dan evaluasi yang lebih ringkas dengan menggunakan metode SOAP, namun dengan beberapa pertimbangan seperti sumber daya dan biaya, format ini tidak mendapatkan persetujuan dari Karu.

Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang pada awalnya tidak mencantumkan waktu tindakan serta menggabungkan planning dan implementasi pada satu bagian, pada saat ini telah mengalami perubahan. Walaupun masih menggunakan format RM yang lama (SOAPIER), namun dalam pendokumentasiannya, perawat telah mencantumkan waktu tindakan serta memisahkan penulisan planning dan implementasi.

C. Penyusunan SAK Osteomyelitis

SAK atau Standar Asuhan Keperawatan merupakan uraian pernyataan tingkat kinerja yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses, dan hasil dapat dinilai. Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/klien. Hubungan antara standar dan kualitas saling terkait erat karena melalui standar, dapat dinilai apakah nilai pelayanan meningkat atau memburuk (Wilkinson, 2006)

Data yang kami dapatkan saat pengkajian antara tanggal 30 November 2009 sampai dengan 4 Desember 2009 menunjukkan bahwa Osteomyelitis masuk dalam 10 besar penyakit di ruang Cempaka, namun SAK penyakit ini masih menggunakan referensi lebih dari 10 tahun yang lalu dan belum tersosialisasikan di ruangan. Sehingga, kami melakukan pokok kegiatan sbb:

1. Menyusun SAK Osteomielitis.

2. Melakukan koordinasi dengan Karu dan Katim di ruangan. keperawatan dengan diagnosa osteomielitis.

3. Melakukan koordinasi dengan bidang keperawatan.

4. Mengevaluasi sistem pendokumentasian.

SAK Osteomyelitis telah kami susun dan mendapatkan persetujuan dari Karu Cempaka, Pembimbing Klinik, dan bagian Bidang Keperawatan (SAK dan lembar persetujuan terlampir). SAK yang telah mendapatkan persetujuan ini kemudian kami sosialisasikan kepada ruangan Cempaka dan kami tempatkan dalam filebox tersendiri di dalam lemari berkas kantor perawat Cempaka, sehingga nantinya dapat diakses dengan mudah bila dibutuhkan. Diharapkan nantinya dengan adanya SAK osteomyelitis ini, perawat akan lebih terfokus dalam memberikan intervensi, implementasi dan evaluasi yang tepat.

D. Pelaksanaan Universal Precaution dan Manajemen Risiko

Universal precaution adalah pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Dalam menggunakan kewaspadaan universal precaution petugas kesehatan memberlakukan semua pasien sama dengan menggunakan prinsip ini, tanpa memandang penyakit atau diagnosanya dengan asumsi bahwa risiko atau infeksi berbahaya (Nursalam, 2007).

Pengkajian mengenai pelaksanaan universal precaution, baik melalui observasi dan penilaian dengan kuesioner, maupun wawancara, memberikan data bahwa kesadaran perawat untuk melaksanakan universal precaution dan manajemen risiko belum optimal. Untuk itu, kami menetapkan beberapa pokok kegiatan seperti:

1. Melakukan penyegaran pada perawatan ruang Cempaka tentang Universal Precaution dan Manajemen Risiko.

2. Melakukan koordinasi dengan Rawat inap.

3. Melaksanakan universal precaution dan manajemen Risiko bersama perawat.

Selama dua minggu (4-18 Desember 2009), kami bersama dengan perawat ruangan melaksanakan universal precaution dan menejemen risiko. Kami juga mengadakan koordinasi dengan pihak PPI dalam pengadaan sharp container yang pada minggu ke tiga penggunaan fasilitas ini oleh perawat ruang Cempaka mulai mengalami peningkatan.

Kegiatan penyegaran mengenai universal precaution dan manajemen risiko telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Desember 2009 pukul 08.00 sesuai hasil koordinasi dengan kepala ruang Cempaka. Kegiatan ini mengundang narasumber dari PPI, Bapak Paryanto, S.Kep (materi dan daftar hadir terlampir). Setelah dilakukan penyegaran, dari hasil evaluasi didapatkan adanya peningkatan kesadaran dari perawat ruang tentang pentingnya cuci tangan sebelum melakukan tindakan ke pasien serta pemisahan antara sampah medis, non medis, dan benda-benda tajam.

Diharapkan RS ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso ke depan lebih memperhatikan lagi tentang pentingnya pelaksanaan universal precaution, khususnya bagi perawat sehingga angka infeksi nosokomial di RS ini dapat menurun.

E. Pendidikan Kesehatan pada Pasien

Kurang optimalnya pemberian pendidikan kesehatan pada pasien mengenai perawatan luka di rumah yang nampak pada saat pengkajian tanggal 30 November 2009 sampai 4 Desember 2009, mendorong kami untuk melakukan action dengan pokok kegiatan:

1. Bersama perawat ruangan membuat modul dan media informasi.

2. Melakukan penyegaran dengan perawat ruang Cempaka.

3. Bersama perawat memberikan pendidikan kesehatan perawatan luka.

Koordinasi dengan Karu Cempaka memberikan hasil bahwa kegiatan penyegaran mengenai perawatan luka tidak memungkinkan untuk dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan. Sehingga, kami langsung memberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan luka pada pasien dan keluarganya. Kami berharap dengan diadakannya pendidikan kesehatan pada pasien ini, akan mendorong perawat ruangan untuk melakukan kegiatan yang sama baik secara face to face pada pasien pada saat dilakukan perawatan luka, maupun dalam forum pendidikan kesehatan yang melibatkan pasien dalam jumlah besar.

Selain melakukan pendidikan kesehatan, kami juga menyusun media pendidikan kesehatan dalam bentuk poster yang nantinya akan dipasang di ruang perawatan pasien sehingga pasien dapat membaca dan mendapatkan informasi setiap saat.

Hasil evaluasi pada minggu terakhir menunjukkan bahwa telah nampak perbedaan isi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat ruangan Cempaka saat ini dengan isi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat pada saat pengkajian awal. Perawat ruang Cempaka saat ini tidak hanya menyampaikan kapan perawatan luka harus dilakukan, namun juga hal-hal apa saja yang harus dilakukan maupun dihindari untuk mendukung penyembuhan luka pasien.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Pelaksanaan manajemen keperawatan di ruang Cempaka RSO Surakarta sejak tanggal 30 November 2009 sampai dengan 22 Dsember 2009 memberikan kesimpulan bahwa:

1. Hasil analisis aspek manajemen yang meliputi unsur:

a. Input (masukan)

1) Man

Ruang Cempaka memiliki 14 orang tenaga keperawatan yang jika dibandingkan dengan kebutuhan jumlah tenaga keperawatan berdasar rumus Gilles telah sesuai. Namun, jumlah ini masih kurang jika dibandingkan dengan perhitungan berdasar rumus Douglas (16 orang) dan Depkes (20 orang).

2) Material dan Mesin

Jumlah alat medis, non medis, dan mesin di ruang Cempaka ini telah sesuai dengan kebutuhan.

3) Metode

a) Metode tim belum berjalan secara optimal karena kurangnya jumlah tenaga kerja di ruang Cempaka serta belum adanya protap metode Katim dari bidang keperawatan.

b) Berdasarkan data tentang jenis penyakit yang sering ditemukan terdapat beberapa macam penyakit dimana belum ada SAK baru mengenai Osteomyelitis. Data tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat yang spesifik dan pelatihan pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas.

b. Proses

1) Pelaksanaan metode tim masih berupa wacana, dalam pelaksanaannya belum sesuai dengan metode tim yang sebenarnya

2) Sistem penugasan yang meliputi pre conference dan ronde keperawatan belum berjalan.

c. Output

1) Pedokumentasian dalam asuhan keperawatan baru mencapai 58,78%

2. Hasil POA

Prioritas masalah yang muncul di ruang Cempaka adalah:

a. Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan

Kegiatan pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum terlaksana di ruang Cempaka.

b. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang cempaka telah mencapai 69,89%.

c. Penyusunan SAK Osteomyelitis

SAK Osteomyelitis telah tersusun, mendapat persetujuan dari Karu, Pembimbing Klinik, dan Bidang Keperawatan, serta telah disosialisasikan pada perawat ruangan.

d. Pelaksanaan Universal Precaution dan Manajemen Risiko

Kegiatan penyegaran telah dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2009. Pelaksanaan universal precaution dan menejemen risiko telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan telah dilakukannya cuci tangan sebelum melakukan tindakan pada pasien sebanyak 6 dari 10 perawat yang diobservasi

e. Pendidikan Kesehatan pada Pasien

Pendidikan kesehatan pada perawat dan keluarga telah dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2009. Materi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat ruang Cempaka telah mengalami peningkatan.

B. SARAN

1. Alternatif pemacahan masalah

Membakukan SAK dengan pengesahan kepala bidang keperawatan dan direktur untuk dapat di gunakan dalam melakukan asuhan keperawatan yang lebih spesifik pada kasus osteomyelitis.

2. Sosialisasi metode tim, pre conference dan ronde keperawatan untuk meningkatkan asuhan keperawatan

3. Diharapkan ada standart baku pelaksanaan metode menejemen keperawatan dari bidang keperawatan yang disahkan oleh direktur.

4. Di harapkan ruang Cempaka mampu melaksanakan metode tim, pre conference dan ronde keperawatan secara berkesinambungan

5. Perlu diadakan monitoring pelayanan keperawatan , dengan penerapan standar asuhan keperawatan (SAK) di RSO. Prof. Soeharso Surakarta pada umumnya dan khususnya di ruang dahlia.

6. Perlu di tindak lanjuti penggunaan Sharp container/ box safety sesuai standart Dinas Kesehatan, contoh sharp container terlampir.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 2006. Pengantar Administrasi Kesehatan, cetakan I edisi III. Bina Aksara

Depkes RI. 2001. Standart Peralatan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan. Catatan I. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Depkes. Jakarta

Doenges & Burley. 2005.

Douglas, Laura Mae. 1992. The Efective Nurse: Leader and manajer, fourth edition, mosbe year book. USA

Gillies. 2004. Nursing Manajement: A system apporch. Third Edition, WB Sounders. CO Philadelphia

Komite Keperawatan, bidang keperawatan. 2006. Instrumen Evaluasi Penerapan Standart Asuhan Keperawatan. RS Ortopedi Prof. Dr.R Soeharso Surakarta

Monica Ellaine, L.La. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. Jakarta: EGC

Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi I. Jakarta: Salemba Medika

PPKC. 2008. Lokakarya Manajemen Kepala Bidang Keperawatan: Metode Asuhan Keperawatan, Pusat Pengembangan Keperawatan. Caroulus: Jakarta

Sabarguno. 2004. Sumber Daya Manusia RS, cetakan II. Konsorsium JVS Islam Jawa Tengah Yogyakarta

Sugiyanto. 2006. Lokakarya Mutu Keperawatan dan Holistik Nursing: Mutu Pelayanan Kesehatan. Surakarta

Wilkinson, Judith M. 2006. Nursing Process and Critical Thinking



BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan

Preconferens adalah suatu kegiatan di ruangan biasanya di pimpin oleh seorang Karu dilakukan pada pagi hari sebelum memulai kegiatan di ruangan (klasifikasi pasien, pembagian Katim, anggota dan pasien).

Pengkajian yang dilakukan oleh kelompok pada tanggal 30 November 2009 sampai 4 Desember 2009 melalui observasi dan wawancara dengan penanggungjawab ruangan memberikan data bahwa pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum dilaksanakan di ruang Cempaka.

Plan of action mengenai kegiatan ini tidak mendapatkan persetujuan dari Karu Cempaka, namun kami tetap melakukan preconference dan ronde keperawatan di ruang Cempaka dengan berusaha melibatkan seluruh staf keperawatan dan praktikan ruang Cempaka yang dinas pada saat itu

Implementasi dilaksanakan pada tanggal 8 sampai dengan 19 Desember 2009. Pokok kegiatan yang dapat terlaksana sesuai dengan rencana adalah:

a. Mensosialisasikan kegiatan pre conference, post coference, dan ronde keperawatan di ruang Cempaka.

b. Melibatkan seluruh perawat untuk melakukan pre conference, post conference, dan ronde keperawatan.

Pada awal implementasi, tidak ada perawat ruangan yang mengikuti kegiatan pre conference, post conference dan ronde keperawatan. Namun, setelah kelompok melakukan beberapa kali pre conference, post conference dan ronde keperawatan, terdapat perawat ruangan yang mengikuti kegiatan ini walaupun jumlahnya masih minimal.

Ruang Cempaka merupakan ruangan untuk kasus-kasus orthopedi dengan infeksi dimana setiap hari di ruangan ini terdapat rata-rata 10 pasien yang harus menjalani perawatan luka dan hampir setiap hari terdapat pasien dengan program operasi maupun rontgen. Kegiatan pre conference tidak dapat terlaksana di ruangan ini secara optimal karena perawatan luka biasanya dimulai pada pukul 08.00. Disamping itu, jam datang perawat ruangan yang tidak bersamaan, juga menyebabkan sedikitnya jumlah perawat yang dapat dilibatkan dalam kegiatan pre conference yang dilaksanakan oleh kelompok. Hasil wawancara dengan Katim ruangan menunjukkan bahwa sebenarnya Katim ruangan maupun anggota sangat terbuka terhadap hal-hal yang menunjang kemajuan keperawatan, namun karena padatnya kegiatan pada pagi hari, serta belum adanya protap pre conference, Post conference, serta ronde keperawatan dari Bidang Keperawatan maka pre conference maupun ronde keperawatan belum terlaksana di ruangan ini.

B. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat dan setelah memberi asuhan kepada pasien. Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan serta respons pasien terhadap asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasien yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan. Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggungjawabkan (Doenges & Burley, 2005)

Berdasarkan pengkajian yang kami lakukan pada tanggal 30 November 2009 sampai dengan 4 Desember 2009, diperoleh data bahwa pendokumentasian asuhan keperawatan belum dilaksanakan secara optimal, terbukti dengan belum dicantumkannya waktu tindakan, intervensi masih bersifat umum, implementasi belum sesuai dengan intervensi dan hanya berupa kegiatan rutinitas. Sehingga kami menyusun plan of action dengan pokok kegiatan sbb:

1. Melakukan penyegaran tentang aspek legal dokumentasi keperawatan.

2. Mensosialisasikan pendokumentasian asuhhan keperawatan.

3. Mengevaluasi sistem pendokumentasian asuhan keperawatan.

Kegiatan penyegaran mengenai aspek legal pendokumentasian asuhan keperawatan telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Desember 2009 pukul 08.00. penetapan waktu sesuai hasil koordinasi dengan kepala ruang Cempaka. Materi dan daftar hadir kegiatan ini terlampir. Selama dua minggu (tanggal 7 sampai 19 Desember 2009), kami melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan bersama dengan perawat ruangan. Kami juga telah melakukan koordinasi dengan Karu mengenai format RM baru yang memungkinkan perawat mendokumentasikan waktu tindakan dan evaluasi yang lebih ringkas dengan menggunakan metode SOAP, namun dengan beberapa pertimbangan seperti sumber daya dan biaya, format ini tidak mendapatkan persetujuan dari Karu.

Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang pada awalnya tidak mencantumkan waktu tindakan serta menggabungkan planning dan implementasi pada satu bagian, pada saat ini telah mengalami perubahan. Walaupun masih menggunakan format RM yang lama (SOAPIER), namun dalam pendokumentasiannya, perawat telah mencantumkan waktu tindakan serta memisahkan penulisan planning dan implementasi.

C. Penyusunan SAK Osteomyelitis

SAK atau Standar Asuhan Keperawatan merupakan uraian pernyataan tingkat kinerja yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses, dan hasil dapat dinilai. Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/klien. Hubungan antara standar dan kualitas saling terkait erat karena melalui standar, dapat dinilai apakah nilai pelayanan meningkat atau memburuk (Wilkinson, 2006)

Data yang kami dapatkan saat pengkajian antara tanggal 30 November 2009 sampai dengan 4 Desember 2009 menunjukkan bahwa Osteomyelitis masuk dalam 10 besar penyakit di ruang Cempaka, namun SAK penyakit ini masih menggunakan referensi lebih dari 10 tahun yang lalu dan belum tersosialisasikan di ruangan. Sehingga, kami melakukan pokok kegiatan sbb:

1. Menyusun SAK Osteomielitis.

2. Melakukan koordinasi dengan Karu dan Katim di ruangan. keperawatan dengan diagnosa osteomielitis.

3. Melakukan koordinasi dengan bidang keperawatan.

4. Mengevaluasi sistem pendokumentasian.

SAK Osteomyelitis telah kami susun dan mendapatkan persetujuan dari Karu Cempaka, Pembimbing Klinik, dan bagian Bidang Keperawatan (SAK dan lembar persetujuan terlampir). SAK yang telah mendapatkan persetujuan ini kemudian kami sosialisasikan kepada ruangan Cempaka dan kami tempatkan dalam filebox tersendiri di dalam lemari berkas kantor perawat Cempaka, sehingga nantinya dapat diakses dengan mudah bila dibutuhkan. Diharapkan nantinya dengan adanya SAK osteomyelitis ini, perawat akan lebih terfokus dalam memberikan intervensi, implementasi dan evaluasi yang tepat.

D. Pelaksanaan Universal Precaution dan Manajemen Risiko

Universal precaution adalah pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Dalam menggunakan kewaspadaan universal precaution petugas kesehatan memberlakukan semua pasien sama dengan menggunakan prinsip ini, tanpa memandang penyakit atau diagnosanya dengan asumsi bahwa risiko atau infeksi berbahaya (Nursalam, 2007).

Pengkajian mengenai pelaksanaan universal precaution, baik melalui observasi dan penilaian dengan kuesioner, maupun wawancara, memberikan data bahwa kesadaran perawat untuk melaksanakan universal precaution dan manajemen risiko belum optimal. Untuk itu, kami menetapkan beberapa pokok kegiatan seperti:

1. Melakukan penyegaran pada perawatan ruang Cempaka tentang Universal Precaution dan Manajemen Risiko.

2. Melakukan koordinasi dengan Rawat inap.

3. Melaksanakan universal precaution dan manajemen Risiko bersama perawat.

Selama dua minggu (4-18 Desember 2009), kami bersama dengan perawat ruangan melaksanakan universal precaution dan menejemen risiko. Kami juga mengadakan koordinasi dengan pihak PPI dalam pengadaan sharp container yang pada minggu ke tiga penggunaan fasilitas ini oleh perawat ruang Cempaka mulai mengalami peningkatan.

Kegiatan penyegaran mengenai universal precaution dan manajemen risiko telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Desember 2009 pukul 08.00 sesuai hasil koordinasi dengan kepala ruang Cempaka. Kegiatan ini mengundang narasumber dari PPI, Bapak Paryanto, S.Kep (materi dan daftar hadir terlampir). Setelah dilakukan penyegaran, dari hasil evaluasi didapatkan adanya peningkatan kesadaran dari perawat ruang tentang pentingnya cuci tangan sebelum melakukan tindakan ke pasien serta pemisahan antara sampah medis, non medis, dan benda-benda tajam.

Diharapkan RS ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso ke depan lebih memperhatikan lagi tentang pentingnya pelaksanaan universal precaution, khususnya bagi perawat sehingga angka infeksi nosokomial di RS ini dapat menurun.

E. Pendidikan Kesehatan pada Pasien

Kurang optimalnya pemberian pendidikan kesehatan pada pasien mengenai perawatan luka di rumah yang nampak pada saat pengkajian tanggal 30 November 2009 sampai 4 Desember 2009, mendorong kami untuk melakukan action dengan pokok kegiatan:

1. Bersama perawat ruangan membuat modul dan media informasi.

2. Melakukan penyegaran dengan perawat ruang Cempaka.

3. Bersama perawat memberikan pendidikan kesehatan perawatan luka.

Koordinasi dengan Karu Cempaka memberikan hasil bahwa kegiatan penyegaran mengenai perawatan luka tidak memungkinkan untuk dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan. Sehingga, kami langsung memberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan luka pada pasien dan keluarganya. Kami berharap dengan diadakannya pendidikan kesehatan pada pasien ini, akan mendorong perawat ruangan untuk melakukan kegiatan yang sama baik secara face to face pada pasien pada saat dilakukan perawatan luka, maupun dalam forum pendidikan kesehatan yang melibatkan pasien dalam jumlah besar.

Selain melakukan pendidikan kesehatan, kami juga menyusun media pendidikan kesehatan dalam bentuk poster yang nantinya akan dipasang di ruang perawatan pasien sehingga pasien dapat membaca dan mendapatkan informasi setiap saat.

Hasil evaluasi pada minggu terakhir menunjukkan bahwa telah nampak perbedaan isi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat ruangan Cempaka saat ini dengan isi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat pada saat pengkajian awal. Perawat ruang Cempaka saat ini tidak hanya menyampaikan kapan perawatan luka harus dilakukan, namun juga hal-hal apa saja yang harus dilakukan maupun dihindari untuk mendukung penyembuhan luka pasien.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Pelaksanaan manajemen keperawatan di ruang Cempaka RSO Surakarta sejak tanggal 30 November 2009 sampai dengan 22 Dsember 2009 memberikan kesimpulan bahwa:

1. Hasil analisis aspek manajemen yang meliputi unsur:

a. Input (masukan)

1) Man

Ruang Cempaka memiliki 14 orang tenaga keperawatan yang jika dibandingkan dengan kebutuhan jumlah tenaga keperawatan berdasar rumus Gilles telah sesuai. Namun, jumlah ini masih kurang jika dibandingkan dengan perhitungan berdasar rumus Douglas (16 orang) dan Depkes (20 orang).

2) Material dan Mesin

Jumlah alat medis, non medis, dan mesin di ruang Cempaka ini telah sesuai dengan kebutuhan.

3) Metode

a) Metode tim belum berjalan secara optimal karena kurangnya jumlah tenaga kerja di ruang Cempaka serta belum adanya protap metode Katim dari bidang keperawatan.

b) Berdasarkan data tentang jenis penyakit yang sering ditemukan terdapat beberapa macam penyakit dimana belum ada SAK baru mengenai Osteomyelitis. Data tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat yang spesifik dan pelatihan pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas.

b. Proses

1) Pelaksanaan metode tim masih berupa wacana, dalam pelaksanaannya belum sesuai dengan metode tim yang sebenarnya

2) Sistem penugasan yang meliputi pre conference dan ronde keperawatan belum berjalan.

c. Output

1) Pedokumentasian dalam asuhan keperawatan baru mencapai 58,78%

2. Hasil POA

Prioritas masalah yang muncul di ruang Cempaka adalah:

a. Pre conference, post conference, dan ronde keperawatan

Kegiatan pre conference, post conference, dan ronde keperawatan belum terlaksana di ruang Cempaka.

b. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang cempaka telah mencapai 69,89%.

c. Penyusunan SAK Osteomyelitis

SAK Osteomyelitis telah tersusun, mendapat persetujuan dari Karu, Pembimbing Klinik, dan Bidang Keperawatan, serta telah disosialisasikan pada perawat ruangan.

d. Pelaksanaan Universal Precaution dan Manajemen Risiko

Kegiatan penyegaran telah dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2009. Pelaksanaan universal precaution dan menejemen risiko telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan telah dilakukannya cuci tangan sebelum melakukan tindakan pada pasien sebanyak 6 dari 10 perawat yang diobservasi

e. Pendidikan Kesehatan pada Pasien

Pendidikan kesehatan pada perawat dan keluarga telah dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2009. Materi pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh perawat ruang Cempaka telah mengalami peningkatan.

B. SARAN

1. Alternatif pemacahan masalah

Membakukan SAK dengan pengesahan kepala bidang keperawatan dan direktur untuk dapat di gunakan dalam melakukan asuhan keperawatan yang lebih spesifik pada kasus osteomyelitis.

2. Sosialisasi metode tim, pre conference dan ronde keperawatan untuk meningkatkan asuhan keperawatan

3. Diharapkan ada standart baku pelaksanaan metode menejemen keperawatan dari bidang keperawatan yang disahkan oleh direktur.

4. Di harapkan ruang Cempaka mampu melaksanakan metode tim, pre conference dan ronde keperawatan secara berkesinambungan

5. Perlu diadakan monitoring pelayanan keperawatan , dengan penerapan standar asuhan keperawatan (SAK) di RSO. Prof. Soeharso Surakarta pada umumnya dan khususnya di ruang dahlia.

6. Perlu di tindak lanjuti penggunaan Sharp container/ box safety sesuai standart Dinas Kesehatan, contoh sharp container terlampir.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 2006. Pengantar Administrasi Kesehatan, cetakan I edisi III. Bina Aksara

Depkes RI. 2001. Standart Peralatan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana Kesehatan. Catatan I. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Depkes. Jakarta

Doenges & Burley. 2005.

Douglas, Laura Mae. 1992. The Efective Nurse: Leader and manajer, fourth edition, mosbe year book. USA

Gillies. 2004. Nursing Manajement: A system apporch. Third Edition, WB Sounders. CO Philadelphia

Komite Keperawatan, bidang keperawatan. 2006. Instrumen Evaluasi Penerapan Standart Asuhan Keperawatan. RS Ortopedi Prof. Dr.R Soeharso Surakarta

Monica Ellaine, L.La. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. Jakarta: EGC

Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi I. Jakarta: Salemba Medika

PPKC. 2008. Lokakarya Manajemen Kepala Bidang Keperawatan: Metode Asuhan Keperawatan, Pusat Pengembangan Keperawatan. Caroulus: Jakarta

Sabarguno. 2004. Sumber Daya Manusia RS, cetakan II. Konsorsium JVS Islam Jawa Tengah Yogyakarta

Sugiyanto. 2006. Lokakarya Mutu Keperawatan dan Holistik Nursing: Mutu Pelayanan Kesehatan. Surakarta

Wilkinson, Judith M. 2006. Nursing Process and Critical Thinking.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar