Rabu, 11 November 2009

PROPOSAL&LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH


PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH
PADA KELUARGA KLIEN Ny. S DI KARANGANYAR


Tugas Individu Stase Keperawatan Kesehatan Jiwa



Oleh:
RIZAL EL FATA
J 230 00 0136




PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009

RENCANA KUNJUNGAN RUMAH
A. Identitas Klien
Nama Klien : Ny. S
Hari, tanggal : Senin , 26 Oktober 2009
Waktu : 15.00-15.50
Alamat : Josroyo Indah III no.13 Jaten-Karanganyar
Diagnosa Medis : Skizofrenia Paranoid

B. Latar Belakang
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang terkonstribusi pada fungsi yang terintergrasi baik individu, keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. Perawat psikiatri memberikan asuhan sepanjang rentang asuhan. Perawatan ini termasuk intervensi yang berhubungan dengan pencegahan primer, sekunder dan tersier. Intervensi keperawatan yang spesifik dalam pencegahan primer termasuk penyuluhan kesehatan, pengubahan lingkungan dan dukungan sistem sosial. Memperkuat dukungan sosial adalah cara untuk menahan atau menghancurkan pengaruh dari peristiwa yang potensial menimbulkan keadaan stress.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengimplementasikan intervensi lanjutan kepada keluarga klien dalam melibatkan peran serta keluarga dalam proses penyembuhan klien.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk menvalidasi data – data klien / informasi tentang klien
b) Melakukan intervensi yaitu penyuluhan kesehatan kepada keluarga klien.
c) Menjelaskan cara komunikasi terapeutik dengan klien gangguan jiwa.
d) Memotivasi peran serta keluarga dalam proses penyembuhan klien.


D. Data Fokus
Menurut klien, klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu yaitu tahun 2002 klien pernah mondok di RSJD Surakarta. Setelah keluar dari rumah sakit klien sembuh dan dapat beradaptasi di masyarakat tanpa gejala-gejala gangguan jiwa. Keluarga klien mengatakan klien tidak pernah melakukan atau mengalami maupun menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga atau tindakan kriminal. Anggota keluarga klien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa. Menurut suami pertama kali klien mengalami gangguan jiwa pada tahun 2002 karena permasalahan batas tanah dengan tetangga, lalu mulai dari saat itu klien sering mengomel-ngomel dan marah-marah sendiri. Mulai dari situlah klen mengalami gangguan jiwa yaitu sering mengamuk, marah-marah, dan membanting barang-barang serta membiarkan kompor menyala terus.

E. Rencana Intervensi Keperawatan
1. Rencanakan interaksi perawat dengan keluarga klien
2. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga klien
3. Kaji pengetahuan keluarga tentang perawatan klien
4. Motivasi keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan klien
5. Beri reinforcement pada keluarga

F. Rencana Interaksi
N
o Rencana Interaksi Dilakukan Hasil/Modifikasi
Y T
1 Tahap Pre Interaksi
 Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri perawat.
 Mengumpulkan data klien
 Membuat rencana interaksi, waktu : 30 menit
Tempat : rumah keluarga klien
Topik :
 Membina hubungan saling percaya
 Klarifikasi masalah klien
 Mengkaji pengetahuan keluarga tentang perawatan klien
 Memberi penyuluhan kesehatan jiwa tentang perawatan dan pencegahan kekambuhan

2 Tahap Orientasi
“Selamat sore pak/bu….. maaf mengganggu waktu istirahat bp/ Ibu, apa benar ini rumahnya keluarga Ny.S?”
Iya benar..
“Perkenalkan kami Mahasiswa keperawatan UMS, nama saya Rizal. Saya adalah perawat yang saat ini sedang dinas di RSJD Surakarta, di ruangan dimana Ny.S di rawat.
“Sore ini kami ingin berdiskusi mengenai perawatan yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga setelah Ny.S selama di rumah. Demikian maksud kedatangan kami, jadi apakah bapak/ibu bersedia berbincang-bincang dengan kami? Apabila nanti ada yang bersifat rahasia kami akan menjamin kerahasiaannya kecuali demi kepentingan perawatan dan pengobatan”
Oh..iya, kita sepakati waktu pembicaraan kita berapa menit bp/ibu? Bagaimana kalau sekitar 45 menit?... kita bicaranya disini saja di rumah bp/ibu.
3. Tahap Kerja
“Sebelum kita mulai pembicaraan, mungkin ada yang bp/ibu tanyakan atau sampaikan ?”
“Baiklah bisa kita mulai saja ya ?”
“Siapakah anggota keluarga yang paling dipercaya Ny. S jika punya masalah?”
“Bagaimana perawatan keluarga terhadap Ny. S selama ini? Apakah dia masih dilibatkan membuat keputusan dalam keluarga?”
“Apa harapan bapak/ibu… apabila sudah pulang ke rumah?”
“Baiklah, saya akan sedikit menjelaskan kondisi yang Ny.S alami dan hal-hal yang bisa keluarga lakukan untuk membantu mempercepat pemulihan dan mencegah kekambuhan Ny.S!”
Mulai Penyuluhan sesuai SAP
4. Tahap Terminasi
“Terima kasih bapak/ibu atas bincang-bincangnya semoga pertemuan kita ini membawa manfaat untuk kita bersama.”
“Dari pembicaraan tadi bisa saya simpulkan bahwa ……
“Baik, karena sudah sore kami mau pamitan dulu, terima kasih atas waktunya …. Permisi. Assalamu’alaikum.
















SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Pokok bahasan : Peran keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.

A. Tujuan
1. TIU:
Setelah proses pembelajaran, keluarga mampu memahami dan berperan serta dalam merawat klien dengan gangguan jiwa.
2. TIK:
Setelah proses pembelajaran keluarga mampu:
a. Menyebutkan pengertian perilaku kekerasan.
b. Menyebutkan hal-hal yang melatarbelakangi perilaku kekerasan.
c. Menyebutkan faktor presipitasi perilaku kekerasan.
d. Menyebutkan tanda dan gejala marah.
e. Menyebutkan hal-hal yang dilakukan keluarga ketika klien di rumah, marah.
f. Menyebutkan Fungsi keluarga

B. Materi (Terlampir)
a. Menyebutkan pengertian perilaku kekerasan.
b. Menyebutkan hal-hal yang melatarbelakangi perilaku kekerasan.
c. Menyebutkan factor presipitasi perilaku kekerasan.
d. Menyebutkan tanda dan gejala marah.
e. Menyebutkan hal-hal yang dilakukan keluarga ketika klien di rumah, marah.
f. Menyebutkan Fungsi keluarga



C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

D. Media
1. Leaflet
2. Tanya jawab


E. Rencana kegiatan
Tahap Kegiatan Perawat Kegiatan keluarga Waktu
Pembukaan • Memberi salam
• Memperkenalkan diri
• Menjelaskan tujuan
• Memberi kesempat-an untuk bertanya • Menjawab salam
• Mendengar

• Bertanya 5 menit
Inti • Menyebutkan pengertian perilaku kekerasan.
• Menyebutkan hal-hal yang melatarbelakangi perilaku kekerasan.
• Menyebutkan factor presipitasi perilaku kekerasan.
• Menyebutkan tanda dan gejala marah.
• Menyebutkan hal-hal yang dilakukan keluarga ketika klien di rumah, marah.
• Fungsi keluarga 30 menit
Penutup • Evaluasi secara lisan
• Memberi pujian
• Menyimpulkan
• Memberi salam penutup 5 menit


F. RENCANA EVALUASI
Evaluasi penyuluhan akan dilakukan dengan memberikan 5 pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan ke keluarga.

G. PENILAIAN KEBERHASILAN
Dikatakan berhasil apabila keluarga mampu menjawab 5 pertanyaan :
• 100% mampu menjelaskan peran penting keluarga dalam perawatan pasien dan fungsi keluarga.
• 100% keluarga mampu menjelaskan tentang perilaku keerasan.
• 100% keluarga mampu menjelaskan tentang tanda dan gejala marah.
• 100% keluarga mampu menyebutkan hal-hal yang melatarbelakangi perilakukekerasan.
• 100% keluarga mampu menyebutkan hal-hal yang dapat dilakukan keluarga ketika klien marah dirumah.



Soal-soal pertanyaan esai :
1. Sebutkan alasan keluarga berperan penting dalam perawatan, fungsi keluarga?
2. Sebutkan pengertian perilaku kekerasan?
3. Sebutkan tanda dan gejala marah?
4. Sebutkan hal-hal yang melatarbelakangi perilaku kekerasan?
5. Sebutkan hal-hal yang dilakukan keluarga ketika klien di rumah, ketika klien marah.















MATERI HALUSINASI
A. PENGERTIAN
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata. Misalnya klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara
B. PROSES TERJADINYA HALUSINASI
Halusinasi berkembang melalui empat fase yaitu :
1. Fase Pertama
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang meuncak dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
2. Fase Kedua
Kecemasan meningkat, melamun dan berfikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya.
3. Fase Ketiga
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
4. Fase Keempat.
Halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dilingkungan.
C. FAKTOR PRESIPITASI
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain.
Interaksi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan.
D. TANDA-TANDA HALUSINASI:
1. Menarik diri, tersenyum sendiri, duduk terpaku, bicara sendiri, memandang satu arah, menyerang, tiba-tiba marah, gelisah.
2. Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat. Sering pula klien memaksakan kehendak, merampas makanan, memukul bila tidak senang. Wawancara diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang dirasakan oleh seseorang.
E. JENIS HALUSINASI
1. Halusinasi dengar.
Mendengar suara membicarakan, mengejek, mentertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumber disekitar.
2. Halusinasi lihat.
Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapiu klien yakin ada.
3. Halusinasi penciuman.
Mengatakan mencium bau bunga, kemenyan dan lain-lain yang tidak dirasakan oleh orang lain dan tidak ada sumber.
4. Halusinasi Kecap.
Merasa mengecap sesuatu rasa dimulut, tetapi tidak ada.
5. Halusinasi Raba.
Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada
F. PERAN SERTA KELUARGA DALAM MERAWAT HALUSINASI:
1. Bantu Mengenal Halusinasi.
a. Bina saling percaya.
b. Diskusikan kapan muncul situasi yang menyebabkan (jika sendiri), isi dan frekwensi.
2. Meningkatkan Kontak Dengan Realita.
a. Bicara tentang topik yang nyata tidak mengikuti halusinasi.
b. Bicara dengan klien secara sering dan singkat.
c. Buat jadwal kegiatan sehari-hari untuk menghindari kesendirian.
d. Ajak bicara jika tampak klien sedang berhalusinasi.
e. Diskusikan hasil observasi anda.
3. Bantu Menurunkan Kecemasan dan Ketakutan.
a. Temani, cegah isolasi dan menarik diri.
b. Terima halusinasi klien tanpa mendukung dan menyalahkan. Misalnya: “Saya percaya anda mendengar tetapi saya sendiri tidak dengar”.
c. Beri kesempatan untuk mengungkapkan.
d. Tetap hangat, empati, kalem dan lemah lembut.
4. Mencegah Klien Melukai Diri Sendiri dan Orang Lain.
a. Lakukan perlindungan.
b. Kontak yang sering secara personal.
5. Tingkatkan Harga diri.
a. Identifikasi kemampuan klien dan beri kegiatan yang sesuai.
b. Beri kesempatan sukses dan beri pujian atas kesuksesan klien.
c. Dorong berespon pada situasi nyata.
G. CARA MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG SAKIT JIWA
1. Perhatikan semua kebutuhan klien berkomunikasi, makan, mandi, aktifitas sehari-hari.
2. Perhatikan hal-hal yang menimbulkan rasa sedih atau marah klien.
3. Tanggapi apa yang ingin dikemukakan atau disampaikan klien dengan penuh perhatian.
4. Motifasi dan latih klien untuk melakukan kebutuhannya secara mandiri secara bertahap.
5. Libatkan dalam kegiatan sehari-hari dirimah secara bertahap.
6. Ajak klien bicara bicara hal-hal; yang menarik bagi klien dan bersifat ringan seperti acara TV, berita di koran, dll.
7. Puji sesering mungkin bila klien melakukan yang baik.
8. Ajak bergaul dan dampingi saat klien sedang interaksi dengan orang lain.
9. Memberikan obat sesuai dengan dosis/petunjuk dokter.
10. Perhatikan efek samping obat yang diberikan.
H. PENYEBAB KEKAMBUHAN PASIEN JIWA
1. Tidak memakan obat secara teratur.
2. Dosis obat tidak sesuai.
3. Keluarga banyak mengkritik.
4. Keluarga banyak mencampuri kehidupan pasien.
5. Sikap bermusuhan dari lingkungan.
I. FUNGSI KELUARGA
1. Keluarga tempat klien belajar dan mengembangkan diri.
2. Keluarga lingkungan yang dikenal.
3. Keluarga adalah orang-orang terdekat yang dapat membantu dan memperhatikan atau memotivasi klien.
4. Keluarga Mengenal adanya gangguan kesehatan anggota keluarga.
5. Memutuskan tindakan tepat yang harus dilakukan pada keluarga yang sakit.
6. Merawat anggota keluarga, menciptakan lingkungan/suasana yang aman, nyaman dan sehat bagi anggota keluarga.
7. Menggunakan pelayanan kesehatan yang ada untuk menyembuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. 2001. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, Jakarta.

Keliat Budi, Anna,. 2002. Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC, Jakarta.

Stuart & Sunden. 1997. Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, Jakarta.







LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH

Nama Klien : Ny. S
Umur : 56 tahun
Hari, tanggal : Senin , 26 Oktober 2009
Waktu : 15.00-15.50
Alamat : Josroyo Indah III no.13 Jaten-Karanganyar
Diagnosa Medis : Skizofrenia Paranoid


Hasil Kunjungan Rumah:

1. Kondisi Demografi
 Rumah terletak di daerah padat penduduk, perumahan kecil tipe 45.
 Kodisi fisik rumah terbuat dari lantai berubin, ventilasi kurang, mempunyai kamar mandi pribadi
 Rumah klien digunakan untuk berjualan.
 Di depan rumah terdapat rumah tetangga yang dibatasi oleh jalan kecil
 Ada transportasi umum yang sampai di dusun klien, tapi hanya sampai dekat jalan saja, kemudian diperlukan berjalan kaki untuk sampai dirumah klien, listik sudah ada.
 Kultur penduduk setempat masih cukup tinggi nilai kekeluargaannya, namun masih ada yang mengatakan klien orang gila. Teman sebayanya menjauhi klien karena dianggap tidak sama yang dibicarakan, klien berbicaranya tidak nyambung.

2. Struktur Keluarga
 Keluarga termasuk jenis nuclear family
 Klien adalah anak pertama dari 3 bersaudara.
 Saat ini klien tinggal bersama suami dan anak-anaknya.
 Pengambilan keputusan dilakukan oleh suami, tetapi terkadang klien diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
 Keluarga termasuk keluarga yang sering bergaul dengan lingkungan sekitar, keluarga sering mengikuti pengajian di lingkungan.
 Hubungan antar anggota keluarga baik
Keluarga mengatakan selama ini apabila ada masalah klien jarang membicararakan dengan suami maupun anak-anaknya. Klien paling dekat dengan adiknya yang tinggal di Surakarta.
 Aktivitas klien di rumah sebagai ibu rumah tangga.

3. Status Ekonomi
 Suami klien seorang PNS. Keadaan ekonomi keluarga klien termasuk cukup Baik.
 Keluarga menyatakan bahwa tidak masalah dengan membayar pengobatan klien yang penting klien dapat sembuh.

4. Validasi Keluarga alasan masuk RSJ
klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu yaitu tahun 2002 klien pernah mondok di RSJD Surakarta. Setelah keluar dari rumah sakit klien sembuh dan dapat beradaptasi di masyarakat tanpa gejala-gejala gangguan jiwa. Keluarga klien mengatakan klien tidak pernah melakukan atau mengalami maupun menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga atau tindakan kriminal.
Anggota keluarga klien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa. Menurut suami pertama kali klien mengalami gangguan jiwa pada tahun 2002 karena permasalahan batas tanah dengan tetangga, lalu mulai dari saat itu klien sering mengomel-ngomel dan marah-marah sendiri. Mulai dari situlah klen mengalami gangguan jiwa yaitu sering mengamuk, marah-marah, dan membanting barang-barang serta membiarkan kompor menyala terus


5. Tanggapan Keluarga terhadap Perawatan Kesehatan
 Jika pasien kambuh dibawa ke RSJ
 Keluarga menyatakan akan rutin mengontrolkan klien.

6. Kesiapan Keluarga Menerima Klien
 Keluarga siap menerima klien kembali.
 Keluarga tidak membebani tugas yang berat kepada klien
 Klien dibantu dan diperhatikan untuk melakukan kegiatan dirumah.
 Klien diberi kesempatan untuk memilih keputusan yang tepat, dengan sebelumnya dijelaskan.
 Keluarga akan terus merawat klien dan mengawasi apabila terdapat tanda-tanda klien kambuh. Adapun tanda-tanda marah yang sudah diketahui keluarga:
a. Tidak mau berhubungan dengan orang lain atau berdiam diri dan tidak melakukan kegiatan apa-apa.
b. Mengamuk atau merusak lingkungan.
c. Tidak memperlihatkan, memperdulikan penampilan diri, tidak mau makan.
d. Tidak mau minum obat.
e. Melakukan hal yang tidak teratur, tidak biasanya atau tidak ada tujuannya
 Keluarga mengatakan akan menggunakan cara khusus untuk klien dalam mengatasi halusinasi yang telah didapatkan dari perawat, antara lain :
 Perhatikan semua kebutuihan klien berkomunikasi, makan, mandi, aktifitas sehari-hari.
 Perhatikan hal-hal yang menimbulkan rasa sedih atau marah klien.
 Tanggapi apa yang ingin dikemukakan atau disampaikan klien dengan penuh perhatian.
 Motifasi dan latih klien untuk melakukan kebutuhannya secara mandiri secara bartahap.
 Libatkan dalam kegiatan sehari-hari dirimah secara bertahap.
 Ajak klien bicara bicara hal-hal; yang menarik bagi klien dan bersifat ringan seperti acara TV, berita di koran, dll.
 Puji sesering mungkin bila klien melakukan yang baik.
 Ajak berrgaul dan dampingi saat klien sedang interaksi dengan orang lain.
 Memberikan obat sesuai dengan dosis/petunjuk dokter.
 Perhatikan efak samping obat yang diberikan.

7. Penerimaan Keluarga kepada Perawat
 Keluarga menerima kunjungan perawat dengan ramah dan sikap terbuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar