Senin, 15 Juni 2009

hemmoroid & GE


Hemmoroid

A. LATAR BELAKANG
Hemoroid merupakan penyakit yang umum terjadi. Pada usia sekitar 50 tahun, 50 % individu mengalami berbagai tipe hemoroid. Pasien dengan gangguan hemoroid mencari pertolongan medis terutama akibat nyeri dan perdarahan rectal. Walaupun tidak mengancam jiwa, penyakit ini dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman.

B. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan konsep hemoroid, klasifikasi, etiologi, dan patofisiologinya.
2. Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan hemoroid pre operasi, dan post operasi dengan pendekatan proses keperawatn yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.












BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN

Hemoroid adalah varikositis akibat dilatasi pleksus vena hemoroidalis interna ( Underwood, J.C.E; 1999 ).
Hemoroid adalah vena yang berdilatasi dalam kanal anal ( Smeltzer Suzanne C; 2001 ).

B. ETIOLOGI
Beberapa faktor etiologi menurut Sylvia Anderson P. (1994) adalah sebagai berikut :
1. Konstipasi/diare
2. Sering mengejan
3. Kongesti pelvia pada kehamilan
4. Pembesaran prostat
5. Fibroama uteri
6. Tumor rectum
7. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal.

C. PATOFISIOLOGI
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan balik dari vena hemoroidalis
Hemoroid ada dua jenis yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna terjadi varises pada vena hemoroidalis superior media dan timbul disebelah dalam otot spingter ani. Hemoroid eksterna terjadi varises pada vena hemoroidalis inferior, dan timbul disebelah luar otot spingter ani.
Hemoroid eksterna ada dua klasifikasi yaitu akut dan kronik. Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma, walaupun disebut sebagai hemoroid trombosis akut. Bentuk terasa sangat nyeri gatal karena ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik (skin tag) berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.
Hemoroid interna diklasifikasikan sebagai derajat I, II, dan III. Hemoroid interna derajat I tidak menonjol melalui anus dan dapat ditemukan dengan proktoskopi. Lesi biasanya terletak pada posterior kanan dan kiri dan anterior kanan, mengikuti penyebaran cabang-cabang vena hemoroidalis superior, dan tampak sebagai pembengkakan globular kemerahan. Hemoroid interior derajat II dapat mengalami prolapsus melalui anus setelah defekasi, hemoroid ini dapat mengecil secara spontan atau dapat direduksi secara manual. Hemoroid interna derajat III mengalami prolapsus secara permanen. Gejala hemoroid interna yang paling sering adalah perdarahan tanpa nyeri karena tidak ada serabut-serabut nyeri pada daerah ini. Kebanyakan kasus hemoroid adalah hemoroid campuran interna dan eksterna.
Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdaraha, trombosis, dan stranggulasi. Hemoroid yang mengalami stranggulasi adalah hemoroid yang mengalami prolapsus dimana suplai darah dihalangi oleh sfingter ani.
Kebanyakan penderita hemoroid tidak memerlukan pembedahan. Pengobatan berupa kompres duduk atau bentuk pemanasan basah lain, dan penggunaan supositoria. Eksisi bedah dapat dilakukan bila perdarahan menetap, terjadi prolapsus, atau pruritus dan nyeri anus tidak dapat diatasi.





D. PATHWAY KEPERAWATAN












E. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan diambil untuk menentukan adanya rasa gatal, rasa terbakar, dan nyeri beserta karakteristiknya. Apakah terjadi selama defekasi ?, Berapa lama nyeri tersebut ? adakah nyeri abdomen yang berhubungan dengan hal itu ?, Apakah terdapat perdarahan dari rectum ?, Seberapa banyak ?, Seberapa sering ?, Apakah warnanya ?, Adakah cairan lain seperti mucus atau pus ?, Pertanyaan lain berhubung dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif, riwayat diet, masukan serat, jumlah latihan, tingkat aktifitas, dan pekerjaan.

2. Pengkajian Objektif
Pengkajian objektif mencakup menginspeksi feses akan adanya darah atau mucus, dan area perineal akan adanya hemoroid, fisura, iritasi, atau pus.

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan yang utama adalah sebagai berikut :
1. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama defekasi.
2. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan.
3. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal/anal sekunder akibat penyakit hemoroid dan spasme sfingter pada pasca operatif.
4. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan rasa takut nyeri pada pasca operatif.
5. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik.
Masalah kolaboratif yang mungkin muncul adalah Potensial Komplikasi (PK) hemoragi.
G. PERENCANAAN
1. Tujuan
Tujuan utama adalah sebagai berikut :
a. Menghilangkan konstipasi
b. Menurunkan ansietas
c. Menghilangan nyeri
d. Meningkatkan eliminasi urinarius
e. Klien patuh dengan program terapeutik
f. Mencegah terjadinya komplikasi

2. Intervensi Keperawatan
a. Menghilangkan Konstipasi
1) Masukan cairan sedikitnya 2 liter sehari untuk memberikan hidrasi yang adekuat.
2) Anjurkan makan tinggi serat untuk melancarkan defekasi.
3) Berikan laksatif sesuai resep.
4) Pasien dianjurkan untuk miring guna merangsang usus dan merangsang keinginan defekasi sebisa mungkin.
5) Menganjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum defekasi akan membantu merilekskan otot-otot perineal abdomenyang kemungkinan berkonstriksi atau mengalami spasme abdomen.
b. Menurunkan Ansietas
1) Identifikasi kebutuhan psikologis khusus dan rencana asuhan yang bersifat individu.
2) Berikan privasi dengan membatasi pengunjung bila pasien menginginkannya.
3) Pertahankan privasi klien saat memberikan tindakan keperawatan.
4) Berikan pengharum ruangan bila balutan berbau menyengat.
c. Menghilangkan Nyeri
1) Dorong klien untuk memilih posisi nyaman.
2) Berikan bantalan flotasi dibawah bokong pada saat duduk dapat membantu menurunkan nyeri.
3) Berikan salep analgesik sesuai resep untuk menurunkan nyeri.
4) Berikan kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi dan meringankan jaringan yang teriritasi.
5) Berikan rendaman duduk tiga atau empat kali sehari untuk menghilangkan rasa sakit dan nyeri dengan merelakskan spasme sfingter.
6) Berikan agen anaestetik topical sesuai resep untuk menghilangkan iritasi local dan rasa sakit.
7) Anjurkan klien melakukan posisi telungkup dengan interval tertentu untuk meningkatkan drainase dependen cairan edema.
d. Meningkatkan Eliminasi Urinarius
1) Tingkatkan masukan cairan
2) Bantu klien untuk mendengarkan aliran air
3) Bantu klien meneteskan air diatas meatus urinarius
4) Lakukan pemasangan kateter
5) Pantau haluaran urin dengan cermat setelah pembedahan.
e. Pemantauan dan Pelaksanaan Komplikasi
1) Periksa dengan sering daerah operasi terhadap munculnya perdarahan rectal.
2) Kaji indicator sistemik perdarahan berlebihan (takikardia, hipotensi, gelisah, haus).
3) Hindari pemberian panas basah karena dapat menyebabkan dilatasi dan perdarahan.
f. Pendidikan pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah.
1) Instruksikan klien untuk mempertahankan kebersihan area perianal.
2) Dorong pasien untuk berespon dengan cepat ketika dorongan defekasi muncul, untuk mencegah konstipasi.
3) Instruksikan klien untuk diet tinggi cairan dan serat.
4) Pasien diinformasikan untuk diet yang ditentukan, laksatif yang dapat digunakan dengan aman, dan pentingnya latihan.
5) Dorong klien untuk ambulasi sesgera mungkin, anjurkan latihan tingkat sedang.
6) Ajarkan cara melakukan rendam duduk pada klien setiap setelah defgekasi selama 1 sampai 2 minggu setelah pembedahan.

H. EVALUASI
Hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan pola eliminasi normal.
a. Menyusun waktu untuk defekasi, biasanya setelah makan atau setelah tidur.
b. Berespon terhadap dorongan untuk defekasi dan menyediakan waktu untuk duduk ditoilet dan mencoba untuk defekasi.
c. Menggunakan latihan relaksasi sesuai kebutuhan.
d. Menambah makanan tinggi serat pada diet.
e. Meningkatkan masukan cairan sampai 2 L/24 jam.
f. Melaporkan penurunan ketidaknyamanan pada abdomen.
2. Mengalami sedikit ansietas.
3. Mengalami nyeri sedikit.
a. Mengubah posisi tubuh dan aktifitas untuk meminimalkan nyeri dan ketidaknyamanan. Menyusun waktu untuk defekasi, biasanya setelah makan atau pada waktu tidur.
b. Menepapkan kompres hangat/dingin pada area rectal / anal.
c. Melakukan rendam duduk 3 atau 4 kali sehari.
4. Mentaati program terapeutik.
a. Mempertahankan area perianal kering.
b. Mengalami feses lunak dan berbentuk secara teratur.
5. Bebas dari masalah perdarahan
a. Insisi bersih
b. Menunjukkan tanda vital normal
c. Menunjukkan tidak ada tanda hemoragi.

BAB III
PENUTUP

Asuhan keperawatan klien dengan hemoroid dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Proses keperawatan tersebut dilakukan secara siklik ( kembali ke tahap awal selama masalah klien belum teratasi).
Prinsip penatalaksanaan keperawatan klien dengan hemoroid adalah: Menghilangkan konstipasi; menurunkan ansietas; menghilangan nyeri; meningkatkan eliminasi urinarius; klien patuh dengan program terapeutik; mencegah terjadinya komplikasi.



DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer Suzanne C., Bare Brenda G.; ( 2001 ); Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth; edisi 8; alih bahasa; Monica Ester, et al; Jakarta; EGC.
Price Sylvia A., Wilson Lorraine M.;( 1994 );Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit; jilid 1; edisi 8; alih bahasa; Peter Anugerah, Jakarta, EGC.
Carpenito Lynda Juall; ( 1997 ); Diagnosa Keperawatan Buku Saku; edisi 6; alih bahasa; Yasmin Asih; Jakarta; EGC.
Robbins, Stanley L;(1995); Buku Ajar Patologi II (Basic Pathology); alih bahasa, staf pengajar laboratorium patologi anatomi FK UNAIR; Jakarta; EGC
Underwood, J.C.E; (1999) Patologi Umum dan Sistematik; vol.2; ed.2; editor edisi bahasa Indonesia, Sarjadi dkk;

ASKEP GE
I. PENGERTIAN.
Gastritis adalah
suatu peradangan yang terjadi pada mukosa lambung baik akut maupun
kronis.

II. ETIOLOGI.
1. Gastritis
Akut.
Merupakan inflamasi
akut dari dinding lambung, biasanya terbatas pada mukosanya saja.
1. Gastritis
eksogen akut. Disebabkan faktur dari luar yang terdiri dari
beberapa bagian:
• Gastritis
eksugen akut yang simple, disebabkan oleh :
~
Makanan dan minuman panas yang dapat merusak mukosa lambung,
seperti rempah-rempah, alcohol dan sebagainya.
~ Obat-obatan
seperti, digitalis, iodium, SF, kortison, dsb.

Gastritis akute
korosiva, disebabkan oleh:
~ Obat-obatan
seperti : Analgetik, Anti inflamasi, antibiotik dsb.
~
Bahan kimia dan minuman yang bersifat korosif, bahan alkali yang kuat
seperti, soda, kaustik, (non-hydroxide) korosif sublimat.
2. Gastritis
endogen akut.disebabkan kelainan dalam tubuh yang terdiri
dalam beberapa bagian :
 Gastritis
infektiosa akut, disebabkan oleh toxin atau bakteri yang
beredar
dalam darah
dan masuk ke jantung, misalnya morbili, dipteri , variola dsb.
 Gastritis
egmonos akute, di sebabkan oleh invasi langsung dari bakteri
pirogen pada dinding lambung, seperti streptococcus, stpilacoccus
dsb.
2. Gastritis
Kronis.
Merupakan suatu
inflamasi kronik yang terjadi pada waktu lama pada permukaan mukosa
lambung, penyebabnya belum diketahui secara langsung, namun diduga
disebabkan oleh :
 Bakteri,
infeksi stapilococcus (akute) mungkin pada akhirnya akan menjadi
kronis.
 Infeksi
lokal, infeksi pada sinus, gigi dan post nasal dapat menimbulkan
gastritis.
 Alkohol
dapat menyebabkan kelainan pada mukosa lambung.
 Faktor,
psikologis dapat menimbulkan hipersekresi asam lambung.

II. TANDA
DAN GEJALA.
1. Gastritis
Akute.
1. Gastritis
Akute Eksogen Simple :
~ Nyeri epigastrik
mendadak.
~ Nausea yang di
susul dengan vomitus.
~
Saat serangan pasien berkeringat, gelisah, sakit perut, dan kadang
disertai panas serta tachicardi.
~ Biasanya dalam 1-2
hari sembuh kembali.
2. Gastritis
Akute Eksogen Korosiva :
~ Pasien kolaps
dengan kulit yang dingin.
~ Tachicardi dan
sianosis.
~ Perasaan seperti
terbakar, pada epigastrium.
~ Nyeri hebat /
kolik.
3. Gastritis
Infeksiosa Akute :
~ Anoreksia
~ Perasaan tertekan
pada epigastrium.
~ Vumitus.
~ Hematemisis.
4. Gastritis
Hegmonos Akute :
~ Nyeri hebat
mendadak di epigastrium. ~ Neusia.
~ Rasa tegang pada
epigastrium. ~ Vomitus.
~ Panas tinggi dan
lemas ~ Tachipneu.
~ Lidah kering
sedikit ekterik. ~ Tachicardi
~ Sianosis pada
ektremitas. ~ Diare.
~ Abdomen lembek.
~ leukositosis
2. Gastritis
Kronis.
Terdiri dari :
1. Gastritis
Superfisialis.
~ Rasa tertekan yang
samar pada epigastrium.
~ Penurunan BB.
~ Kembung / rasa
penuh pada epigastrium.
~ Nousea.
~ Rasa perih sebelun
dan sesudah makan.
~ Terasa pusing.
~ Vumitus.
2. Gastritis
Atropikan.
~ Rasa tertekan pada
epigastrium. ~ Anorexia.
~ Rasa penuh pada
perut. ~ Nousea.
~ Keluar angin pada
mulut. ~ Vumitus.
~ Mudah
tersinggung. ~ Gelisah.
~ Mulut dan
tenggorokan terasa kering.
3. Gastritis
Hypertropik Kronik
~ Nyeri pada
epigastrium yang tidak selalu berkurang setelah minum susu.
~ Nyeri biasanya
timbul pada malam hari.
~ Kadang disertai
melena.
III. PATOFISIOLOGI.
Bahan-bahan makanan,
minuman, obat maupun zat kimia yang masuk kedalam lambung menyebabkan
iritasi atau erosi pada mukosanya sehingga lambung kehilangan barrier
(pelindung). Selanjutnya terjadi peningkatan difusi balik ion
hidrogen. Gangguan difusi pada mukosa dan penngkatan sekresi asam
lambung yang meningkat / banyak. Asam lambung dan enzim-enzim
pencernaan. Kemudian menginvasi mukosa lambung dan terjadilah reaksi
peradangan.
Demikian juga
terjadi peradangan dilambung karena invasi langsung pada sel-sel
dinding lambung oleh bakteri dan terinfeksi. Peradangan ini
termanifestasi seperti perasaan perih di epigastrium, rasa panas /
terbakar dan nyeri tekan.
Spasme lambung juga
mengalami peningkatan diiringi gangguan pada spinkter esophagus
sehingga terjadi mual-mual sampai muntah. Bila iritasi / erosi pada
mukosa lambung sampai pada jaringan lambung dan mengenai pembuluh
darah. Sehingga kontinuitasnya terputus dapat mennimbulkan
hematemesis maupun melena.
IV. PEMERIKSAAN
PENUNJANG.
1. Darah
lengkap. 6. Faeces
2. Gastroscopy 7.
Biosi dan sitologi
3. Nasogastrik
aspiration. 8. Endoscopy
4. Angiografie
visualization 9. Double-contrast
5. Semin-gastrin
V. PENATALAKSANAAN.
1. Gastritis
Akute.
1. Gastritis
Eksogen Akute Simple.
~ Fase akute,
istirahat total 1-2 hari.
~
Hari I sebaiknya jangan diberikan makan, setelah mual dan muntah
berkurang, coba berikan teh hangat dan air minum.
~
Hari kedua berikan susu hangat, benintton dengan garam terutama
setelah banyak muntah.
~ Hari ketiga boleh
makan bubur dan bisa makan lembek lainnya.
~ Kolaborasi medik :
 Pemberian
cairan.
 Antimentek
untuk mengurangi muntah ~ Sotatik.
 Anti
spasmodik untuk memperbaiki spasme otot.
2. Gastritis
Infektiosa Akute.
~ Pengaturan diet.
~ Beri makanan
lembek dan tidak merangsang mual dan muntah.
~ Kolaborasi medik :
 Pemberian
antibiotik untuk penanganan factor penyebab.
 Pembrian
anti spasmodik.
3. Gastritis
Hegmonos Akute.
~ Pengaturan diet.
~ Pada abses lokal
perlu dilakukan drainase.
~ Pada pasien dengan
hegmonos dispus perlu gastriktomy.
~ Kolaborasi medik :
 Antibiotik
untuk penanganan faktor penyebab.
2. Gastritis
Kronis.
1. Gastritis
Superfisialis.
~ Istirahat yang
cukup.
~
Pemberian makanan yang cair utuk penderita yang mengalami erosi dan
perdarahan sedikit.
~ Makanan lembek
untuk yang tidak terjadi perdarahan.
~ Kolaborasi medik :
 Pemberian
anti spasmodic.
2. Gastritis
Atropikan.
~
Setelah makan sebaiknya istirahat untuk mnecegah terjadinya neusea
dan vumitus.
~ Beri makanan
lembek dan porsi kecil tapi sering.
~ Kolaborasi medik :
 Pemberian
anti spasmodik.
 Beri
ekstrak hati, Vit. B12, dan zat besi.
3. Gastritis
Hypertropikan.
~ Istirahat yang
cukup.
~ Hindari merokok.
~ Beri makanan cair
dan lembek.
~ Kolaborasi medik :
 Anti
spasmodik.
 Anti
perdarahan k/p.
VI. KOMPLIKASI.
1. Gastritis
Akute.
1. Perdarahan
saluran cerna atas, hingga anemia dan kematian.
2. Ulkus
pada lambung.
3. Perforasi
lambung.
2. Gastritis
Kronis.
1. Gangguan
penyerapan Vitamin B12 karena atropi lambung dan akan terjadi
anemia pernisiosa.
2. Gangguan
penyerapan zat besi.
3. Penyempitan
daearah fillorus.
4. Kanker
lambung.
BAB
II
KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA
PASIEN DENGAN GASTRITIS
PENGKAJIAN.

1. Aktivitas
/ istirahat.
Gejala : • Kelemahan
/ kelelahan.
Tanda : • Takhikardi,
takipnoe, ( hiperventilasi ).
2. Sirkulasi.
Gejala : • Hipotensi.
• Takhikardi.
Disritmia.
• Kelemahan
nadi / perifer
• Pengisian
kapiler lambat.
• Warna
kulit pucat, sianosis.
• Kelembaban
kulit, berkeringat.
3. Integritas
Ego.
Gejala : • Faktor
stress akut / psikologi.
• Perasaan
tidak berdaya.
Tanda : • Tanda
ansietas, misalnya ; pucat, gelisah, berkeringat.
• Perhatian
menyempit.
4. Eliminasi.
Gejala :
• Perubahan pola defekasi /
karakteristik feces.
Tanda : • Nyeri
tekan abdomen.
• Distensi
abdomen. Peningkatan bunyi usus.
• Karakteristik
feses ; diare dan konstipasi.
5. Makanan /
Cairan.
Gejala : • Anorexia,
mual, dan muntah, cegukan.
• Tidak
toleran terhadap makanan.
Tanda : • Muntah,
membran mukosa kering, turgor kulit menurun.
6.
Neorosensori.
Gejala : • Pusing,
sakit kepala, terasa berdengung.
• Status
mental, tingkat kesadaran terganggu, cenderung mengantuk,
disorientasi, bingung.
7. Nyeri /
Kenyamanan.
Gejala : • Nyeri
digambarkan tajam, dangkal, rasa terbakar, perih
• Rasa
ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah banyak makan &
hilang setelah minum obat antasida.
• Nyeri
epigastrium kiri menyebar ketengah dan menjalar tembus kepinggang
1-2 jam setelah makan ( ulkus peptik ).
• Nyeri
epigastrium kanan  4 jam
setelah makan dan hilang setelah diberi antasida ( ulkus doudenum ).
• Faktor
pencetus, makanan, rokok, alkohol penggunaan obat tertentu.
• Stress
psikologis.
8. Keamanan.
Gejala : • Alergi
terhadap obat.
Tanda : • Peningkatan
suhu.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL.
1. Perubahan
krnyamanan; Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa gaster.
Tujuan
jangka pendek : Pasien mengatakan rasa nyeri berkurang.
Tujuan
jangka panjang : Tidak terjadi iritasi berlanjut.
• Rencana
Tindakan.
1. Puasakan
pasien pada 6 jam pertama.
2. Berikan
makanan lunak sedikit demi sedikit dan beri minum yang hangat.
3. Identifikasi
dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan.
4. Observasi
keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitasnya, ( skala 0-10 ),
serta perubahan karakteristik nyeri.
• Rasionalisasi.
1. Mengurangi
inflamasi pada mukosa lambung.
2. Dilatasi
gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat etelah
periode puasa.
3. Dapat
menyebabkan distres pada bermacam-macam individu / dispepsia.
4. Perubahan
karakteristik nyeri dapat menunjukan penyebaran penyakit /
terjadinya komplikasi.
2. Pemenuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Anorexia.
Tujuan
jangka pendek : Pemasukan nutrisi yang adekuat.
Tujuan
jangka panjang : Mempertahankan BB tetap seimbang.
• Rencana
Tindakan.
1. Buat
program kebutuhan nutrisi harian & standar BB minimum.
2. Berikan
perawatan mulut sebelum & sesudah makan.
3. Monitor
aktivitas fisik dan catat tingkat aktivitas tersebut.
4. Hindari
makanan yang menimbulkan gas.
5. Sediakan
makanan dengan ventilasi yang baik, lingkungan yang menyenangkan,
dengan situasi yang tidak terburu-buru.
• Rasionalisasi.
1. Sebagai
acuan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien.
2. Memberikan
rasa nyaman pada mulut dan dapat mengurangi rasa mual.
3. Membantu
dalam mempertahankan tonus otot dan berat badan juga untuk
mengontrol tingkat pembakaran kalori.
4. Dapat
mempengaruhi nafsu makan / pencernaan dan membatasi masukan nutrisi.
5. Lingkungan
yang mennyenangkan dapat menurunkan stress dan lebih kondusif untuk
makan.
3. Ansietas
tahap sedang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan
jangka pendek : Pasien dapat mendiskusikan permasalahan yang
dihadapinya.
Tujuan
jangka panjang : Pasien dapat memecahkan masalah dengan
menggunakan sumber yang efektif.
• Rencana
Tindakan
1. Observasi
respon fisiologis, mis : takipnoe, palpitasi, pusing.
2. Catat
petunjuk perilaku, mis : gelisah, midah tersinggung.
3. Dorong
pernyataan takut dan ansietas, berikan respon umpan balik.
4. Berikan
lingkungan yang tenang untuk beristirahat.
5. Berikan
tekhnik relaksasi, mis: latihan nafas dalamdan bimbingan imaginasi.
6. Bantu
pasien untuk mengidentifikasi dan melakukan koping positif.
• Rasionalisasi
1. Dapat
menjadi indikasi derajat ansietas yang dialami pasien.
2. Indikator
derajat ansietas.
3. Membuat
hubungan therafiutik, membantu pasien untuk menerima perasaan dan
menurunkan ansietas yang tidak perlu tentang ketidak tahuan.
4. Memindahkan
pasien dari stresor luar dan meningkatkan relaksasi, juga dapat
meningkatkan ketrampilan koping.
5. Cara
relaksasi dapat membantu menurunkan takut dan ansietas.
6. Perilaku
yang berhasil dapat menguatkan pasien dalam menerima ansietas,
meningkatkan rasa pasien terhadap kontrol diri dan memberikan
keyakinan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar