Jumat, 19 Juni 2009

KONSEP NIFAS


KONSEP
NIFAS, EKLAMSI, FORCEPS
KONSEP NIFAS
Pengertian
1. Masa nifas dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari,2000:122).
2. Masa nifas merupakan
masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi
minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke
keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac
Donald,1995:281).
3. Masa nifas adalah
masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk
memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12
minggu. ( Ibrahim C, 1998: ).
Tujuan Perawatan Masa Nifas
Dalam masa nifas ini
penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama
ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah
sakit.
Adapun tujuan dari
perawatan masa nifas adalah:
1. Menjaga kesehatan ibu
dan bayi baik fisik maupun psikologi.
2. Melaksanakan skrining
yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
3. Memberikan pendidikan
kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan
bayi sehat.
4. Untuk mendapatkan
kesehatan emosi. (Bari Abdul,2000:121)
2.2.1.3 Perubahan Masa Nifas
Selama menjalani masa
nifas, ibu mengalami perubahan yang bersifat fisiologis yang meliputi
perubahan fisik dan psikologik, yaitu:
1. Perubahan fisik
Involusi
Involusi
adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau
uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai
keadaan seperti sebelum hamil.
Proses
involusi terjadi karena adanya:
Autolysis
yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena
adanya hiperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih
panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu
masa hamil akan susut kembali mencapai keadaan semula. Penghancuran
jaringan tersebut akan diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh
ginjal yang menyebabkan ibu mengalami beser kencing setelah
melahirkan.
Aktifitas
otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah
anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah
karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi
uterus yang tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan
terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot
kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi
lebih kecil.
Ischemia
yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi pada
jaringan otot uterus.
Involusi
pada alat kandungan meliputi:
Uterus
Setelah plasenta lahir
uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi
otot-ototnya.
Perubahan uterus setelah
melahirkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
i. Tabel 2.1 Tabel Perubahan
Uterus Setelah melahirkan



Involusi TFU Berat Uterus Diameter Bekas Melekat Plasenta Keadaan Cervix
Setealh pladsenta lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu Sepusat
Pertengahan pusat
symphisis
Tak teraba
Sebesar hamil 2 minggu
Normal 1000 gr
500 gr
350 gr
50 gr
30 gr 12,5
7,5 cm
5 cm
2,5 cm Lembik
Dapat dilalui 2 jari
Dapat dimasuki 1 jari
Sumber: Rustam
muchtar, 1998
Involusi
tempat plasenta
Pada
permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar
yang tersumbat oleh trombus. Luka bekas implantasi plasenta tidak
meninggalkan parut karena dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan
endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari
pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka. (Sulaiman
S, 1983l: 121 )
Perubahan
pembuluh darah rahim
Dalam
kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang besar, tetapi
karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang
banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas.
Perubahan
pada cervix dan vagina
Beberapa
hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari,
pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh 1 jari saja. Karena
hiperplasi ini dan karena karena retraksi dari cervix, robekan cervix
jadi sembuh. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat
laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke 3 post partum ruggae
mulai nampak kembali.
Rasa
sakit yang disebut after pains (
meriang atau mules-mules) disebabkan koktraksi rahim biasanya
berlangsung 3 – 4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian
pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu analgesik.(
Cunningham, 430)
1. Lochia
Lochia
adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa
nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah
menstruasi. Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi
tidak busuk.
Pengeluaran
lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya yaitu lokia
rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks
kaseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai
hari pertama sampai hari ketiga.
Lochia
sanginolenta berwarna putih bercampur merah , mulai hari ketiga
sampai hari ketujuh.
Lochia
serosa berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari keempat
belas.
Lochia
alba berwarna putih setelah hari keempat belas.( Manuaba, 1998: 193)

Dinding
perut dan peritonium
Setelah
persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,
biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligamen fascia dan diafragma
pelvis yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur
angsur mengecil dan pulih kembali.Tidak jarang uterus jatuh ke
belakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum jadi kendor.
Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca
persalinan.( Rustam M, 1998: 130)

Sistim Kardiovasculer
Selama
kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi
penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh
darah uterus. Penurunan dari estrogen mengakibatkan diuresis yang
menyebabkan volume plasma menurun secara cepat pada kondisi normal.
Keadaan ini terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran.
Selama ini klien mengalami sering kencing. Penurunan progesteron
membantu mengurangi retensi cairan sehubungan dengan penambahan
vaskularisasi jaringan selama kehamilan. ( V Ruth B, 1996: 230)
Ginjal
Aktifitas
ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume darah dan
ekskresi produk sampah dari autolysis. Puncak dari aktifitas ini
terjadi pada hari pertama post partum.( V Ruth B, 1996: 230)

Sistim Hormonal
Oxytoxin
Oxytoxin
disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi pada otot
uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan aksi
oxytoxin menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu oxytoxin beraksi
untuk kestabilan kontraksi uterus, memperkecil bekas tempat
perlekatan plasenta dan mencegah perdarahan. Pada wanita yang memilih
untuk menyusui bayinya, isapan bayi menstimulasi ekskresi oxytoxin
diamna keadaan ini membantu kelanjutan involusi uterus dan
pengeluaran susu. Setelah placenta lahir, sirkulasi HCG, estrogen,
progesteron dan hormon laktogen placenta menurun cepat, keadaan ini
menyebabkan perubahan fisiologis pada ibu nifas.
Prolaktin
Penurunan
estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh glandula hipofise
anterior bereaksi pada alveolus payudara dan merangsang produksi
susu. Pada wanita yang menyusui kadar prolaktin terus tinggi dan
pengeluaran FSH di ovarium ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui
kadar prolaktin turun pada hari ke 14 sampai 21 post partum dan
penurunan ini mengakibatkan FSH disekresi kelenjar hipofise anterior
untuk bereaksi pada ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan
progesteron dalam kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf,
ovulasi dan menstruasi.( V Ruth B, 1996: 231)

Laktasi
Laktasi
dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Air
susu ibu ini merupakan makanan pokok , makanan yang terbaik dan
bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh ibu yamg baru saja
melahirkan bayi akan tersedia makanan bagi bayinya dan ibunya
sendiri.
Selama
kehamilan hormon estrogen dan progestron merangsang pertumbuhan
kelenjar susu sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan saluran
kelenjar , kedua hormon ini mengerem LTH. Setelah plasenta lahir maka
LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi.
Lobus
prosterior hypofise mengeluarkan oxtoxin yang merangsang pengeluaran
air susu. Pengeluaran air susu adalah reflek yang ditimbulkan oleh
rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi. Rangsang ini menuju ke
hypofise dan menghasilkan oxtocin yang menyebabkan buah dada
mengeluarkan air susunya.
Pada
hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini
menandai permulaan sekresi air susu, dan kalau areola mammae dipijat,
keluarlah cairan puting dari puting susu.
Air
susu ibu kurang lebih mengandung Protein 1-2 %, lemak 3-5 %, gula
6,5-8 %, garam 0,1 – 0,2 %.
Hal
yang mempengaruhi susunan air susu adalah diit, gerak badan.
Benyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan serta
makanan yang dikonsumsi ibu.( Obstetri Fisiologi UNPAD, 1983: 318 )
Tanda-tanda
vital
Perubahan
tanda-tanda vital pada massa nifas meliputi:
Tabel 2.2 Tabel perubahan
Tanda-tanda Vital

Parameter Penemuan normal Penemuan abnormal
Tanda-tanda vital Tekanan darah < 140
/ 90 mmHg, mungkin bisa naik dari tingkat disaat persalinan 1 –
3 hari post partum.
Suhu tubuh <
38 0 C
Denyut nadi: 60-100 X / menit Tekanan darah > 140
/ 90 mmHg
Suhu > 380
C
Denyut nadi: > 100 X / menit
2. Perubahan Psikologi
Perubahan psikologi masa nifas menurut Reva- Rubin
terbagi menjadi dalam 3 tahap yaitu:
Periode
Taking In
Periode
ini terjadi setelah 1-2 hari dari persalinan.Dalam masa ini terjadi
interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan bayi. Hal ini
dapat dikatakan sebagai psikis honey moon yang tidak memerlukan
hal-hal yang romantis, masing-masing saling memperhatikan bayinya dan
menciptakan hubungan yang baru.
Periode
Taking Hold
Berlangsung
pada hari ke – 3 sampai ke- 4 post partum. Ibu berusaha bertanggung
jawab terhadap bayinya dengan berusaha untuk menguasai ketrampilan
perawatan bayi. Pada periode ini ibu berkosentrasi pada pengontrolan
fungsi tubuhnya, misalnya buang air kecil atau buang air besar.
Periode
Letting Go
Terjadi
setelah ibu pulang ke rumah. Pada masa ini ibu mengambil tanggung
jawab terhadap bayi.( Persis Mary H, 1995: )
Sedangkan
stres emosional pada ibu nifas kadang-kadang dikarenakan kekecewaan
yang berkaitan dengan mudah tersinggung dan terluka sehingga nafsu
makan dan pola tidur terganggu. Manifestasi ini disebut dengan post
partum blues dimana terjadi pada hari ke 3-5 post partum.( Ibrahim C
S, 1993: 50)


2.2.1.4 Perawatan
Masa Nifas
Setelah melahirkan, ibu membutuhkan perawatan yang intensif untuk
pemulihan kondisinya setelah proses persalinan yang melelahkan.
Dimana perawatan post partum meliputi:
1. Mobilisasi Dini
Karena lelah sehabis melahirkan , ibu harus istirahat tidur
telentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring
kekanan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan trombo emboli.
Pada hari kedua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan-jalan dan hari
keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas
memiliki variasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan
sembuhnya luka-luka.
Keuntungan dari mobilisasi dini adalah melancarkan
pengeluaran lochia, mengurangi infeksi purperium, mempercepat
involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan
alat perkemihan, meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga
mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.( Manuaba,
1998: 193)
2. Rawat Gabung
Perawatan ibu dan bayi dalan satu ruangan bersama-sama sehingga
ibulebih banyak memperhatikan bayinya, segera dapat memberikan ASI
sehingga kelancaran pengeluaran ASI lebih terjamin.( Manuaba, 1998:
193)
3. Pemeriksaan Umum
Pada ibu nifas pemeriksaan umum
yang perlu dilakukan antara lain adalah kesadaran penderita, keluhan
yang terjadi setelah persalinan.
4. Pemeriksaan
Khusus
Pemeriksaan
khusus pada ibu nifas meliputi:
Fisik
: tekanan darah, nadi dan suhu
Fundus
uteri : tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
Payudara
: puting susu, pembengkakan, pengeluaran ASI
Patrun lochia : Locia rubra, lochia sanginolenta,
lochia serosa, lochia alba
Luka
jahitan episiotomi : Apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda
infeksi. ( Manuaba, 1998: 193)
5. Nasehat
Yang Perlu diberikan saat pulang adalah:

Diit
Masalah
diit perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh pada pemulihan
kesehatan ibu dan pengeluaran ASI. Makanan harus mengandung gizi
seimbang yaitu cukup kalori, protein, cairan, sayuran dan
buah-buahan.
Pakaian
Pakaian
agak longgar terutama didaerah dada sehingga payudara tidak tertekan.
Daerah perut tidak perlu diikat terlalu kencang karena tidak akan
mempengaruhi involusi. Pakaian dalam sebaiknya yang menyerap,
sehingga lochia tidak menimbulkan iritasi pada daerah sekitarnya.
Kasa pembalut sebaiknya dibuang setiap saat terasa penuh dengan
lochia,saat buang air kecil ataupun setiap buang air besar.
Perawatan
vulva
Pada
tiap klien masa nifas dilakukan perawatan vulva dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya inveksi di daerah vulva, perineum maupun didalam
uterus. Perawatan vulva dilakukan pada pagi dan sore hari sebelum
mandi, sesudah buang air kemih atau buang air besar dan bila klien
merasa tidak nyaman karena lochia berbau atau ada keluhan rasa nyeri.
Cara perawatan vulva adalah cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
perawatan luka, setelah BAK cebok ke arah depan dan setelah BAB cebok
kearah belakang, ganti pembalut stiap kali basah atau setelah BAB
atau BAK , setiap kali cebok memakai sabun dan luka bisa diberi
betadin.Untuk cara merawat luka dapat dilihat pada lampiran 1
Miksi
Kencing
secara spontan sudah harus dapat dilakukan dalam 8 jam post partum.
Kadang kadang wanita sulit kencing, karena spincter uretra mengalami
tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musculus spincter
ani selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit
kencing sebaiknya dilakukan kateterisasi.( Persis H, 1995: 288)
Defekasi
Buang
air besar harus terjadi pada 2-3 hari post partum. Bila belum terjadi
dapat mengakibatkan obstipasi maka dapat diberikan obat laksans per
oral atau perektal atau bila belum berhasil lakukan klisma.( Persis
H,1995: 288)
Perawatan
Payudara
Perawatan
payudara telah mulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas,
tidak keras dan kering, sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
Dianjurkan sekali supaya ibu mau menyusui bayinya karena sangat
berguna untuk kesehatan bayi.Dan segera setelah lahir ibu sebaiknya
menyusui bayinya karena dapat membantu proses involusi serta
colostrum mengandung zat antibody yang berguna untuk kekebalan tubuh
bayi.Cara perawatan payudara ada pada lampiran no.2
(
Mac. Donald, 1991: 430)
Kembalinya
Datang Bulan atau Menstruasi
Dengan
memberi ASI kembalinya menstruasi sulit diperhitungkan dan bersifat
indifidu. Sebagian besar kembalinya menstruasi setelah 4-6 bulan.
Cuti Hamil
dan Bersalin
Bagi
wanita pekerja menurut undang-undang berhak mengambil cuti hamil dan
bersalin selama 3 bulan yaitu 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan
setelah melahirkan.

Mempersiapkan untuk Metode KB
Pemeriksaan
post partum merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan metode KB
untuk menjarangkan atau menghentikan kehamilan. Oleh karena itu
penggunaan metode KB dibutuhkan sebelum haid pertama kembali untuk
mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode KB dapat dimulai 2
minggu setelah melahirkan.(Bari Abdul,2000:129)
2.2.2 KONSEP
EKLAMSI
2.2.2.1. Batasan
1. Eklamsi adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil
tua, persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau
koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklamsi
(hipertensi, edems, proteinuri) . (Wirjoatmodjo, 1994: 49).
2. Eklamsi merupakan kasus akut, pada penderita dengan
gambaran klinik pre eklamsi yang disertai dengan kejang dan koma yang
timbul pada ante, intra dan post partum. (Angsar MD, 1995:
41)
2.2.2.2 Patofisiologi
Penyebabnya sampai sekarang belum jelas. Penyakit ini dianggap
sebagai suatu “ Maldaptation Syndrom” dengan akibat suatu vaso
spasme general dengan akibat yang lebih serius pada organ hati,
ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni tejadi nekrosis dan
perdarahan pada organ-organ tersebut. (Pedoman Diagnosis dan Terapi,
1994: 49)
2.2.2.3 Pembagian Eklamsi
Berdasarkan waktu terjadinya eklamsi dapat dibagi menjadi:
1. Eklamsi gravidarum
Kejadian 50-60 % serangan terjadi dalam keadaan hamil
2. Eklamsi Parturientum
Kejadian
sekitar 30-35 %, terjadi saat inpartu dimana batas dengan eklamsi
gravidarum sukar dibedakan terutama saat mulai inpartu.
3. Eklamsi Puerperium
Kejadian jarang sekitar 10 %, terjadi serangan kejang
atau koma setelah persalinan berakhir. ( Manuaba, 1998: 245)
2.2.2.4. Gejala Klinis
Eklamsi
Gejala
klinis Eklamsi adalah sebagai berikut:
1. Terjadi pada
kehamilan 20 minggu atau lebih
2. Terdapat tanda-tanda pre eklamsi ( hipertensi, edema, proteinuri,
sakit kepala yang berat, penglihatan kabur, nyeri ulu hati,
kegelisahan atu hiperefleksi)
1. Kejang-kejang atau
koma
Kejang
dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi:
Tingkat
awal atau aura (invasi)
Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat
(pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar
kekanan dan kekiri.
Stadium
kejang tonik
Seluruh
otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam dan kaki
membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai kelihatan
sianosis, lodah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
Stadium
kejang klonik
Semua
otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut
terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit.
Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah
berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita
tidak sadar, menarik mafas seperti mendengkur.
Stadium
koma
Lamanya
ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara
kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam
keadaan koma. (Muchtar Rustam, 1998: 275)
2. Kadang kadang
disertai dengan gangguan fungsi organ.

(Wirjoatmodjo, 1994: 49)
2.2.2.5. Pemeriksaan
dan Diagnosis
Diagnosis
eklamsi dapat ditegakkan apabila terdapat tanda-tanda sebagai
berikut:
1. Berdasarkan
gejala klinis diatas
2. Pemeriksaan laboratorium meliputi adanya protein dalam
air seni, fungsi organ hepar, ginjal dan jantung, fungsi hematologi
atau hemostasis
Konsultasi
dengan displin lain kalau dipandang perlu
1. Kardiologi
2. Optalmologi
3. Anestesiologi
4. Neonatologi
dan lain-lain
(Wirjoatmodjo, 1994: 49)
2.2.2.6. Diagnosis
Banding
Diagnosis
banding dari kehamilan yang disertai kejang-kejang adalah:
1. Febrile convulsion ( panas +)
2. Epilepsi ( anamnesa epilepsi + )
3. Tetanus ( kejang tonik atau kaku
kuduk)
4. Meningitis atau encefalitis ( pungsi lumbal)
2.2.2.7. Komplikasi Serangan
Komplikasi yang dapat timbul saat terjadi serangan kejang adalah:
1. Lidah tergigit
2. Terjadi perlukaan dan fraktur
3. Gangguan pernafasan
4. Perdarahan
otak
5. Solutio
plasenta dan merangsang persalinan

( Muchtar Rustam, 1995:226)
2.2.2.8. Bahaya Eklamsi
1. Bahaya eklamsi pada ibu
Menimbulkan sianosis, aspirasi air ludah menambah
gangguan fungsi paru, tekanan darah meningkat menimbulkan perdarahan
otak dan kegagalan jantung mendadak, lidah dapat tergigit, jatuh dari
tempat tidur menyebabkan fraktura dan luka-luka, gangguan fungsi
ginjal: oligo sampai anuria, pendarahan atau ablasio retina, gangguan
fungsi hati dan menimbulkan ikterus.
2. Bahaya
eklamsi pada janin
Asfiksia
mendadak, solutio plasenta, persalinan prematuritas, IUGR (Intra
Uterine Growth Retardation), kematian janin dalam rahim.
( Pedoman
Diagnosis dan Terapi, 1994: 43)
2.2.2.9 Prognosa
Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya, maka prognosa
kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa dipengaruhi oleh paritas,
usia dan keadaan saat masuk rumah sakit. Gejala-gejala yang
memberatkan prognosa dikemukakan oleh Eden adalah:
1. Koma yang lama
2. Nadi diatas
120 per menit
3. Suhu diatas
39°C.
4. Tensi diatas
200 mmHg
5. Lebih dari
sepuluh serangan
6. Priteinuria
10 gr sehari atau lebih
7. Tidak adanya
oedema. ( M Dikman A, 1995: 45)

2.2.2.10. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan eklamsia pada ibu nifas adalah
menghentikan kejang kejang yang terjadi dan mencegah kejang ulang.
1.
Konsep pengobatan
Menghindari
tejadinya kejang berulang, mengurangi koma, meningkatkan jumlah
diuresis.

2.Obat untuk anti kejang
MgSO4 (
Magnesium Sulfat)
Dosis awal: 4gr 20 % I.V. pelen-pelan selama 3 menit atau lebih
disusul 10gr 40% I.M. terbagi pada bokong kanan dan kiri.
Dosis
ulangan : tiap 6 jam diberikan 5 gr 50 % I.M. diteruskan sampai 6
jam pasca persalinan atau 6 jam bebas kejang.
Syarat : reflek patela harus positif, tidak ada tanda-tanda depresi
pernafasan ( respirasi >16 kali /menit), produksi urine tidak
kurang dari 25 cc/jam atau 150 cc per 6 jam atau 600 cc per hari.
Apabila
ada kejang lagi, diberikan Mg SO 4
20 %, 2gr I.V. pelan-pelan. Pemberian I.V. ulangan ini hanya sekali
saja, apabila masih timbul kejang lagi maka diberikan pentotal 5 mg /
kg BB / I.V. pelan-pelan.
Bila
ada tanda-tanda keracunan Mg SO 4 diberikan antidotum glukonas
kalsikus 10 gr % 10 cc / I.V pelan-pelan selama 3 menit atau lebih.
Apabila
diluar sudah diberi pengobatan diazepam, maka dilanjutkan pengobatan
dengan MgSO 4 .
2.2.3 KONSEP
EKSTRAKSI FORCEPS
2.2.3.1. Definisi
Ekstraksi forceps adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan dengan suatu tarikan cunam yang dipasang pada
kepalanya. (Hanifa W,1991: 88)
Cunam atau forceps adalah suatu alat obstetrik terbuat dari logam
yang digunakan untuk melahirkan anak dengan tarikan
kepala.(Phantom,______:178)
Ekstraksi cunam adalah tindakan obstetrik yang bertujuan untuk
mempercepat kala pengeluaran dengan jalan menarik bagian bawah janin
( kepala ) dengan alat cunam. ( Bari Abdul, 2001: 501)
2.2.3.2. Tujuan
Menurut Rustam Mochtar 1998, persalinan dengan ekstraksi
forceps bertujuan:
1. Traksi yaitu menarik anak yang tidak dapat lahir spontan
2. Koreksi yaitu merubah letak kepala dimana ubun-ubun
kecil dikiri atau dikanan depan atau sekali-kali UUK melintang kiri
dan kanan atau UUK ki /ka belakang menjadi UUK depan ( dibawah
symphisis pubis)
3. Kompresor yaitu untuk menambah moulage kepala
2.2.3.3. Jenis Tindakan
Forceps
Berdasarkan pada jauhnya turun kepala, dapat dibedakan beberapa
macam tindakan ekstraksi forceps, antara lain:
1. Forceps rendah
Dilakukan
setelah kepala bayi mencapai H IV, kepala bayi mendorong perineum,
forceps dilakukan dengan ringan disebut outlet forceps.
2. Forceps
tengah
Pada
kedudukan kepala antara H II atau H III, salah satu bentuk forceps
tengah adalah forceps percobaan untuk membuktikan disproporsi panggul
dan kepala. Bila aplikasi dan tarikan forceps berat membuktikan
terdapat disproporsi kepala panggul . Forceps percobaan dapat diganti
dengan ekstraksi vaccum.
3. Forceps
tinggi
Dilakukan pada kedudukan kepala diantara H I atau H II, forceps
tinggi sudah diganti dengan seksio cesaria.

( Manuaba,1998: 348)
2.2.3.4 Indikasi
Indikasi pertolongan ekstraksi forceps adalah
1.
Indikasi ibu
Ruptura
uteri mengancam, artinya lingkaran retraksi patologik band sudah
setinggi 3 jari dibawah pusat, sedang kepala sudah turun sampai H
III- H IV.
Adanya
oedema pada vagina atau vulva. Adanya oedema pada jalan lahir artinya
partus sudah berlangsung lama.
Adanya
tanda-tanda infeksi, seperti suhu badan meninggi, lochia berbau.
Eklamsi
yang mengancam
Indikasi
pinard, yaitu kepala sudah di H IV, pembukaan cervix lengkap,
ketuban sudah pecah atau 2jam mengedan janin belum lahir juga
Pada
ibu-ibu yang tidak boleh mengedan lama, misal Ibu dengan
decompensasi kordis , ibu dengan Koch pulmonum berat, ibu dengan
anemi berat (Hb 6 gr % atau kurang), pre eklamsi berat, ibu dengan
asma broncial.
Partus
tidak maju-maju
Ibu-ibu
yang sudah kehabisan tenaga.
2. Indikasi janin
Gawat janin
Tanda-tanda
gawat janin antara lain :
Cortonen menjadi cepat takhikardi 160 kali per menit dan
tidak teratur, DJJ menjadi lambat bradhikardi 160 kali per menit dan
tidak teratur, adanya mekonium (pada janin letak kepala)
Prolapsus funikulli, walaupun keadaan anak masih baik
(Rustam
Muchtar,1995: 84-85)
2.2.3.5 Syarat
Syarat-syarat untuk dapat
melakukan ekstrasksi forceps antara lain:
1. 1. Pembukaan
lengkap
2. 2. Selaput ketuban
telah pecah atau dipecahkan
3. Presentasi
kepala dan ukuran kepala cukup cunam
4. Tidak ada
kesempitan panggul
5. Anak hidup
termasuk keadaan gawat janin
6. Penurunan H III
atau H III- H IV ( puskesmas H IV atau dasar panggul)
7. Kontraksi baik
8. Ibu tidak
gelisah atau kooperatif
( Bari Abdul, 2001: 502)
2.2.3.6 Kontra Indikasi
Kontra indikasi dari
ekstraksi forceps meliputi
1. Janin sudah lama mati
sehingga sudah tidak bulat dan keras lagi sehingga kepala sulit
dipegang oleh forceps
2. Anencephalus
3. Adanya disproporsi
cepalo pelvik
4. Kepala masih tinggi
5. Pembukaan belum
lengkap
6. Pasien bekas operasi
vesiko vagina fistel
7. Jika lingkaran
kontraksi patologi bandl sudah setinggi pusat atau lebih
(Muchtar
Rustam, 1995: 85)
2.2.3.7 Komplikasi
Komplikasi atau
penyulit ekstraksi forceps adalah sebagai berikut
1. Komplikasi
langsung akibat aplikasi forceps dibagi menjadi
Komplikasi
yang dapat terjadi pada ibu dapat berupa:
Perdarahan
yang dapat disebabkan karena atonia uteri, retensio plasenta serta
trauma jalan lahir yang meliputi ruptura uteri, ruptura cervix,
robekan forniks, kolpoforeksis, robekan vagina, hematoma luas,
robekan perineum.
Infeksi yang terjadi karena sudah terdapat sebelumnya, aplikasi alat
menimbulkan infeksi, plasenta rest atau membran bersifat asing yang
dapat memudahkan infeksi dan menyebabkan sub involusi uteri serta
saat melakukan pemeriksaan dalam

Komplikasi segera pada bayi
Asfiksia
karena terlalu lama di dasar panggul sehingga terjadi rangsangan
pernafasan menyebabkan aspirasi lendir dan air ketuban. Dan jepitan
langsung forceps yang menimbulkan perdarahan intra kranial, edema
intra kranial, kerusakan pusat vital di medula oblongata atau trauma
langsung jaringan otak.
Infeksi oleh
karena infeksi pada ibu menjalar ke bayi
Trauma
langsung forceps yaitu fraktura tulang kepala dislokasi sutura tulang
kepala; kerusakan pusat vital di medula oblongata; trauma langsung
pada mata, telinga dan hidung; trauma langsung pada persendian tulang
leher; gangguan fleksus brachialis atau paralisis Erb, kerusakan
saraf trigeminus dan fasialis serta hematoma pada daerah tertekan.
2. Komplikasi
kemudian atau terlambat
Komplikasi
pada ibu
Perdarahan
yang disebabkan oleh plasenta rest, atonia uteri sekunder serta
jahitan robekan jalan lahir yang terlepas.
Infeksi
Penyebaran
infeksi makin luas
Trauma jalan lahir yaitu terjadinya fistula vesiko vaginal,
terjadinya fistula rekto vaginal dan terjadinya fistula utero
vaginal.
Komplikasi
terlambat pada bayi dalam bentuk:
Trauma
ekstraksi forceps dapat menyebabkan cacat karena aplikasi forceps
Infeksi yang berkembang menjadi sepsis yang dapat
menyebabkan kematian serta encefalitis sampai meningitis.
Gangguan
susunan saraf pusat
Trauma langsung pada saraf pusat dapat menimbulkan
gangguan intelektual.
Gangguan
pendengaran dan keseimbangan.
2.2.3.8 Perawatan
Setelah Ekstraksi Forceps
Pada
prinsipnya tidak berbeda dengan perawatan post partum biasa, hanya
memerlukan perhatian dan observasi yang lebih ketat, karena
kemungkinan terjadi trias komplikasi lebih besar yaitu perdarahan
robekan jalan lahir dan infeksi.Oleh karena itu perawatan setelah
ekstraksi forceps memerlukan profilaksis pemberian infus sampai
tercapai keadaan stabil, pemberian uterotonika sehingga kontraksi
rahim menjadi kuat dan pemberian anti biotika untuk menghindari
infeksi. ( Manuaba, 1998: 253)
2.3 KONSEP ASUHAN KEBIDANAN PADA KLIEN POST FORCEPS EKSTRAKSI
INDIKASI EKLAMSI
Pada klien post forceps ekstraksi indikasi eklamsi perlu dilakukan
perawatan kebidanan secara intensif dengan menggunakan pendekatan
menejemen kebidanan secara terpadu dan berkesinambungan.
Untuk itu pada kesempatan ini, menejemen kebidanan yang kami terapkan
berdasarkan teori Helen Varney yang menggunakan 7 langkah,meliputi
pengkajian, analisa data, diagnosa, masalah, diagnosa potensial,
tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal proses asuhan kebidanan yang
terdiri dari 3 kegiatan yaitu: pengumpulan data yang diperoleh dari
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
2.3.1.1 Data subyektif
1. Biodata, mencakup
identitas klien serta suami yang terdiri dari:
Nama
yang jelas dan lengkap, bila perlu ditanyakan nama panggilan
sehari-hari.
Umur
dicatat dalam tahun, sebaiknya juga tanggal lahir klien, umur berguna
mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang
dilakukan.
Alamat
perlu dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan mendesak,
misalnya ibu yang dirawat memerluan bantuan keluarga. Dengan adanya
alamat tersebut keluarga klien dapat segera dihubungi. Demikian juga
alamat dapat memberikan petunjuk tentang keadaan lingkungan tempat
tinggal klien.
Pekerjaan
dicatat untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan
permasalahan kesehatan klien dan juga pembiayaan.
Agama
perlu dicatat karena hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupan
termasuk kesehatan. Dengan diketahuinya agama klien, akan memudahkan
bidan melakukan pendekatan dalam melakukan asuhan kebidanan.
Pendidikan
klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat
pendidikan dan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
Status
perkawinan ditanyakan pada klien untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan.
2. Keluhan utama
Keluhan yang mungkin dapat terjadi dan dirasakan oleh ibu nifas post
ekstraksi forceps adalah:
Ibu
merasa mules-mules pada perut atau, ibu merasa sakit pada luka
jahitan perineum, adanya pengeluaran lochia rubra, merah, jumlah
lebih banyak dari keadaan fisiologis, ibu merasa pusing kepala, nyeri
ulu hati dan penglihatan kabur.
3. Riwayat Obstetri
Riwayat
obstetri yang perlu dikaji adalah
Riwayat
Haid
Riwayat
menstruasi yang perlu ditanyakan adalah menarche, siklus teratur atau
tidak, lamanya menstruasi, banyaknya darah yang keluar, menstruasi
terakhir, dismenorrhoe. Hal ini perlu ditanyakan terutama untuk
mengetahui usia kehamilan.
Riwayat
kehamilan dan persalinan yang lalu
Yang
perlu ditanyakan pada klien yang pernah hamil adalah untuk menentukan
faktor risiko. Riwayat kehamilan yang lalu dengan pre eklamsi atau
tidak. Pada klien yang pernah melahirkan yaitu tempat melahirkan,
cara melahirkan BB anak saat lahir, PB anak saat lahir, usia saat
ini, kelainan saat nifas dan riwayat meneteki.
Riwayat
kehamilan sekarang
Yang
perlu ditanyakan adalah para, abortus, umur kehamilan, tempat
pemeriksaan kehamilan, frekwensi pemeriksaan kehamilan, kelainan yang
dialami waktu hamil, penggunaan obat dan jamu. Sewaktu usia kehamilan
20 minggu atau lebih apakah mengalami kenaikan tekanan darah, bengkak
pada wajah, tungkai, tangan, pusing, nyeri ulu hati dan penglihatan
kabur serta apakah ibu pernah kejang selama hamil.
Riwayat
keluarga berencana
Perlu
dicatat bagi ibu yang pernah mengikuti program keluarga berencana.
Hal ini penting diketahui untuk mngetahui apakah kehamilan yang
sekarang memang direncanakan atau tidak. Jenis kontrasepsi yang
digunakan, lamanya menggunakan alat kontrasepsi dan rencana setelah
melahirkan.
4. Riwayat kesehatan
Riwayat
kesehatan yang perlu dikaji meliputi:
Riwayat
penyakit yang pernah atau sedang dialami
Data
yang perlu dikaji meliputi apakah klien punya penyakit menular,
menahun serta menurun.
Perilaku
kesehatan
Data
yang dukaji meliputi tanggapan klien terhadap minum-minuman keras,
merokok, personal hygiene, obat-obatan yang sering diminum.
Riwayat
kesehatan keluarga
Data
ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit
keluarga terhadap gangguan kesehatan klien maupun bayinya, antara
lain penyakit jantung, hipertensi, diabetes militus, keturunan kembar
dan koch pulmonum.
5. Keadaan psikososial
Yang
perlu dikaji dari pasien adalah bagaimana sikap klien terhadap
interaksi yang diadakan bidan, bagaimana rencana meneteki bayinya,
rencana perawatan bayi, dirawat sendiri atau dirawat oleh keluarga.
Juga perlui ditanyakan pengetahuan ibu tentang kesehatan setelah
melahirkan meliputi mobilisasi dini, perawatan payudara, kebersihan
diri khususnya daerah genitalia. Fungsi psikososial khususnya peran
suami dalam mendukung kesembuhan klien.
6. Riwayat adat
kebiasaan
Yang
perlu dikaji adalah adat kebiasaan keluarga dalam pertolongan
persalinan dan pasca persalinan, demikian juga adanya kebiasaan lain
yang ada hubungannya dengan kesehatan klien dan janinnya.
7. Pola pemenuhan
kebutuhan
Nutrisi
Perlu
ditanyakan pemenuhan nutrisi selama dirumah sakit apakah klien
menghabiskan porsi yang dikonsumsi, kalau tidak apakah klien
dibawakan makanan dari rumah.
Tanyakan
juga kebiasaan makan dirumah selama hamil biasanya berapa kali dalam
satu hari, berapa piring dalam satu kali makan, jenis makanan dan
adakah makanan yang berpantang selama hamil. Hal ini perlu ditanyakan
karena kebiasaan makan mempengaruhi proses pemulihan kesehatan klien.
Untuk
klien dengan post eklamsi nutrisi yang diperlukan adalah diit
rendah garam.Contoh diit rendah garam ada pada lampiran 2.
Aktifitas
Ditanyakan
kemampuan aktifitas klien selama dirumah sakit apakah mengalami
hambatan atau tidak, karena pada ibu nifas post eklamsi mobilisasi
dini dapat mulai dilakukan saat keadaan klien berangsur membaik kira-
kira 12 – 24 jam post partum.Mobilisasi dini dapat dimulai dengan
tidur telentang, lalu miring kanan kiri, serta belajar duduk pada
hari ke dua, hari ke tiga belajar berjalan dan hari ke empat atau
kelima sudah boleh pulang.
Istirahat
dan tidur
Selama
dirumah sakit apakah klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan
tidurnya yaitu kira-kira 7 – 8 jam sehari. Berapa jam klien tidur
dalam sehari, bila tidak dapat tidur ditanyakan apakah sebabnya,
apakah menimbulkan gangguan atau tidak.
Kebersihan
diri
Selama
melahirkan apakah dapat melakukan atau mandi sendiri di kamar mandi
atau masih diseka. Tanyakan kapan ganti pembalut, berapa kali dan
jumlah perdarahan.
Eleminasi
alvi dan uri
Apakah
selama dirumah sakit klien sudah buang air kecil, kalau belum
mengapa. Karena pada klien dengan post operatif vaginam selama
proses persalinan kandung kemih mendapat tekanan sehingga dapat
mengakibatkan gangguan eleminasi uri, kalau sudah apakah disertai
rasa nyeri atu tidak, dan buang air kecil sudah harus terjadi secara
spontan pada 8 jam post partum. Apakah sudah buang air besar atau
belum, karena pada post partum BAB sudah harus terjadi pada hari ke
2- 3 post partum, kalau belum mengapa, kalau sudah bagaimana
konsistensi dan warnanya, tanyakan juga kebiasaan buang air besar
dirumah, karena kebiasaan buang air besar yang tidak tiap hari kadang
tidak menimbulkan gangguan.
8. Pola persepsi
Bagaimana
penerimaan klien tehadap tindakan yang dilakukan terhadap proses
persalinan.
2.3.1.2 Data obyektif
Merupakan
data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik meliputi inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi.
Data obyektif yang dapat
ditemukan pada ibu nifas adalah:
1. Riwayat persalinan
Yang
perlu ditanyakan adalah tempat, tanggal, jam persalinan, penolong,
jenis persalinan serta masalah- masalah yang timbul selama
persalinan.
2. Keadaan umum,
kesadaran yang diperoleh dari pengamatan dan pemeriksaan umum pada
klien saat pengkajian .Apakah klien terlihat pucat atau segar,
apakah klien sadar penuh dan dapat beradaptasi dengan keadaan
disekitarnya.
3. Tanda-tanda vital
Hal-
hal yang diperiksa adalah tekanan darah, suhu rektal atau axiler,
denyut nadi dan pernafasan.
4. Tinggi badan dan
berat badan
Dapat
diperiksa apabila keadaan memungkinkan, apabila klien masih tiduran
tidak perlu dicantumkan atau diukur.
5. Pemeriksaan fisik
Pada
pemeriksaan fisik yang perlu diperhatikan adalah
Muka : Pucat, terdapat chloasma gravidarum atau tidak, ekspresi
wajah serta ada oedema atau tidak
Mata : Conjungtiva warna pucat atu tidak, terdapat ikterus atau
tidak pada gigi terdapat caries atau tidak serta kebersihannya.
Mulut : Terdapat stomatitis atau tidak, pada gigi terdapat caries
atau tidak ssrta kebersihannya.
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid ada atau tudak, pembesaran vena
jugularis ada atau tidak.
Dada : Bentuk dada simetris atau tidak, pembesaran payudara,
keras, lembek, bentuk putting susu, serta colostrum keluar atau
belum.
Perut : Inspeksi : apa ada luka bekas SC, striae, linea
Palpasi : TFU secara normal pada hari pertama post partum
setinggi pusat serta kontraksi uterus untuk mengetahui proses
involusi.
Genitalia : Inspeksi : Kebersihan, lochia rubra,warna merah, bau
serta banyaknya.
Perineum : Terdapat bekas episiotomi, banyaknya jahitan, oedema
atau tidak, ada tanda infeksi atau tidak serta luka tampak kering
atau basah.
Anus : Adakah haemorrhoid
ekstremitas : atas: adakah oedema, terpasang infus atau tidak
bawah: adakah oedema, ada farices atau tidak serta reflek
patela.
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
laboratorium meliputi Hb, asam urat, fungsi ginjal,
Urine
Pemeriksaan
laboratorium bisa diulang sesuai keperluan.
7. Pemeriksaan
fisikProgram pengobatan dokter
Sesuai
dengan terapi di konsep dasar eklamsi.
2.3.2 Analisa Data
Diagnosa Dan Masalah
Diagnosa
kebidanan adalah hasil dari perumusan masalah yang diputuskan oleh
bidan. Diagnosa kebidanan sebagai dasar dalam menanggulangi ancaman
kehidupan klien.
Diagnosa
kebidanan dan masalah kebidanan yang muncul pada klien post forceps
ekstraksi indikasi eklamsi adalah:
1. P…….(APIAH) post
forceps ekstraksi indikasi eklamsi hari ke…..
Dasar:
Ibu
melahirkan dengan forceps ekstraksi pada tanggal… jam…..
Ibu
mengatakan perutnya terasa mules
TFU
pada hari pertama post partum setinggi pusat
Pengeluaran
lochia rubra, warna merah bau anyir, jumlah…
Kejang
saat hamil atau inpartu
Kesadaran
composmentis, tanda-tanda vital……….
2. Nyeri luka perineum
Dasar:
Ibu
kesakitan bila berubah posisi
Ibu
mengatakan nyeri pada luka jahitan perineum
Terdapat
jahitan pada perineum
( Persis H, 1995: 286)
3. Nyeri rahim karena
involusi
Dasar:
Ibu
mengatakan perutnya terasa mules, keras dan sakit
Terdapat
kontraksi uterus
Tinggi
fundus uteri pada hari pertama post partum setinggi pusat
Pengeluaran
lochia, bau, anyir
(
Persis H, 1995: 282 )
4. Cemas karena terpisah
dengan bayinya
Dasar:
Ibu
dirawat terpisah dengan bayinya
Ibu
menanyakan keadaan anaknya
( Persis H, 1995: 282 )
5. Gangguan penglihatan
Dasar :
dengan jarak tertentu ibu tidak dapat melihat dengan jelas mata
berkunang-kunang
Diagnosa potensial adalah masalah yang timbul dan bila tidak segera
diatasi akan mengancam keselamatan ibu.( Depkes RI, 1996: 6)
1. Risiko terjadinya
kejang berulang post partum
Dasar:
Ibu
mekahirkan dengan forcps ekstraksi indikasi eklamsi hari ke….
Desakan
darah sistole >160 mmHg dan diastole > 110 mmHg
Adanya
tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial: pusing, penglihatan
kabur dan mual
(
Persis H, 1995: 107)
2. Risiko terjadinya
perdarahan post partum
Dasar:
Post
partum 24 jam debgan tindakan forceps ekstraksi
Kontraksi
uterus lembek, TFU tidak sesuai dengan proses involusi pada hari
ke…..
(
Persis H, 1995: 282)
3. Risiko terjadinya
infeksi nifas
Dasar:
Post
partum dengan tindakan forceps ekstraksi
Ibu
tidak melakukan mobilisasi dini
Pembalut
terlihat penuh oleh darah
Suhu
tubuh > 37,5 0 C
Terdapat
jahitan pada perineum dengan tanda-tanda infeksi yaitu kolor rubor
dolor dan fungisiolase
(
Persis H,1995: 286)
4. Risiko terjadinya
bendungan ASI
Dasar:
Bayi
dirawat terpisah dengan ibunya
Ibu
belum meneteki bayinya
Putting
susu terlihat kotor
Payudara teraba keras
dan tegang
(
Persis H, 1995:286)
5. Risiko terjadinya
retensio urine sehubungan dengan trauman persalinan
Dasar:
Post
partum dengan tindakan forceps ekstraksi
Ibu
tidak kencing spontan
Kandung
kencing penuh
( Persis H, 1995:282)
Tindakan segera merupakan tindakan berdasarkan beberapa data yang
mengidentifikasikan keadaan gawat darurat, dimana bidan harus
bertindak segera untuk keselamatan jiwa ibu dan janin. Tindakan
segera untuk perawatan kebidanan pada klien masa nifas dengan post
forceps ekstraksi indikasi eklamsi untuk mencegah terjadinya
komplikasi selama masa nifas adalah kolaborasi dengan tim medis untuk
melanjutkan terapi eklamsi.
DAFTAR PUSTAKA
Angsar M. Dikman, 1995, Hipertensi
Dalam Kehamilan, Lab/UPF Obstetri
dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAIR/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
________, 1994, Obstetri
Phantom, Fakultas Kedokteran
Airlangga, Surabaya
Bennet R. Brown Linda K, 1996, Myles Text Book For Mmidwives,
Chrurcchill Livingstone, Tokyo
Dennen C. Philip, 1994, Partus
Forceps, Binarupa Aksara, Jakarta
Hamilton PM, 1995, Dasar-Dasar
Keperawatan Maternitas, EGC,
Jakarta
Hariadi R, 1991, Obstetri
Williams, Airlangga University
Press, Surabaya
Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan
Keebidanan (Perawatan Nifas),
Bharata Niaga Media Jakarta
Long C Barbara, 1996, Perawatan
Medika Bedah, YIA Pendidikan
Keperawatan Pajajaran Bandung, Bandung
Manuaba, 1998, Ilmu
Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan
Bidan, Pengurus Ikatan Bidan
Indonesia, Jakarta
Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis
Obstetri, EGC, Jakarta
Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku
Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Santosa NI, 1995, Manajemen
Kebidanan, Pusat Pendidikan Tenaga
Kesehatan, Jakarta
Sastrawinata Sullaiman, 1983, Obstetri
Fisiologi, Offset, Bandung
Sastra, Sulaiman, 1983, Obstetri
Patologi, Elemen Banddung
Sweet BR, 1993, Mayes
Midwifery A Text Book For Midwive,
Bailiere Tindall, Tokyo
Wiknyosastro, H, 1991,
Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo, Jakarta
Wirjoatmojo. K, 1994, Pedoman
Diagnosis Dan Terapi, Lab/UPF
Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Dr. Soetomo, Surabaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar