Senin, 15 Juni 2009

penkes jiwa

MERAWAT KLIEN HALUSINASI

PENGERTIAN
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata. Misalnya klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara




PROSES TERJADINYA HALUSINASI
Halusinasi berkembang melalui empat fase yaitu :
1. Fase Pertama
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang meuncak dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
2. Fase Kedua
Kecemasan meningkat, melamun dan berfikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya.

3. Fase Ketiga
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.

4. Fase Keempat.
Halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dilingkungan.

TANDA-TANDA HALUSINASI:
Menarik diri, tersenyum sendiri, duduk terpaku, bicara sendiri, memandang satu arah, menyerang, tiba-tiba marah, gelisah.
JENIS HALUSINASI
1. Halusinasi dengar.
Mendengar suara membicarakan, mengejek, mentertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumber disekitar.

2. Halusinasi lihat.
Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapiu klien yakin ada.

3. Halusinasi penciuman.
Mengatakan mencium bau bunga, kemenyan dan lain-lain yang tidak dirasakan oleh orang lain dan tidak ada sumber.

4. Halusinasi Kecap.
Merasa mengecap sesuatu rasa dimulut, tetapi tidak ada.

5. Halusinasi Raba.
Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.




PERAN SERTA KELUARGA DALAM MERAWAT HALUSINASI:

1. Bantu Mengenal Halusinasi.
- Bina saling percaya.
- Diskusikan kapan muncul situasi yang menyebabkan (jika sendiri), isi dan frekwensi.

2. Meningkatkan Kontak Dengan Realita.
- Bicara tentang topik yang nyata tidak mengikuti halusinasi.
- Bicara dengan klien secara sering dan singkat.
- Buat jadwal kegiatan sehari-hari untuk menghindari kesendirian.
- Ajak bicara jika tampak klien sedang berhalusinasi.
- Diskusikan hasil observasi anda.







3. Bantu Menurunkan Kecemasan dan Ketakutan.
- Temani, cegah isolasi dan menarik diri.
- Terima halusinasi klien tanpa mendukung dan menyalahkan. Misalnya: “Saya percaya anda mendengar tetapi saya sendiri tidak dengar”.
- Beri kesempatan untuk mengungkapkan.
- Tetap hangat, empati, kalem dan lemah lembut.

4. Mencegah Klien Melukai Diri Sendiri dan Orang Lain.
- Lakukan perlindungan.
- Kontak yang sering secara personal.

5. Tingkatkan Harga diri.
- Identifikasi kemampuan klien dan beri kegiatan yang sesuai.
- Beri kesempatan sukses dan beri pujian atas kesuksesan klien.
- Dorong berespon pada situasi nyata.

CARA MERAWAT KLIEN DENGAN HALUSINASI









Oleh :
Subhan




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNAIR
SURABAYA
2003
PERAWATAN KLIEN
YANG MENGALAMI
GANGGUAN MENTAL

PENGERTIAN
Gangguan jiwa adalah kelainan perilaku yang terjadi akibat ketidak mampuan manusia menghadapi kondisi stress.

AKIBAT GANGGUAN JIWA
1. Tidak mampu mengurus diri sendiri.
2. Tidak mampu sosialisasi/bergaul.
3. Tidak mampu melakukan pekerjaan sehari-hari.
4. Tidak mampu mengatasi masalah yang dialami.
5. Tidak mampu memutuskan yang baik dan buruk.









PENYEBAB KAMBUH
1. Tidak memakan obat secara teratur.
2. Dosis obat tidak sesuai.
3. Keluarga banyak mengkritik.
4. Keluarga banyak mencampuri kehidupan pasien.
5. Sikap bermusuhan dari lingkungan.

FUNGSI KELUARGA
1. Keluarga tempat klien belajar dan mengembangkan diri.
2. Keluarga lingkungan yang dikenal.
3. Keluarga adalah orang-orang terdekat yang dapat membantu dan memperhatikan atau memotivasi klien.

PERAN KELUARGA
1. Mengenal adanya gangguan kesehatan anggota keluarga.
2. Memutuskan tiundakan tepat yang harus dilakukan pada keluarga yang sakit.
3. Merawat anggota keluarga.
4. Menciptakan lingkungan/suasana yang aman, nyaman dan sehat bagi anggota keluarga.
5. Menggunakan pelayanan kesehatan yang ada untuk menyembuhkan.

MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ADALAH TUGAS KELUARGA


CARA MERAWAT
1. Perhatikan semua kebutuihan klien berkomunikasi, makan, mandi, aktifitas sehari-hari.
2. Perhatikan hal-hal yang menimbulkan rasa sedih atau marah klien.
3. Tanggapi apa yang ingin dikemukakan atau disampaikan klien dengan penuh perhatian.
4. Motifasi dan latih klien untuk melakukan kebutuhannya secara mandiri secara bartahap.
5. Libatkan dalam kegiatan sehari-hari dirimah secara bertahap.
6. Ajak klien bicara bicara hal-hal; yang menarik bagi klien dan bersifat ringan seperti acara TV, berita di koran, dll.
7. Puji sesering mungkin bila klien melakukan yang baik.
8. Ajak berrgaul dan dampingi saat klien sedang interaksi dengan orang lain.
9. Memberikan obat sesuai dengan dosis/petunjuk dokter.
10. Perhatikan efak samping obat yang diberikan.


BERIKAN PERHATIAN DAN PUJI KLIEN BILA MELAKUKAN HAL YANG BAIK DAN BENAR


TANDA-TANDA KAMBUH
1. Tidak mau berhubungan dengan orang lain atau berdiam diri dan tidak melakukan kegiatan apa-apa.
2. Mengamuk atau merusak lingkungan.
3. Tidak memperlihatkan, memperdulikan penampilan diri, tidak mau makan.
4. Tidak mau minum obat.
5. Melakukan hal yang tidak teratur, tidak biasanya atau tidak ada tujuannya.


BILA KELUARGA MERASA TIDAK MAMPU MENANGANI, SEGERA BAWA KE PELAYANAN KESEHATAN






















PERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN MENTAL








Oleh :
RIZAL EL FATA




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UMS
2009




Bagaimana peran keluarga dapat menentukan kesembuhan pasien selama dirawat di rumah sakit ?
I. Peran keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa selama di rumah sakit
Alasan pentingnya keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa di rumah sakit, karena :
1. Keluarga paling banyak berhubungan dengan pasien.
2. Keluarga orang paling dekat dan paling mengetahui keadaan pasien.
3. Pasien nantinya akan kembali kelingkungan keluarga.
4. Keluarga pemberi perawatan utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar misalnya makan, minum, mandi, berpakaian, dll.
5. Orang dengan gangguan jiwa membutuhkan mengobatan yang cukup lama, sehingga perlu kerjasama dengan pihak keluarga sangatlah penting.



II. Hal-hal apa yang perlu diketahui keluarga dalam perawatan gangguan jiwa ?
1. Perilaku manusia
2. Perlu dukungan yang memadai dari keluarga & seluruh unsur masyarakat.
3. Bantu dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari, sesuai tahap kemandirian pasien
4. Pemberian peran yang sesuai dapat meningkatkan harga diri pasien.
5. Kembangkan kemampuan yang telah dimiliki pasien pada waktu lalu, misalnya olah raga, main musik, menggambar, dll.










III. Bagaimana caranya ?
1. Memenuhi kebutuhan sehari-hari, yaitu:
• Bantu & perhatikan pemenuhan kebutuhan makan dan minum.
• Kebersihan diri & penampilan
• Latih kegiatan sehari-hari, misalnya makan sendiri, cuci pakaian sendiri, membersihkan rumah.
2. Bantu komuniksai yang teratur
• Bicara yang jelas & singkat.
• Kontak/bicara yang teratur.
• Pertahankan tatap mata saat bicara.
• Sabar, lembut dan tidak terburu-buru.
• Lakukan sentuhan & belaian yang akrab.
• Berikan pujian bila melakukan hal yang benar atau baik.

3. Libatkan dalam kelompok
• Beri kesempatan nonton TV, baca koran, dengar musik.
• Sediakan peralatan pribadi, misalnya tempat tidur, lemari pakaian, dll
• Ikut sertakan dalam pertemuan keluarga secara teratur.
• Ikut sertakan dalam kegiatan pengobatan kelompok, misalnya permainan, dll
















Kata mutiara
Yang penting bukanlah apa yang terjadi atau apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana sikap kita dalam menghadapi kejadian itu















Oleh :
AKHMAD HARIYANTO
DAVID A. MANDALA
R. KHAIRIYATUL A.
RAHAYU B. UTAMI
RIDAWATI SULAEMAN
SISWANTO
SUBHAN


PERAN SERTA KELUARGA DALAM PENYEMBUHAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT



Oleh Mahasiswa
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
Fakultas ILMU KESEHATAN PROG. PROFESI NERS 2009
UMS






MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK USIA TODDLER (USIA 1 – 3 TAHUN)

MENGAPA ANAK PERLU DIASUH DAN DIBIMBING
 Karena mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
 Pertumbuhan adalah bertumbuhnya anak dari segi jasmani.
 Perkembangan ialah berkembangnya kepribadian anak






HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK
1. Faktor bawaan
Faktor bawaan adalah sifat yang dibawa anak sejak lahir :
 Ada anak yang penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, cerdas, bodoh, dll
 Keadaan fisik yang berbeda-beda, ada yang tinggi/pendek, ada yang berkulit hitam/putih, hidung mancung/pesek, dll

2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi suasana lingkungan dalam keluarga dan hal lain yang berpengaruh dalam perkembangan anak, seperti sarana dan prasarana yang tersedia, misalnya alat bermain, lapangan bermain atau televisi.










3. Faktor status nutrisi
 Kekurangan makanan yang bergizi akan menyebabkan retardasi pertumbuhan anak. Makan yang berlebihan juga tidak baik, karena dapat menyebabkan kegemukan.
 Pemberian makanan empat sehat lima sempurna pada anak toddler sangat dianjurkan karena anak pada usia ini sangat membutuhkan energi untuk aktivitasnya.








MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK USIA TODDLER (1 – 3 TAHUN)
1. Ciri dan tuntutan perkembangan
 Anak akan bergerak dan berbuat sesuatu sesuai dengan kemauannya sendiri
 Akan tertanam perasaan otonomi diri, yaitu rasa kemampuan mengatur badannya dan lingkungannya sendiri. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari
















2. Sikap orangtua
 Doronglah agar anak dapat bergerak bebas dan berlatih melakukan hal-hal yang diperkirakan mampu ia kerjakan, sehingga akan menumbuhkan rasa kemampuan diri.
 Usahakan agar anak mau bermain dengan anak lainnya.








 Banyaklah berbicara kepada anak dalam kalimat pendek yang mudah dimengerti
 Ajak anak ke taman, toko, kebun binatang, lapangan, atau tempat lainnya
 Bacakan buku cerita atau dongeng kepada anak setiap hari.
 Usahakan agar anak membereskan mainannya setelah bermain












 Latihlah anak dalam hal kebersihan diri, yaitu buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya, namun jangan terlalu ketat









 Latihlah anak untuk makan sendiri memakai sendok dan garpu, dan ajaklah ia makan bersama keluarga







 Berilah alat permainan yang sederhana, dan doronglah agar anak mau bermain balok-balok atau menggambar











 Jangan terlalu banyak memberikan larangan. Namun orangtua pun jangan terbiasa menuruti segala permintaan anak.

3. Gangguan / penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini
 Kesulitan makan, terutama bila ibu memaksa makan
 Suka mengadat (ngambek/tempertantrum)
 Tingkah laku kejam
 Tingkah laku menentang dan keras kepala
 Gangguan dalam berhubungan dengan orang lain yang diwarnai oleh sikap menyerang





PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK
SOSIALISASI & STIMULUS PERSEPSI


A. DESKRIPSI
Manusia adalah mahluk sosial yang terus menerus membutuhkan orang lain disekitarnya. Salah satu kebutuhannya adalah kebutuhan sosial untuk melakukan interaksi sesama manusia. Kebutuhan sosial yang dimaksud adalah rasa dimiliki oleh orang lain, pengakuan dari orang lain, penghargaaan orang lain, serta pernyataan diri. Interaksi yang dilakukan tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain.

Untuk mengatasi gangguan interaksi pada klien jiwa, therapi aktivitas kelompok sering diperlukan dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa karena merupakan keterampilan therapeutik. Therapi aktivitas kelompok merupakan bagian dari therapi modalitas yang berupaya meningkatkan psikotherapi dengan sejumlah klien dalam waktu yang bersamaan.

Ada dua tujuan umum dari terapi aktivitas kelompok ini yaitu tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif. Tujuan terapeutik meliputi : 1) Menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi, 2) Mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien), 3)Meningkatkan stimulus realitas dan respon individu, 4) Memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektif, 5) Meningkatkan rasa dimiliki, 6) Meningkatkan rasa percaya diri, 7)Belajar cara baru dalam menyelesaikan masalah.

Sedangkan tujuan rehabilitatif meliputi 1) Meningkatkan kemampuan untuk ekpresi diri, 2) Meningkatkan kemampuan empati, 3) Meningkatkan keterampilan sosial, 4) Meningkatkan pola penyelesaian masalah.

Beberapa aspek dari klien yang harus diperhatikan dalam penjaringan klien yang akan diberikan aktivitas kelompok adalah :
1. Aspek emosi
Gelisah, curiga, merasa tidak berguna, tidak dicintai, tidak dihargai, tidak diperhatikan, merasa disisihkan, merasa terpencil, klien merasakan takut dan cemas, menyendiri, menghindar dari orang lain
2. Aspek intelektual
Klien tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, jika ditanya klien menjawab seperlunya, jawaban klien sesuai dengan pertanyaan perawat
3. Aspek sosial
Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien mengatakan bersedia mengikuti therapi aktivitas, klien mau berinteraksi minimal dengan satu perawat lain ke satu klien lain

Therapi aktivitas kelompok sosialisasi dan stimulasi persepsi merupakan sebagian dari terapi aktifitas kelompok yang bisa dilaksanakan dalam praktek keperawatan jiwa. Terapi ini diharapkan dapat memacu klien untuk melakukan hubungan interpersonal yang adekuat dan mengidentifikasi secara benar stimulus persepsi eksternal.

B. MASALAH KEPERAWATAN
Therapi aktivitas kelompok sosialisasi & stimulasi persepsi ditujukan pada klien dengan masalah keperawatan :
1. Isolasi sosial : Menarik diri
2. Harga diri rendah
3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok dan memotivasi proses pikir dan afektif

2. Tujuan Khusus
- Klien mampu mengidentifikasi dan mengklasifikasi stimulus eksternal yang diberikan melalui gambar
- Klien mampu menyebutkan identitas dirinya
- Klien mampu menyebutkan identitas klien lain
- Klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
- Klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan
- Klien mampu menterjemahkan perintah sesuai dengan permainan
- Klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditetapkan
- Klien mampu mengemukakan pendapat mengenai therapi aktivitas kelompok yang dilakukan

D. PERSIAPAN
1. Analisa situasi meliputi : waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat, alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan
2. Uraian tugas perawat (therapist)
a. Leader dan Co-Leader bertugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk menetapkan tujuan dan membuat peraturan. Pemimpin dan anggota kelompok mendiskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok untuk berkembang dan bergerak secara dinamis
b. Fasilitator bertugas memberikan stimulus kepada anggota kelompok lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan dalam kelompok
c. Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas therapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai)
3. Proses Seleksi
a. Berdasarkan observasi prilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat
b. Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai prilaku klien sehari-hari serta kemungkinan dilakukan therapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan
c. Melakukan kontak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan
4. Program antisipasi masalah
Suatu intervensi keperawatan yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan kegiatan therapi aktivitas kelompok.

E. KEGIATAN
1. Perkenalan
Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh leader. Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.
2. Kegiatan
Klien mencari pasangan yang tepat, melakukan perkenalan dengan pasangan, melakukan perkenalan di depan kelompok, melakukan perintah permainan dan memberikan jawaban atas pertanyaan dari kelompok.
3. Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya tentang kegiatan
4. Terminasi/Penutup
Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan kembali tujuan dan manfaat kegiatan.

F. KRITERIA EVALUASI
Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang direncanakan :
- 80% klien mendapatkan pasangan yang tepat
- 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas dirinya
- 90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas klien lain
- 80% dari jumlah klien mampu bersepon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
- 80% dari jumlah klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan
- 70% dari jumlah klien mampu menterjemahkan perintah permainan
- 70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditentukan
- 50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang therapi aktifitas kelompok yang dilakukan

G. RENCANA PELAKSANAAN
1. Kriteria klien yang mengikuti terapi TAK di ruang Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
- Klien menarik diri yang sudah mulai berinteraksi dengan beberapa klien lain
- Klien halusinasi yang sudah dapat mengontrol halusinasinya
2. Peserta :

3. Masalah Keperawatan
- Menarik diri
- Harga diri rendah
- Halusinasi
4. Persiapan
a. Analisa Situasi
1). Waktu Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Selasa, 2 Oktober 2002
Waktu : Pk.08.00 – 10.00 WIB
Alokasi Waktu : Perkenalan dan pengarahan (5 menit)
Permainan (35 menit)
Ekpress feeling (15 menit)
Penutup (5 menit)
2). Jumlah Perawat
Mahasiswa PSIK : 6 Orang
Perawat Ruangan : 1 Orang

3). Pembagian Tugas
Leader : David A. Mandala
Co-Leader : Siswanto
Observer : Subhan
R. Khoiriatul
Fasilitator : Rahayu Budi Utami
Ridawati Sulaiman

4). Alat Bantu
Tape Recorder & Kaset
Gambar-gambar berpasangan
Kotak kecil
Balon dan kertas perintah
b. Proses Pelaksanaan
1). Perkenalan
- Kelompok perawat memperkenalkan diri, urutan ditunjuk oleh pembimbing untuk memulai menyebut nama, kemudian leader menjelaskan tujuan dan peraturan kegiatan dalam kelompok
- Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih dulu menunjukkan tangannnya
- Bila klien ingin keluar untuk minum, BAB/BAK harus minta ijin pada perawat
- Pada akhir perkenalan pemimpin mengevaluasi kemampuan identifikasi terhadap perawat dengan menanyakan nama perawat yang ditunjuk oleh leader
2). Permainan
- Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas dan duduk membentuk lingkaran
- Leader memberikan lembaran kertas yang bergambar pasangan dari alat-yang setiap hari digunakan : piring dengan sendok, sapu dengan tempat sampah, pensil dengan buku, sepatu dengan kaus kaki, meja dengan kursi, dan membagikan pada setiap peserta secara acak.
- Selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai dengan gambar yang dipegang. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : nama, alamat, hobby, yang disukai tentang dirinya, serta ketrampilan yang dimiliki.
- Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya.
- Kemudian co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama masing-masing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masing-masing pasangan meledakkan balon untuk mencari kegiatan yang dituliskan pada kertas didalam balon. Setelah kertas perintah dibaca, masing-masing pasangan melakukan kegiatan yang diminta.
- Setelah selesai, Leader, Co leader dan motifator memotivasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut, setelah klien menjawab pertanyaan perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi sehingga klien memiliki persepsi yang positip/baik tanpa dipengaruhi oleh perawat.
- Kemudian dilanjutkan dengan pasangan berikutnya dengan cara yang sama
- Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara .
3). Peer Review (Evaluasi Kelompok)
- Klien dapat mengemukakan perasaannya setelah memperkenalkan dirinya
- Klien mengemukakan perasaannya setelah disapa oleh klien lain dengan menyebut nama
- Klien mengemukakan pendapat tentang kegiatan ini
4).Terminasi
- Klien dapat menyebutkan kembali tujuan kegiatan
- Leader menjelaskan kembali tentang tujuan dan manfaat dari kegiatan kelompok ini
5. Antisipasi Masalah
a. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok
- Memanggil klien
- Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab sapaan perawat atau klien yang lain
b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :
- Panggil nama klien
- Tanya alasan klien meninggalkan permainan
- Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi

c. Bila ada klien lain ingin ikut
- Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien yang telah dipilih
- Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut
- Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi peran pada permainan tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Herawaty, Netty, Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok, FIK Jakarta 1999

Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, EGC, Jakarta 1995

PELAKSANAAN TAK

Tanggal : 9 Mei 1997 pukul 10.00- 11.00 .
Tempat : Ruang Perawatan Melati.
Jumlah peserta : 10 Orang dengan masalah GHS : Menarik diri.
Metode : Bermain dan bernyanyi bersama.

Pembagian tugas anggota : Leader : David A. Mandala.
: Co leader : Siswanto
: Motifator : Subhan.
: R. Khoiriatul.
: Rahayu Budi Utami.
: Observer : Ridawati Sulaiman.

Jalannya Acara :
1. FASE PERKENALAN.
Mengumpulkan anggota diruang Perawatan Melati.
Perawat melakukan kontrak ulang untuk mengikuti TAK, perawat berhasil mengumpulkan sepuluh orang klien sesuai dengan rencana semula.
Leader memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kegiatan TAK kepada klien kemudian co leader menjelaskan aturan permainan.

2. FASE KERJA
Leadermemberikan lembaran kertas yang bergambar pasangan dari alat-yang setiap hari digunakan : piring dengan sendok, sapu dengan tempat sampah, pensil dengan buku, sepatu dengan kaus kaki, meja dengan kursi, dan membagikan pada setiap peserta secara acak, selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai dengan gambar yang dipegang. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : Nama, alamat, hobby, yang disukai tentang dirinya, serta ketrampilan yang dimiliki. Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya. Kemudian co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama masing-masing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masing-masing pasangan harus menampilkan suatu ketrampilan didepa kelompok. Co leader menyiapkan gitar, dan masing-masing pasangan menyanyikan lagu dengan diiringi gitar. Setelah berhenti menyanyi Leader , Co leader dan motifator memotifasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut , setelah klien menjawab pertanyaan dan selesai bernyanyi perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi ,sehingga klien memiliki persepsi yang positip / baik tampa dipengaruhi oleh perawat. Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalanya acara .

3. FASE TERMINASI.
Melakukan sharing perasaan antara klien dan perawat tentang terapi aktifitas kelompok yang dilakukan.
Klien : Merasa senang karena tidak melamun ,dapat mengurangi setress, terjalin keakraban,tidak membosankan,mengisi waktu luang dan klien menanyakan kapan ada acara seperti ini lagi.?
Perawat : Merasa senang karena klien dapat kooperatif mengikuti kegiatan TAK. Merasa dibutuhkan oleh klien.
Melakukan evaluasi :
a. Proses
90 % klien berpartisipasi aktif.
90 % Klien dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang sesuai dengan Stimulus external.
90 % Klien mampu bekerja sama dalam kelompok.
100 %Klien mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai.
b. Hasil
90 % Klien mampu memperkenalkan diri /menyebutkan nama,alamt serta mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh klien lain.
80 % Klien mampu menyanyikan sebuah lagu.
50 % Klien mampu mengungkapkan manfaat kegiatan TAK.
Terakhir leader menyimpulkan manfaat seluruh kegiatan dan memotifasi kepada klien untuk melakukan kegiatan serupa/yang lain bersama klien lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar